Robert Walters: 60% Profesional Nilai Gaji Tak Sesuai Harapan

Survei Robert Walters 2026 ungkap ketidaksesuaian gaji dan ekspektasi jadi tantangan utama di pasar kerja Indonesia.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 13 April 2026, 18:00 WIB
Aktivitas pekerja saat jam pulang kantor di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (29/9/2022). Menurut Riza Patria, pencabutan status pandemi menjadi pandemi merupakan kewenangan pemerintah pusat. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta - Aktivitas pasar tenaga kerja di Indonesia kembali meningkat setelah periode Lebaran. Banyak profesional mulai aktif mencari peluang kerja baru, seiring tren pengunduran diri setelah menerima Tunjangan Hari Raya (THR).

Namun, hasil survei terbaru dari Robert Walters Indonesia Salary Survey 2026 menunjukkan bahwa ekspektasi kandidat belum sepenuhnya selaras dengan penawaran dari perusahaan.

Hampir 60% profesional menyatakan bahwa gaji dan tunjangan yang ditawarkan belum memenuhi harapan mereka. Selain itu, sekitar 44% responden menilai stabilitas perusahaan dan industri sebagai faktor utama dalam mempertimbangkan pekerjaan baru.

Meski peluang kerja semakin terbuka, mendapatkan posisi yang sesuai ternyata tidak menjadi lebih mudah. Banyak kandidat masih menghadapi tantangan dalam menyesuaikan ekspektasi gaji dengan kondisi pasar.

Country Head Indonesia & Vietnam Robert Walters, Eric Mary, mengatakan, pasar bukan kekurangan peluang, melainkan keselarasan. Kandidat semakin spesifik terhadap apa yang mereka inginkan, sementara perusahaan juga semakin selektif dalam proses rekrutmen.

"Hal ini membuat proses perekrutan menjadi lebih panjang dan ketidaksesuaian lebih sering terjadi," jelas dia dalam keterangan tertulis, Senin (13/4/2026).

 

Rekrutmen Makin Selektif dan Kompetitif

Suasana jam pulang kerja di jalur pedestrian kawasan Sudirman, Jakarta, Senin (22/6/2020). Pemprov DKI Jakarta mulai menerapkan perubahan sif kerja dengan waktu jeda tiga jam, yaitu pukul 07.00-16.00 pada sif pertama dan pukul 10.00-19.00 pada sif kedua. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Peningkatan aktivitas pasar kerja tidak selalu diikuti dengan proses rekrutmen yang lebih cepat. Justru, baik kandidat maupun perusahaan kini menghadapi proses pencarian yang lebih selektif dan kompleks.

Hal ini terjadi karena jumlah kandidat yang meningkat pasca tren resign setelah THR, sementara perusahaan semakin berhati-hati dalam memilih talenta.

Di sisi lain, perubahan perilaku pencari kerja juga turut memengaruhi dinamika pasar. Banyak kandidat kini memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mencari dan melamar pekerjaan dalam jumlah besar.

Secara global, laporan Robert Walters Talent Trends 2026 mencatat sekitar 56% profesional telah menggunakan AI dalam proses melamar kerja.

Kondisi ini membuat jumlah lamaran meningkat tajam, sehingga perusahaan perlu lebih cermat dalam menyaring kandidat yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan.

Kandidat dan Perusahaan Perlu Lebih Strategis

Pegawai pulang kerja berjalan di trotoar Jalan Sudirman, Jakarta, Selasa (12/5/2020). Pemerintah memberi kelonggaran bergerak bagi warga berusia di bawah 45 tahun untuk mengurangi angka pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat pandemi virus corona COVID-19. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Associate Director Robert Walters Indonesia, Michelle Tanjung, menilai baik kandidat maupun perusahaan perlu mengubah strategi dalam menghadapi kondisi ini.

“Dalam situasi ini, baik kandidat maupun perusahaan perlu lebih strategis. Kandidat perlu lebih selektif dalam melamar dan mampu mengomunikasikan nilai mereka dengan jelas, sementara perusahaan perlu memastikan kejelasan ekspektasi peran serta menerapkan proses seleksi yang lebih terstruktur,” ujarnya.

Ke depan, aktivitas pasar kerja diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa bulan setelah Lebaran. Namun, tantangan dalam menemukan kecocokan antara kandidat dan perusahaan juga akan semakin kompleks.

Keselarasan antara ekspektasi gaji, nilai pekerjaan, dan stabilitas jangka panjang akan menjadi kunci utama dalam menentukan keberhasilan proses rekrutmen di masa mendatang.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya