Harga Minyak Dunia Bergejolak, Gagalnya Kesepakatan AS-Iran Picu Lonjakan

Harga minyak dunia diprediksi melonjak usai kesepakatan AS-Iran gagal. Ketidakpastian sikap Donald Trump di Selat Hormuz jadi pemicu utama risiko pasar energi.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 13 April 2026, 14:50 WIB
Ilustrasi Harga Minyak Dunia Hari Ini. Foto: AFP

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia diproyeksikan kembali menguat setelah kegagalan kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu lonjakan risiko geopolitik, terutama di kawasan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi global.

Pengamat komoditas Wahyu Laksono menilai, kondisi ini sebenarnya sudah diantisipasi pasar. Menurutnya, faktor utama yang terus membayangi adalah ketidakpastian sikap Presiden AS Donald Trump yang dinilai sulit diprediksi.

“Sudah sangat diantisipasi. Trump masih belum bisa dipercaya, dan dia masih bisa melakukan komentar apapun yang berpotensi mengguncang pasar,” ujar Wahyu kepada Liputan6.com, Senin (13/4/2026).

Ia menjelaskan, pola komunikasi Trump yang kerap muncul di luar jam perdagangan utama justru memperbesar tekanan psikologis pasar, terutama ketika dikaitkan dengan isu konflik geopolitik.

“Biasanya Trump memang melakukan komentar yang cenderung memicu sentimen negatif saat pasar Wall Street ditutup, sehingga efeknya terasa lebih besar saat pasar dibuka kembali,” katanya.

 

Harga Minyak Sempat Turun

Ilustrasi harga minyak dunia hari ini (Foto By AI)

Sebelumnya, harga minyak sempat terkoreksi tajam setelah kabar gencatan senjata memicu pelepasan premi risiko perang (unwinding of war premium). Namun, kondisi tersebut tidak bertahan lama seiring meningkatnya kembali ketegangan di Timur Tengah.

“Tanpa isu blokade pun minyak masih rentan kenaikan, apalagi sekarang ada eskalasi di Selat Hormuz yang membuat pasar kembali memasukkan premi risiko yang besar,” jelasnya.

Dalam pergerakannya, harga minyak jenis WTI sempat turun ke kisaran USD 96 per barel dan Brent ke USD 94, sebelum kembali melonjak ke atas USD 100 akibat meningkatnya konflik dan ancaman gangguan pasokan global.

Dengan ketidakpastian yang masih tinggi dan potensi eskalasi lanjutan, pasar minyak saat ini bergerak dalam volatilitas ekstrem, di mana faktor geopolitik menjadi penentu utama arah harga dalam jangka pendek.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya