Liputan6.com, Jakarta - Anthony Scaramucci, pendiri SkyBridge Capital, membuat prediksi tegas mengenai masa depan keuangan korporasi. Ia meyakini bahwa ke depan, setiap perusahaan akan menyimpan Bitcoin di dalam neraca keuangannya.
Dikutip dari COinmarketcap, Senin (13/4/2026), pernyataan ini muncul setelah terungkapnya kepemilikan kripto dalam jumlah besar oleh SpaceX milik Elon Musk. Perusahaan tersebut diketahui memiliki 8.285 Bitcoin dengan nilai sekitar USD 603 juta.
Advertisement
Menariknya, SpaceX tetap mempertahankan aset tersebut meski sebelumnya melaporkan kerugian hingga USD 5 miliar terkait akuisisi xAI. Hal ini menunjukkan bahwa Bitcoin mulai dipandang sebagai aset strategis, bukan sekadar instrumen spekulatif.
Scaramucci bahkan menegaskan bahwa perusahaannya akan mengikuti langkah serupa. Ia menilai, adopsi Bitcoin oleh perusahaan di berbagai sektor hanya tinggal menunggu waktu.
Tren ini menandai perubahan besar dalam manajemen kas perusahaan. Jika sebelumnya perusahaan mengandalkan uang tunai atau obligasi pemerintah, kini Bitcoin mulai dilirik sebagai alternatif aset cadangan.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Strategi SpaceX dan Tren Adopsi Bitcoin
Menurut laporan CoinDesk, kepemilikan Bitcoin oleh SpaceX relatif stabil sejak pertengahan 2024. Hal ini mengindikasikan strategi jangka panjang, bukan sekadar trading jangka pendek.
Bahkan, saat harga Bitcoin mencapai puncaknya pada Oktober 2025, nilai kepemilikan SpaceX sempat melampaui USD 1,6 miliar. Fakta ini memperkuat pandangan bahwa Bitcoin memiliki potensi sebagai penyimpan nilai.
Pendekatan Elon Musk terhadap Bitcoin dinilai berbeda dari investor pada umumnya. Ia disebut menjadikan kripto sebagai bagian inti dari strategi keuangan perusahaan.
Langkah ini sejalan dengan strategi MicroStrategy yang dipimpin Michael Saylor. Perusahaan tersebut diketahui memegang lebih dari 200.000 Bitcoin.
Selain itu, sejumlah perusahaan besar lain juga mulai mengadopsi Bitcoin, di antaranya:
- Tesla
- Block Inc.
Adopsi Bitcoin oleh korporasi umumnya mengikuti pola yang jelas. Perusahaan teknologi menjadi pelopor, diikuti sektor keuangan, lalu perusahaan tradisional.
Fenomena ini mirip dengan adopsi teknologi sebelumnya seperti cloud computing dan e-commerce.
Alasan dan Dampak Adopsi Bitcoin oleh Perusahaan
Para ahli keuangan menilai ada beberapa alasan utama di balik meningkatnya minat perusahaan terhadap Bitcoin.
Pertama, diversifikasi aset. Bitcoin memiliki korelasi rendah dengan saham atau obligasi, sehingga dapat membantu menekan risiko portofolio.
Kedua, Bitcoin dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Berbeda dengan mata uang fiat yang bisa dicetak tanpa batas, Bitcoin memiliki suplai terbatas.
Ketiga, infrastruktur pendukung kini semakin matang. Layanan kustodian dari perusahaan seperti Coinbase dan Fidelity membuat penyimpanan aset digital menjadi lebih aman.
Selain itu, regulasi juga semakin jelas. Persetujuan ETF Bitcoin spot oleh Securities and Exchange Commission pada 2024 membuka akses investasi yang lebih luas.
Di berbagai negara, regulasi kripto juga mulai berkembang, seperti di Uni Eropa, Jepang, dan Singapura. Meski demikian, perbedaan aturan antarnegara masih menjadi tantangan bagi perusahaan global.
Namun secara keseluruhan, penerimaan institusi terhadap Bitcoin terus meningkat. Perusahaan akuntansi, asuransi, hingga bank investasi kini mulai menyediakan layanan terkait kripto.
Dengan perkembangan tersebut, prediksi Scaramucci bahwa Bitcoin akan menjadi bagian dari neraca semua perusahaan tampaknya semakin mendekati kenyataan.