Sentimen Inflasi dan Ketidakpastian di Selat Hormuz Bayangi Pasar Keuangan Global

Pasar dinilai sedikit lega terhadap kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, inflasi masih jadi perhatian.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 13 April 2026, 06:30 WIB
Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran menjadi katalis postitif pada pekan lalu tetapi pelaku pasar masih khawatir inflasi. (AP/Jon Gambrell)

Liputan6.com, Jakarta - Pekan ini pasar merasa lega seiring perang di Iran mungkin akan selesai secara bertahap. Hal ini seiring pengumuman gencatan senjata selama dua pekan. Namun, pasar tidak bereaksi berlebihan karena Selat Hormuz sebagian besar masih tertutup dan rincian pembicaraan damai masih perlu dibahas. Serangan terus berlanjut meski ada pengumuman gencatan senjata karena pasar melihat kerapuhan gencatan senjata sementara ini.

Mengutip riset Ashmore Asset Management Indonesia, setelah pengumuman gencatan senjata, pasar dengan cepat bereaksi positif. Harga minyak WTI turun tajam dari USD 115 menjadi di bawah USD 95, tetapi sejak itu mengalami pergerakan naik perlahan di mana harga terbaru mendekati level USD 100.

Selain itu, hal terpenting yakni harga minyak tetap jauh di atas level sebelum perang karena Selat Hormuz masih efektif tertutup. Faktor pendorong utama yang menjaga harga minyak tetap tinggi termasuk biaya pengiriman dan asuransi yang tetap tinggi karena konflik yang sedang berlangsung. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tetap sangat sensitif terhadap perkembangan perang Iran karena eskalasi dan dampak biaya energi yang lebih tinggi dalam jangka panjang masih sangat tidak pasti. Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun tetap sekitar 4,3% dan imbal hasil 2 tahun sekitar 3,8%.

"Secara keseluruhan, pasar telah merasakan sedikit kelegaan ketika kedua pihak menyatakan kesediaan untuk gencatan senjata, tetapi belum menghilangkan kekhawatiran pasar tentang inflasi dan ketidakpastian operasional di Selat Hormuz,”

 

Sentimen Dalam Negeri

Pekerja bercengkerama di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Rabu (16/5). IHSG ditutup naik 3,34 poin atau 0,05 persen ke 5.841,46. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Di dalam negeri, Rupiah melemah ke level 17.000, tetapi Bank Indonesia terus melakukan intervensi untuk mendukung mata uang tersebut, karena sikapnya tetap lebih menekankan pada stabilitas terlebih dahulu, kemudian mendukung pertumbuhan.

Selain itu, reformasi untuk meningkatkan kredibilitas pasar modal terus didorong, di mana hasil utama yang telah dirilis termasuk transparansi yang lebih baik tentang kepemilikan saham dan konsentrasi pemegang saham, di antara hal-hal lainnya. Namun, pasar masih menunggu sikap resmi dari penyedia indeks global terkait upaya dan arah yang sedang berlangsung.

Secara keseluruhan, volatilitas masih tinggi di pasar global, di mana selera risiko untuk minggu berikutnya akan dipengaruhi oleh perkembangan perundingan perdamaian yang direncanakan di Pakistan. Poin-poin penting yang perlu diperhatikan adalah aktivitasatau tanda-tanda normalisasi di Selat Hormuz, serta sikap yang diadopsi masing-masing pihak selama dan setelah perundingan perdamaian yang dijadwalkan.

“Meskipun kami berharap, sebelum ada kejelasan yang lebih baik tentang situasi dan perkembangan, pasar kemungkinan akan tetap bergejolak dan berhati-hati. Dalam lingkungan saat ini, kami masih lebih memilih untuk mempertahankan diversifikasi dan tetap berinvestasi dalam aset yang likuid dan berkualitas tinggi.” Demikian seperti dikutip

Kinerja IHSG 6-10 April 2026

Pekerja tengah melintas di bawah layar Indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Selasa (16/5/2023). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

 Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat pada perdagangan 6-10 April 2026. Analis menilai IHSG sepekan ini dipicu sentimen global terutama gencatan senjatara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (11/4/2026), IHSG sepekan meroket 6,14% dan ditutup ke level 7.458,49. Pada pekan lalu, IHSG melemah 0,99% ke level 7.026,78.

Kapitalisasi pasar BEI juga naik 7,18% menjadi Rp 13.189 triliun dari pekan lalu sebesar Rp 12.305 triliun.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksano menuturkan, selama sepekan ini, IHSG bergerak menguat 6,14% dan masih didominasi oleh volume pembelian yang cenderung meningkat. Penguatan IHSG juga mampu menembus moving average (MA)-200 hariannya.

“Dari sisi sentimen kami mencermati adanya gencatan senjata antara AS dan Iran, serta pembukaan kembali Selat Hormuz menurunkan kekhawatiran investor akan konflik di Timur Tengah, di mana hal tersebut juga menurunkan harga minyak dunia,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.

Ia mengatakan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga masih melemah. “Kami perkirakan hal ini disebabkan oleh risiko inflasi dan fiskal domestik yang masih membayangi, Bank Dunia juga menurunkan pertumbuhan ekonomi domestik ke 4,7% (vs 4,8% karena hal tersebut,” ujar dia.

Di sisi lain, peningkatan tertinggi terjadi pada rata-rata volume transaksi harian BEI yang naik 24,81% menjadi 32,28 milair saham dari 25,87 miliar saham pada pekan sebelumnya.

Peningkatan juga terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian, yang mengaut 17,26% menjadi Rp 17,32 triliun dari Rp 14,77 triliun pada pekan lalu. Rata-rata frekuensi transaksi harian juga meningkat 15,05% menjadi 2,05 juta kali transaksi dari 1,78 juta kali transaksi pada pekan lalu.

Pada pekan ini, investor asing juga masih mencatat aksi jual saham.Selama sepekan, investor asing melepas saham Rp 3,31 triliun. Sepanjang 2026, investor asing mencatatkan nilai jual bersih Rp 37,14 triliun.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya