Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan tren kasus campak terus menurun. Meski begitu, bila ada satu kasus campak di sekolah tak bisa dianggap sepele.
Plt Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dokter Andi Saguni mengatakan bahwa campak merupakan penyakit yang dengan tingkat penularan tinggi. Satu orang terinfeksi campak maka mampu menularkan ke 12-18 orang.
Advertisement
"Artinya, ketika ada satu anak kena campak, maka kemampuan menularkan bisa ke 12-18 orang," kata Andi dalam konferensi pers update campak secara daring pada Jumat, 10 April 2026.
Maka dari itu, Andi meminta orangtua untuk selalu mengecek kondisi kesehatan anak. Bila anak mengalami demam, batuk, pilek, dan mata merah, berair dan sensitif terhadap cahaya sebaiknya tidak ke sekolah dulu.
"Tidak perlu ke sekolah tapi dibawa ke faskes, pastikan kalau anak sudah sembuh baru ikut proses belajar di sekolah. Kenapa demikian? Ini karena penularan campak sangat tinggi," kata Andi.
Ketika ada siswa yang positif campak, Andi mengingatkan peran guru untuk mengecek kondisi siswa lain. Cek jika ada siswa yang mengalami gejala mengarah campak yakni 3 C, gejala yang muncul 2-3 hari sebelum ruam muncul, Cough (batuk kering), Coryza (pilek/hidung beringus), dan Conjunctivitis (mata merah, berair, dan sensitif cahaya).
"Itu diwaspadai, sebaiknya murid tersebut dibawa ke fasilitas kesehatan untuk didiagnosis untuk diobati. Tidak perlu sekolah dulu," katanya."Yang penting, memastikan yang terkena campak di rumah saja, nanti saat sembuh baru sekolah," pesan Andi.
Sekolah Koordinasi dengan Puskesmas
Lalu, ketika ada siswa yang sudah terkena campak, penting bagi sekolah untuk berkomunikasi ke puskesmas.
"Itu segera dilakukan surveilans epidemiologi, untuk mengetahui apakah murid lain terkena gejala campak. Lalu, teman sekelas diamati," kata Andi.
Jika memang jumlah kasus campak meninggi maka ada prosedur catch-up campak untuk anak-anak di wilayah tersebut dilakukan imunisasi. "Jika kasus sangat tinggi dilakukan Outbreak Response Immunization (ORI)," katanya.
Update Kasus Campak di Tanah Air
Situasi kasus campak di Indonesia mengalami penurunan dari minggu pertama hingga minggu ke-13 2026.
“Jika kita lihat pada minggu pertama, jumlah kasus campak 2.220 dan kita bandingkan pada minggu ke-13, itu sudah tinggal 195 kasus campak. Jadi, kita bisa lihat di sini bahwa bagaimana penurunan dari minggu per minggu,” kata Andi.
Penurunan kasus campak juga terlihat di 14 provinsi yang awalnya dilaporkan dengan kasus tertinggi.
“Kita bisa lihat di Aceh, pada minggu terakhir, minggu ke-13, sudah sangat sedikit kasusnya. Kemudian, Sumatera Utara juga sudah mengalami penurunan. Kemudian, Provinsi Sumatera Barat, yang mana pada akhir tahun 2025 dan kemudian di awal tahun 2026, kita bisa lihat di sini kasusnya tinggi, tetapi sampai dengan minggu ke-13 sudah terjadi penurunan,” jelas Andi.
Begitu pula di Provinsi Sumatera Selatan, kasus campak kian turun. Hal serupa juga terjadi di Jakarta dan Jawa Barat yang melaporkan kasus tinggi di awal tahun tapi di minggu ke-13 sudah mengalami penurunan.
Penurunan kasus beriringan dengan peningkatan upaya Outbreak Response Immunization alias ORI.
“Sampai tanggal kemarin, 9 April, kita bisa lihat di sini. Bagaimana kita betul-betul mendorong pelaksanaan Outbreak Response Immunization. Dan pada minggu terakhir, kita lihat ORI-nya itu semakin meningkat.”