Vitamin dan Suplemen, Dokter Jelaskan Perbedaan dan Cara Konsumsinya

Vitamin beda dengan suplemen, simak cara dan waktu mengonsumsinya.

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 08 April 2026, 12:00 WIB
Vitamin dan Suplemen, Dokter Jelaskan Perbedaan dan Cara Konsumsinya. Foto: Liputan6.com/Ade Nasihudin.

Liputan6.com, Jakarta - Sebagian orang kerap menyamakan istilah vitamin dan suplemen. Padahal, menurut dokter spesialis gizi klinik, Kurnia Sitompul, vitamin berbeda dengan suplemen.

Vitamin pada dasarnya adalah gizi mikro yang tubuh butuhkan setiap hari dan tersedia secara alami dari makanan yang dikonsumsi, seperti karbohidrat, protein, dan lemak.

“Suplemen itu berbeda. Suplemen adalah sesuatu yang kita konsumsi dari luar untuk melengkapi asupan nutrisi. Isinya bisa berupa vitamin, mineral, atau nutrien spesifik lainnya seperti temulawak (kurkuma),” jelas dokter dari Rumah Sakit Universitas Airlangga (RS UNAIR), mengutip laman UNAIR, Selasa (7/4/2026).

Ia menegaskan bahwa suplemen bersifat tambahan jika makanan harian belum mampu mencukupi kebutuhan tubuh.

Kurnia mengingatkan, kebutuhan vitamin setiap orang bersifat sangat personal (personalized). Faktor usia, jenis kelamin, kondisi medis, hingga perbedaan genetik sangat menentukan berapa dosis yang seseorang butuhkan. Pengabaian terhadap dosis aman dapat memicu efek samping yang serius dalam jangka panjang.

Sebagai contoh, Kurnia menyebutkan batas aman tertinggi vitamin C berada di kisaran 1800–2000 mg, sedangkan vitamin D sebaiknya tidak melebihi 10.000 IU.

“Jika kelebihan vitamin D dikonsumsi dalam waktu lama, bisa terjadi penumpukan kalsium di dalam tubuh. Begitu juga vitamin E, dosis besar jangka panjang bisa berhubungan dengan pengenceran darah,” tambahnya.

Waktu Konsumsi Vitamin yang Baik

Selain vitamin, masyarakat juga kerap mengonsumsi minyak ikan (Omega-3). Menurut Kurnia, minyak ikan merupakan lemak yang justru penyerapannya akan lebih optimal jika mengkonsumsinya bersama vitamin larut lemak seperti vitamin D.

Dia menjelaskan, konsumsi minyak ikan terbilang aman dan waktu konsumsi menjadi kunci efektivitas penyerapan nutrisi. Kurnia memberikan panduan praktis yakni: vitamin larut lemak (A, D, E, K) sebaiknya dikonsumsi setelah makan besar. Sementara konsumsi vitamin larut air (B dan C) bisa saat perut kosong, kecuali jika muncul keluhan pada saluran cerna.

“Khusus vitamin B, sebaiknya dikonsumsi di pagi hari karena berhubungan dengan metabolisme energi. Jika diminum malam hari, energinya bisa berlebih dan mengganggu kualitas tidur,” tutur Kurnia.

Dalam memilih produk, ia mengimbau masyarakat untuk cermat membaca label Angka Kecukupan Gizi (AKG). Jika label menunjukkan 100 persen, maka dosis tersebut sudah mencukupi kebutuhan harian. Hindari dosis ekstrem misal 500 persen–1000 persen tanpa saran medis, pastikan produk terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta perhatikan kandungan tambahan bagi mereka yang memiliki intoleransi gluten atau laktosa.

Kurnia menekankan pentingnya memahami batasan dan aturan main dalam mengonsumsi nutrisi mikro agar tidak menjadi bumerang bagi kesehatan. Ketidaktahuan akan dosis dan waktu konsumsi justru berisiko menimbulkan efek samping yang merugikan kesehatan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya