Liputan6.com, Baghdad - Tanggal 9 April 2003 menjadi salah satu momen paling ikonik dalam sejarah modern, ketika rezim Saddam Hussein di Baghdad secara de facto runtuh seiring masuknya pasukan Amerika Serikat ke pusat ibu kota Irak.
Hari itu, tank-tank militer AS bergerak menuju jantung kota, menandai berakhirnya kekuasaan Saddam setelah invasi yang dipimpin Washington. Di salah satu titik paling terkenal, Firdos Square, sekelompok warga Irak berkumpul dan berusaha merobohkan patung besar Saddam—sebuah simbol kuat rezim yang telah berkuasa selama puluhan tahun.
Advertisement
Aksi tersebut awalnya dilakukan secara spontan oleh warga. Mereka memukul alas patung dengan palu godam, memanjatnya, dan mencoba mengikatkan tali di bagian leher. Namun upaya itu tidak berhasil hingga akhirnya pasukan AS turun tangan menggunakan kendaraan lapis baja untuk menarik patung tersebut hingga roboh.
Peristiwa itu disiarkan secara langsung ke seluruh dunia, dengan latar Palestine Hotel—yang saat itu menjadi basis para jurnalis internasional—tepat di seberang lokasi kejadian, dikutip dari laman BBC, Kamis (9/4/2026).
Sebelum patung tersebut dijatuhkan, sempat terjadi momen kontroversial ketika seorang tentara AS menutupi wajah patung dengan bendera Amerika. Tindakan itu menuai penolakan dari kerumunan warga Irak, yang menganggapnya sebagai simbol dominasi asing. Bendera tersebut kemudian segera diturunkan dan diganti dengan bendera Irak lama, yang disambut sorak sorai.
Ketika patung akhirnya tumbang, kerumunan langsung menyerbu. Mereka melompat, menendang, dan memukul patung tersebut, bahkan menyeret bagian kepalanya di jalan sebagai bentuk simbolis penghinaan terhadap sosok yang selama ini dianggap represif.
Tak lama kemudian, aksi serupa menyebar ke berbagai penjuru Baghdad. Ratusan patung dan gambar Saddam dihancurkan oleh warga sebagai ekspresi runtuhnya kekuasaan rezim.
Meski demikian, militer AS menegaskan bahwa operasi belum sepenuhnya berakhir. Juru bicara Komando Pusat AS saat itu, Brigadir Jenderal Vincent Brooks, menyatakan bahwa sebagian besar wilayah Irak telah “dibebaskan dari penindasan”, namun operasi militer tetap berlanjut untuk memastikan stabilitas.
Peristiwa di Firdos Square kemudian dikenang sebagai simbol jatuhnya rezim Saddam Hussein—sebuah momen yang menandai babak baru bagi Irak, sekaligus awal dari dinamika panjang pascaperang di kawasan tersebut.