Setengah dari Anak Down Syndrome Berisiko Kelainan Jantung Bawaan, Skrining Penting

Ketua PP IDAI sarankan orangtua dari anak dengan down syndrome melakukan skrining echocardiography untuk mengetahui ada tidaknya kelainan jantung bawaan.

oleh Tim DisabilitasDiterbitkan 07 April 2026, 12:40 WIB
Down Syndrome (Foto: Unsplash/Pavol Stugel)

Liputan6.com, Jakarta - Anak dengan down syndrome memiliki risiko kesehatan yang perlu mendapat perhatian sejak dini. Salah satunya adalah kelainan jantung bawaan.

Maka itu, penting adanya layanan skrining jantung bagi anak-anak dengan disabilitas seperti disampaikan Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dokter Piprim Basarah Yanuarso.

"Sekitar setengah anak down syndrome itu punya kelainan jantung bawaan, jadi justru perlu skrining," kata pria yang memiliki latar belakang subspesialisasi jantung anak ini.

Salah satu upaya IDAI untuk mendekatkan akses pemeriksaan jantung dengan mengadakan layanan skrining echocardiography gratis. Terlebih biaya pemeriksaan jantung tidak murah.

"Kalau bayar sendiri bisa di atas Rp 1 juta, sementara kalau BPJS juga antreannya panjang," kata Piprim dalam kegiatan skrining jantung yang digelar oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) di Jakarta, Senin, 6 April 2026 mengutip Antara.

Jenis Kelainan Jantung Bawaan pada Anak Down Syndrome

Mengutip laman Kemenkes, penyakit jantung bawaan atau kelainan anatomi jantung pada pasien sindrom down bisa bervariasi. Mulai dari defek septum atrioventrikular/Atrioventricullar Septal Defect (AVSD) yang juga disebut defek kanal atrioventrikular.

Lalu, ada defek septum atrium/Atrial Septal Defect (ASD), defek septum ventrikel/Ventricullar Setal Defect (VSD), hingga Penyakit Jantung Bawaan Biru seperti Tetralogy of Fallot (TOF).

Walaupun penderita sindrom down lahir tanpa penyakit jantung bawaan tapi tetap dapat mengalami kelainan anatomi jantung. Apabila kelainan-kelainan tersebut tidak di tatalaksana dengan adekuat,maka dapat menimbulkan komplikasi kardiovaskular seperti hipertensi pulmonal dan gangguan irama jantung. Maka deteksi dini penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya