Arsenal Terancam Akhiri Musim Tanpa Trofi, Masalah Mental Jadi Sorotan

Frank Leboeuf meragukan kesiapan mental Arsenal jelang akhir musim. Ia menilai The Gunners berisiko gagal meraih trofi musim ini.

oleh Aga Deta AndityaDiterbitkan 06 April 2026, 17:01 WIB
Mikel Arteta memberikan instruksi pada skuad Arsenal di laga lawan Manchester City di pekan kelima Liga Inggris 2025/26 di Emirates Stadium, Minggu (21/09/2025). (AP Photo/Kin Cheung)

Liputan6.com, Jakarta - Frank Leboeuf menilai Arsenal berada dalam situasi mengkhawatirkan menjelang akhir musim. Ia menyoroti potensi The Gunners gagal meraih trofi akibat masalah mental.

Harapan Arsenal untuk mengakhiri puasa gelar selama enam tahun semakin menipis. Dua kekalahan beruntun membuat peluang mereka di kompetisi domestik menguap.

Kekalahan di final Carabao Cup menjadi pukulan besar bagi tim asuhan Mikel Arteta. Situasi semakin memburuk setelah hasil negatif saat menghadapi Southampton di FA Cup.

Arsenal kini harus segera bangkit untuk menjaga peluang di kompetisi lain. Mereka masih memiliki agenda penting di Liga Champions dan Liga Inggris.


Leboeuf Soroti Kelemahan Mental Arsenal

Kini, Arsenal hanya berpeluang untuk menambah trofi dari Liga Champions dan Liga Inggris. (AFP/Glyn Kirk)

Leboeuf melihat adanya tanda-tanda kelemahan mental dalam skuad Arsenal. Ia menilai tim tersebut tidak menunjukkan kekuatan karakter saat dibutuhkan.

Menurutnya, Arsenal seharusnya mampu mengalahkan tim seperti Southampton. Namun, hasil yang terjadi justru menunjukkan inkonsistensi performa.

"Arsenal mungkin adalah tim terbaik di dunia, tetapi Anda harus menunjukkan kekuatan itu dan menang melawan Southampton," ujar Leboeuf kepada ESPN FC.

"Itu sangat disayangkan karena mereka tidak mampu membuktikan kualitas mereka di pertandingan tersebut," lanjut Leboeuf.


Bandingkan dengan Generasi Lama

Ekspresi skuad Arsenal termasuk Kepa Arrizabalaga dalam laga versus Southampton di FA Cup 2025/2026, Minggu (5/4/2026). (AP Photo/Dave Shopland)

Leboeuf membandingkan Arsenal saat ini dengan generasi sebelumnya yang dinilai lebih tangguh. Ia menilai tim era dulu memiliki mentalitas juara yang lebih kuat.

Nama-nama seperti Patrick Vieira dan Ian Wright disebut sebagai contoh pemain dengan karakter kuat. Hal itu dinilai menjadi pembeda dengan kondisi tim saat ini.

"Saya membayangkan saat bermain melawan Arsenal yang diperkuat Vieira, Petit, Ian Wright, dan Tony Adams, hal seperti ini tidak akan terjadi," kata Leboeuf.

"Secara mental mereka jauh lebih kuat dan selalu mampu menyelesaikan pekerjaan mereka hingga tuntas," tambah Leboeuf.


Keputusan dan Mentalitas Dipertanyakan

Manajer Arsenal, Mikel Arteta, berdiri di tepi lapangan saat pertandingan Liga Inggris melawan Manchester United di Emirates Stadium, Minggu (25/1/2026). (AP Photo/Kirsty Wigglesworth)

Leboeuf juga menyoroti keputusan yang diambil oleh pelatih dan pemain di lapangan. Ia menilai ada banyak keputusan yang tidak tepat dalam situasi krusial.

Selain itu, ia melihat para pemain mulai kehilangan kepercayaan diri saat memasuki fase akhir musim. Hal tersebut membuat performa tim menjadi tidak stabil.

"Secara mental mereka terlihat sangat rapuh dan dari sisi pelatih juga tidak membuat keputusan yang tepat," ujar Leboeuf.

“Namun para pemain di lapangan tidak menjalankan tugasnya dan mulai terlihat sangat goyah karena kami sudah memasuki fase akhir musim.

"Anda bisa merasakan mereka belum siap secara mental. Mereka harus menjadi lebih kuat," tutup Leboeuf.

Sumber: Metro


Persaingan Sengit di Liga Inggris

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya