Emiten KINO Raup Penjualan Rp 4,42 Triliun pada 2025

PT Kino Indonesia Tbk (KINO) mencatat penjualan tumbuh 1,23% dan laba naik 42,83% pada 2025.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 05 April 2026, 13:35 WIB
PT Kino Indonesia Tbk (KINO) mencatat kinerja keuangan positif pada 2025. (Unsplash/Isaac Smith)

Liputan6.com, Jakarta - PT Kino Indonesia Tbk (KINO) mencatat kinerja keuangan positif pada 2025. Perseroan mencetak pertumbuhan penjualan dan laba sepanjang 2025.

Mengutip laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Minggu (5/4/2026), PT Kino Indonesia Tbk meraup penjualan Rp 4,42 triliun pada 2025, naik 1,23% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 4,36 triliun. Beban pokok penjualan naik tipis 0,57% menjadi Rp 2,49 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 2,48 triliun. Seiring hal itu, laba kotor perseroan naik 2,17% menjadi Rp 1,92 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 1,88 triliun.

Perseroan mencatat beban penjualan naik menjadi Rp 1,35 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 1,30 triliun. Beban umum dan administrasi turun menjadi Rp 338,23 miliar pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 362,34 miliar. Beban bunga susut menjadi Rp 129,33 miliar pada 2025 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 144,09 miliar.

Beban administrasi bank turun menjadi Rp 6,18 miliar pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 6,72 miliar. Perseroan mencatat laba kurs bersih turun menjadi Rp 3,50 miliar pada 2025 dari 2024 sebesar Rp  4,48 miliar. Pendapatan bunga turun menjadi Rp 1,87 miliar pada 2025 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 2 miliar. Perseroan mencatat laba bersih naik 41,62 persen menjadi Rp 125,92 miliar pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 89,91 miliar. Perseroan meraup lana bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk  naik 42,83% menjadi Rp 123,69 miliar pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 86,59 miliar.

Laba per saham dasar yang diatribusikan keada pemik entitas induk naik menjadi Rp 90 pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 63. Total ekuitas bertambah 5,81 persen menjadi Rp 1,74 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 1,65 triliun.Total liabilitas perseroan  turun 4,5% menjadi Rp 2,72 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 2,85 triliun. Aset perseroan merosot 0,73% menjadi Rp 4,46 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 4,50 triliun. Perseroan kantongi kas dan setara kas Rp 123,75 miliar.

Saham KINO ditutup naik 0,42% menjadi Rp 1.205 per saham pada penutupan perdagangan Kamis, 2 April 2026. Harga saham KINO ditutup stagnan di posisi Rp 1.200 per saham. Saham KINO berada di level tertinggi Rp 1.215 dan level terendah Rp 1.195 per saham. Total frekuensi perdagangan 17 kali dengan volume perdagang saham 44 saham. Nilai transaksi Rp 5,3 juta.

Kinerja IHSG Sepekan

Adapun total volume saham yang telah diperdagangkan adalah 98,791 miliar senilai Rp67,823 triliun. Tampak dalam foto, papan elektronik menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (29/1/2026). (YASUYOSHI CHIBA/AFP)

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada 30 Maret-2 April 2026. Koreksi IHSG sepekan dipicu sentimen geopolitik global tetapi tertahan oleh aksi jual investor asing.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (4/4/2026), IHSG  sepekan turun 0,99% ke level 7.026,78 dari pekan lalu ke posisi 7.097,05.

Koreksi IHSG juga diikuti kapitalisasi pasar. Kapitalisasi pasar BEI terpangkas 1,69% menjadi Rp 12.305 triliun dari Rp 12.516 triliun.

Pengamat pasar modal Reydi Octa menuturkan, IHSG sepekan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan rebound teknikal didorong meredanya tensi geopolitik global dan penguatan bursa regional. “Namun, masih tertahan oleh aksi jual investor asing terutama di saham perbankan besar serta tekanan rupiah dan data makro yang belum solid,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.

Selain itu, rata-rata volume transaksi harian BEI selama sepekan merosot 8,62% menjadi 25,87 miliar saham dari pekan lalu 28,31 miliar saham.  Rata-rata nilai transaksi harian terperosok 36,69% menjadi Rp 14,77 triliun dari Rp 23,33 triliun pada pekan lalu.

Investor asing mencatat aksi jual saham Rp 2,94 triliun pada pekan ini. Angka ini lebih rendah dari pekan lalu Rp 22,37 triliun.

 

Sektor Saham

Pekerja mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di salah satu perusahaan Sekuritas, Jakarta, Rabu (14/11). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bertahan di zona hijau pada penutupan perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Di sisi lain, peningkatan terjadi pada rata-rata frekuensi transaksi harian sebesar 3,08% menjadi 1,78 juta kali transaksi dari 1,73 juta kali transaksi pada pekan lalu.

Pada pekan ini, mayoritas sektor saham tertekan. Hanya tiga sektor saham yang menguat antara lain sektor saham industri naik 3,35%, sektor saham consumer nonsiklikal bertambah 2,28% dan sektor saham consumer siklikal menanjak 6,58%.

Sementara itu, sektor saham energi turun 1,52%, sektor saham basic materials terpangkas 1,84%, dan sektor saham perawatan kesehatan turun tipis 0,12%. Selain itu, sektor saham keuangan tergelincir 2,23%, sektor saham properti dan real estate susut 0,30%, sektor saham teknologi turun 0,54%, sektor saham infrastruktur susut 1,85% dan sektor saham transportasi dan logistik melemah 3,57%.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya