Israel Hancurkan Kamera Pengawas Markas UNIFIL di Naqoura, PBB Ajukan Protes

Insiden ini memicu ketegangan baru antara Israel dan misi perdamaian internasional di kawasan tersebut.

oleh Tim GlobalDiterbitkan 05 April 2026, 09:47 WIB
Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) meningkatkan patroli pasca rerangan Israel di Lebanon. (JOSEPH EID/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Tentara Israel dilaporkan menghancurkan seluruh kamera pengawas yang mengarah ke markas besar pasukan penjaga perdamaian PBB di Naqoura, Lebanon selatan. Insiden ini memicu ketegangan baru antara Israel dan misi perdamaian internasional di kawasan tersebut.

Juru Bicara Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL), Kandice Ardiel, pada Sabtu (4/4/2026), mengungkapkan bahwa kamera-kamera tersebut memiliki fungsi penting untuk memastikan keselamatan dan keamanan personel militer maupun sipil yang berada di dalam markas UNIFIL.

Penghancuran perangkat pengawasan itu pun menimbulkan kekhawatiran serius dari pihak PBB. UNIFIL menilai tindakan tersebut berpotensi membahayakan keselamatan personel dan mengganggu operasi penjaga perdamaian di wilayah yang selama ini rawan konflik.

Sebagai respons, UNIFIL menyatakan akan mengajukan protes resmi kepada Israel. Ardiel juga menegaskan bahwa tentara Israel memiliki kewajiban untuk menjamin keselamatan personel PBB serta menghormati fasilitas milik Perserikatan Bangsa-Bangsa.

3 Anggota TNI Gugur

Tiga prajurit TNI gugur dan beberapa lainnya terluka saat menjalankan misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon selatan. Insiden tersebut terjadi di tengah meningkatnya konflik antara Israel dan kelompok bersenjata di wilayah perbatasan Lebanon.

Prajurit TNI yang tergabung dalam UNIFIL menjadi korban dalam dua insiden berbeda pada 29 dan 30 Maret 2026. Seorang prajurit, Praka Farizal Rhomadhon, dilaporkan tewas setelah proyektil meledak di dekat posisi pasukan di Desa Adchit al-Qusayr, Lebanon selatan.

Sehari kemudian, dua prajurit TNI lainnya kembali gugur setelah ledakan menghantam konvoi logistik UNIFIL di wilayah Bani Hayyan. Dalam insiden tersebut, dua personel lainnya juga mengalami luka-luka.

Situasi keamanan semakin memburuk setelah ledakan kembali terjadi pada 3 April 2026. Tiga prajurit TNI dilaporkan terluka, dua di antaranya mengalami luka serius.

Ledakan itu terjadi di fasilitas PBB dekat El Adeisse, Lebanon selatan. Para korban segera dievakuasi ke rumah sakit dan dilaporkan dalam kondisi stabil, sementara penyebab ledakan masih dalam penyelidikan.

Secara keseluruhan, insiden tersebut membuat sedikitnya delapan prajurit TNI menjadi korban, terdiri dari tiga gugur dan lima lainnya mengalami luka-luka. Peristiwa ini menjadi salah satu insiden paling mematikan bagi kontingen Indonesia dalam misi UNIFIL dalam beberapa tahun terakhir.

Pemerintah Indonesia pun mengecam keras serangan yang membahayakan pasukan penjaga perdamaian dan mendesak penyelidikan menyeluruh. Indonesia juga meminta PBB meningkatkan perlindungan bagi personel UNIFIL yang bertugas di kawasan konflik yang semakin berbahaya.

Jenazah tiga prajurit TNI yang gugur akhirnya dipulangkan ke Indonesia pada 4 April 2026 dan disambut dengan upacara militer sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian mereka dalam misi perdamaian dunia.

Israel Tetap Lancarkan Serangan Meski Sudah Gencatan Senjata

UNIFIL telah beroperasi di Lebanon selatan sejak 1978 dan diperluas berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan 1701 setelah perang antara Israel dan Hizbullah meletus pada 2006.

Israel telah melancarkan serangan udara dan operasi darat di Lebanon selatan sejak serangan lintas batas oleh Hizbullah pada 2 Maret, meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak November 2024.

Otoritas Lebanon menyatakan sedikitnya 1.422 orang tewas dan 4.294 lainnya terluka akibat serangan Israel. Demikian dilansir Antara

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya