Liputan6.com, Berlin- Ledakan bom mengguncang sebuah diskotek di Berlin Barat, Jerman, pada 5 April 1986 dini hari, menewaskan dua orang dan melukai sedikitnya 120 lainnya, termasuk puluhan warga Amerika Serikat.
Dilansir dari BBC, Minggu (5/4/2026), ledakan terjadi sekitar pukul 01.50 waktu setempat saat diskotek La Belle dipadati hampir 500 pengunjung. Tempat hiburan malam tersebut dikenal sebagai lokasi favorit para tentara AS yang bertugas di Berlin Barat.
Advertisement
Dua korban tewas dilaporkan merupakan seorang tentara Amerika dan seorang perempuan asal Turki berusia 28 tahun. Sementara itu, lebih dari 40 warga AS termasuk di antara korban luka.
Ledakan dahsyat menyebabkan kerusakan parah pada bangunan. Dinding luar runtuh, sementara lantai dan langit-langit ambruk, menjebak sejumlah pengunjung di dalam.
“Saya mendengar ledakan yang sangat keras, lalu tiba-tiba berada di ruang bawah tanah karena lantainya runtuh,” ujar seorang disc jockey yang berada di lokasi saat kejadian.
Saksi lain, Dieter Jaehner (46), mengatakan suasana panik langsung terjadi. “Orang-orang berlarian keluar masuk diskotek, melambaikan tangan dalam keadaan histeris. Banyak yang berlumuran darah dengan pakaian compang-camping,” ujarnya.
Insiden ini merupakan ledakan kedua di Berlin Barat dalam sepekan, setelah sebelumnya sebuah bom menghantam klub Jerman-Arab dan melukai tujuh orang.
Bentuk Tim Khusus
Menteri Luar Negeri Jerman Barat saat itu, Hans-Dietrich Genscher, menyatakan pemerintah akan membentuk tim khusus untuk menyelidiki kemungkinan keterlibatan pihak asing dalam serangan tersebut.
“Kami tidak akan membiarkan sekutu kami dibom hingga keluar dari negara ini,” tegasnya.
Polisi setempat menyebut kemungkinan keterlibatan kelompok teroris Libya tengah diselidiki, terutama setelah meningkatnya ketegangan menyusul serangan militer AS terhadap Libya di Teluk Sirte sebulan sebelumnya.
Selain itu, sejumlah klaim tanggung jawab juga muncul, termasuk dari kelompok yang mengaku terkait dengan organisasi ekstrem kiri Baader-Meinhof, serta kelompok yang menamakan diri Front Pembebasan Arab Anti-Amerika. Namun, otoritas keamanan menyatakan belum ada klaim yang dapat diverifikasi.
Sebagai respons, pengamanan diperketat di berbagai titik, termasuk perbatasan menuju Berlin Timur, sementara pencarian terhadap pelaku terus dilakukan.