Liputan6.com, Beijing - Hubungan China dan Iran kerap dipersepsikan sebagai aliansi yang solid di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Namun, pengamat menilai hubungan kedua negara lebih didasarkan pada kepentingan strategis daripada komitmen pertahanan bersama.
Meski memiliki Kemitraan Strategis Komprehensif selama 25 tahun yang mencakup kerja sama di bidang energi, infrastruktur, perbankan, hingga teknologi militer, perjanjian tersebut tidak memuat klausul pertahanan bersama. Dengan demikian, Beijing tidak memiliki kewajiban untuk memberikan bantuan militer kepada Teheran apabila Iran terlibat dalam konflik bersenjata.
Advertisement
Sikap itu terlihat selama perang Iran pada 2026. Ketika konflik meningkat dan memicu konfrontasi terbesar di kawasan dalam beberapa dekade terakhir, China memilih tidak mengerahkan kekuatan militer untuk membantu Iran. Beijing hanya menyerukan penyelesaian damai melalui jalur diplomatik, sementara bersama Rusia meminta sidang darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dikutip dari middleeastmonitor.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyebut perang tersebut sebagai konflik yang seharusnya tidak pernah terjadi dan tidak menguntungkan pihak mana pun. Pernyataan itu dinilai sejumlah analis sebagai bentuk kehati-hatian Beijing agar tidak secara terbuka berpihak kepada Iran maupun mengonfrontasi Amerika Serikat dan Israel.
Di balik sikap tersebut, kepentingan ekonomi menjadi faktor utama yang mendorong kebijakan China. Beijing merupakan pembeli terbesar minyak Iran dan diperkirakan menyerap sekitar 90 persen ekspor minyak negara itu selama konflik berlangsung. Minyak Iran dibeli dengan harga diskon akibat sanksi internasional, sehingga membantu China memperbesar cadangan energi strategisnya.
Selain menjaga pasokan energi, Iran juga memiliki posisi penting dalam proyek Belt and Road Initiative (BRI) atau Inisiatif Sabuk dan Jalan. Negara itu menjadi jalur penghubung utama bagi koridor perdagangan China menuju kawasan Teluk dan Laut Mediterania melalui Asia Tengah.
Berpotensi Terputus
Apabila Iran bergeser ke orbit negara-negara Barat, jalur darat strategis tersebut berpotensi terputus. Kondisi itu dinilai dapat mengganggu salah satu proyek geopolitik terbesar yang menjadi prioritas Presiden China Xi Jinping.
Meski tidak memberikan perlindungan militer secara langsung, China tetap mempertahankan kerja sama strategis dengan Iran. Beijing disebut menyediakan akses terhadap sistem navigasi satelit BeiDou, berbagi dukungan intelijen, serta membuka peluang penjualan alutsista seperti pesawat tempur J-10C dan sistem pertahanan udara HQ-9 untuk membantu modernisasi militer Iran pascakonflik.
Namun, para analis menilai setiap langkah tersebut tetap diperhitungkan secara hati-hati agar tidak memicu eskalasi dengan Amerika Serikat maupun Israel.
Di sisi lain, hubungan pertahanan China dengan Pakistan justru jauh lebih erat dibandingkan dengan Iran. Dalam beberapa tahun terakhir, mayoritas ekspor persenjataan China dikirim ke Pakistan. Kerja sama itu mencakup pengadaan pesawat tempur J-10C, rudal jarak jauh PL-15, hingga berbagai sistem persenjataan lain.
Bagi Beijing, Pakistan merupakan mitra strategis utama untuk menjaga keseimbangan kekuatan di Asia Selatan, terutama dalam menghadapi pengaruh India yang semakin dekat dengan Amerika Serikat, Jepang, dan Australia.
Sejumlah pengamat menilai strategi China di Timur Tengah mencerminkan pendekatan yang pragmatis. Beijing berupaya mempertahankan Iran sebagai mitra strategis agar tetap berada di luar pengaruh Barat, tetapi menghindari keterlibatan langsung dalam konflik bersenjata.
Pendekatan tersebut memungkinkan China tetap mengamankan kepentingan energi, melindungi jalur perdagangan Belt and Road Initiative, serta menjaga keseimbangan geopolitik kawasan tanpa harus menanggung risiko konfrontasi militer secara langsung.