Liputan6.com, Jakarta - Kasus campak bukan hanya terjadi pada anak-anak. Orang dewasa juga bisa terinfeksi Morbillivirus, si virus campak.
"Secara umum, kalau kita lihat data di Indonesia, sekitar delapan persen kasus campak tercatat terjadi pada orang dewasa," kata Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, dokter Andi Saguni dalam konferensi pers update campak pada Senin, 31 Maret 2026.
Advertisement
Andi membenarkan bahwa memang mayoritas kasus campak terjadi pada anak-anak. Namun, tetap ada kasus orang di atas 18 tahun bisa terkena campak.
Mengenai angka fatality atau kematian, Andi memberi data pada 2026 bahwa Kemenkes mencatat ada 10 kematian akibat campak di Tanah Air. Satu diantaranya adalah kasus campak pada orang dewasa yakni berusia 25 tahun.
"Umumnya (kasus kematian campak) terjadi pada balita, anak-anak juga ada yakni umur 14 tahun," tutur Andi memaparkan data 2026.
Faktor Risiko Keparahan
Mengenai gejala, campak pada orang dewasa umumnya tidak berbeda jauh dengan anak-anak, seperti demam, ruam, batuk, dan pilek. Namun, pada beberapa kasus, orang dewasa berisiko mengalami gejala yang lebih berat, terutama jika memiliki kondisi kesehatan tertentu.
Ia juga menegaskan pentingnya imunisasi dalam mencegah keparahan penyakit. Menurutnya, seseorang yang sudah mendapatkan vaksin campak cenderung memiliki respons imun yang lebih baik. Akan tetapi, katanya, pada orang dewasa, ada kondisi-kondisi lain yang dapat memengaruhi, misalnya imunitas yang lemah, penderita HIV/AIDS, atau menderita penyakit kronis seperti diabetes, kanker, dan hipertensi.
“Ketika seseorang sudah diimunisasi, maka respons imun sudah terbentuk. Program vaksin campak diberikan dua kali saat bayi kemudian booster saat kelas 1 SD untuk memberikan perlindungan yang optimal,” jelasnya.
Kemenkes Rencanakan Vaksinasi Campak Bagi Nakes
Di kesempatan yang sama, Andi emngatakan bahwa ada rencana vaksinasi campak terhadap tenga kesehatan dan tenaga medis karena termasuk kelompok rentan. Rencana ini mencuat usai satu dokter internship di Cianjur, Jawa Barat meninggal tertular campak.
"Apakah ada rencana vaksinasi? Ya betul, kita akan mengarah ke sana. Dan secara cepat kami juga siapkan analisis daripada uji vaksinnya, uji klinisnya, terkait dengan program vaksin yang digunakan saat ini," kata Andi.
"Dan tentunya bahwa intensitas terpapar oleh campak. Khususnya tenaga kesehatan itu juga menjadi faktor risiko," katanya.