MacBook White, Jejak Kreatif Upie Guava hingga Pelangi di Mars

Kisah Upie Guava memakai perangkat Apple sejak era MacBook White memberi sudut menarik untuk melihat hubungan teknologi, proses kreatif, dan perjalanan 50 tahun

oleh YusliansonDiterbitkan 31 Maret 2026, 14:00 WIB
Dari Apple MacBook White ke Pelangi di Mars, Perjalanan Kreatif Sutradara Upie Guava. (Liputan6.com/ Yuslianson)

Liputan6.com, Jakarta - Saat Apple memasuki usia ke-50 atau ulang tahun emas pada 1 April 2026, perjalanan perusahaan berbasis di Cupertino ini tidak hanya dibaca lewat deretan produk ikonik yang pernah diluncurkan.

Akan tetapi, jejak itu juga terlihat dalam beragam cerita para kreator dan fans yang tumbuh bersaman perangkatnya. Salah satunya adalah Upie Guava, sutradara film dan musik video yang ternyata masih ingat bagaimana MacBook White pernah menjadi bagian penting dari awal perjalanan kreatifnya.

Bagi pria bernama Lutfie Abdullah, hubungan dengan perangkat Apple tidak lahir dari semata-mata ketertarikan pada produk.

Ditemui di rumah produksinya di Jakarta Selatan, ia menyebut hubungannya dengan perangkat Apple berlanjut hingga sekarang. Tumbuh pelan, mengikuti cara dirinya bekerja, berpikir, dan menjaga ide tetap hidup.

Pada fase awal itulah MacBook White masuk ke dalam keseharian Upie. “Mac pertama saya itu MacBook White, saya ingat banget pakai untuk edit video clip Vidi Aldiano berjudul Gadis Genit. Klipnya itu full CGI, maksudnya setiap shot tuh ada tempelan-tempelan efek,” kata Upie.

Dari pengalaman awal tersebut, Upie merasa laptop milik Apple itu mampu memberikan sesuatu bagi pekerja kreatif atau kreator, yakni stabilitas. Saat komputer lain membuat pengguna sibuk dengan urusan teknis, dirinya justru menemukan pengalaman lebih tenang.

“Saya suka Mac itu karena stabil. Pernah ada pengalaman pakai OS satu lagi, rasanya tuh harus jadi orang pintar, harus mengerti defrag dan lainnya. Jadi lebih banyak teknis ketimbang jadi pengguna,” ujarnya.

 

Alasan Tetap Pakai Perangkat Apple

Upie Guava Pelangi di Mars. (Doc: Apple)

Pandangan itu bertahan sampai sekarang. Bagi Upie, alasan tetap pakai perangkat Apple bukan semata soal spesifikasi tinggi. Akan tetapi, bagaimana sebuah produk mendukung perilaku kerja dan membantu pengguna tetap fokus pada proses berpikir.

“Banyak orang hanya melihat logis, spek, dan angka dalam sebuah perangkat, tetapi justru menurut saya, product desain baik sebenarnya bukan soal itu, akan tetapi soal yang tidak kelihatan, behavior kita,” ucapnya.

Cara pandang ini semakin terasa ketika dirinya menggarap Pelangi di Mars. Dia menjelaskan, dirinya tidak hanya mengandalkan Mac Studio M3 Ultra dalam proyek film sci-fi tersebut.

Upie juga memakai iPhone, iPad, dan sejumlah aplikasi seperti Keynote, Freeform, GarageBand, Logic Pro, hingga Final Cut Pro. “Saya lebih suka tools gampang, karena biasanya punya ruang untuk kita berkarya lebih baik dan kreatif,” ujarnya. Final Cut Pro menjadi salah satu aplikasi andalan.

Dia menyebutkan, fitur Magnetic Mask di Final Cut Pro sangat membantu dia dan tim produksi film Pelangi di Mars memangkas proses editing yang biasanya memakan waktu dan berat.

“Wah, Magnetic Mask tuh fitur Final Cut Pro paling useful, paling inovatif, paling canggih,” katanya. Berbekal fitur ini, ia dapat memisahkan subjek dari latar, membuat blur, hingga melakukan isolasi color grading tanpa green screen dan proses rotoscoping yang rumit.

Namun, workflow Upie tidak berhenti di ruang editing. Contohnya adalah Keynote. Tak hanya dipakai untuk presentasi, aplikasi ini juga dipakai untuk menyusun konsep, membangun dunia visual, dan menjaga komunikasi lintas divisi tetap tertata rapi.

 

Pakai Software Editing Apple di Pelagi di Mars

MacBook Air M3. (Liputan6.com/ Agustinus Mario Damar)

Fitur kolaborasi, sinkronisasi cloud, dan mudah membuka deck dari iPhone atau iPad membuat proses kerja terasa lebih cair. “Untuk brainstorming, Freeform menjadi ruang kerja paling fleksibel,” jelasnya.

Untuk menangkap ide musik, Upie mengandalkan GarageBand dan Logic Pro, meskipun sedang tidak berada di depan workstation. “Saya tuh bikin konsep atau rekam suara di mobil, kadang juga di tempat-tempat umum berbekal iPad dan iPhone sata, tetapi selalu works,” katanya.

Dari cerita Upie Guava ini, terlihat proses kreatif tidak selalu bertumpu pada alat paling rumit. Kadang, hanya butuh perangkat siap pakai saat ide datang dan tidak menghambat alur berkreasi.

Pengalaman dan kisah Upie terasa relevan dengan perjalanan Apple selama 50 tahun. Sejak awal, perusahaan berbasis di Cupertino ini membawa gagasan teknologi harus lebih sederhana, mudah dipakai, dan dekat dengan kehidupan pengguna.

Berdasarkan pengalaman Upie Guava, gagasan yang muncul dari hal-hal kecil, dari sebatas membuka konsep di iPad, menyusun deck di Keynote, merekam ide di iPhone, hingga proses akhir eksekusi di Mac.

Karena itu, saat ditanya bagaimana pengaruh Mac terhadap workflow-nya hingga sekarang, Upie menjawab singkat, jujur, dan sangat personal. “Ngga bisa ganti,” pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya