Liputan6.com, Jakarta - Mudik Lebaran bukan sekadar perjalanan pulang, melainkan denyut besar mobilitas nasional yang mempertemukan jutaan cerita, harapan, dan kerinduan dalam satu momentum. Tahun ini, lonjakan pergerakan kembali terjadi dengan intensitas yang lebih tinggi, namun masih mampu dikelola secara optimal melalui kesiapan sistem dan kolaborasi lintas sektor yang solid.
Advertisement
Momentum peningkatan ini turut disampaikan Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, yang menyebut moda penyeberangan telah melayani sebanyak 5,52 juta penumpang atau naik 15,32 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, berdasarkan data Kementerian Perhubungan, jumlah pergerakan masyarakat selama Lebaran 2026 mencapai 147,55 juta orang atau meningkat 2,53 persen dibandingkan hasil survei sebelumnya sebesar 143,92 juta orang. Sementara itu, penggunaan angkutan umum juga mengalami kenaikan sebesar 10,87 persen dibandingkan tahun lalu.
"Dapat kami sampaikan bahwa penyelenggaraan angkutan Lebaran pada tahun ini berjalan dengan baik, merupakan sebuah kerjasama besar dari seluruh stakeholder, intra sektor, baik itu kementerian, lembaga, pemerintah daerah, operator transportasi, dan seluruh pemangku kepentingan di bidang transportasi,” ujar Dudy, di Kantor Kementerian Perhubungan, dikutip Selasa (31/3/2026).
Keberhasilan ini juga diperkuat oleh koordinasi intensif lintas sektor.
“Kolaborasi ini menjadi kunci penting untuk memastikan masyarakat dapat melaksanakan perjalanan mudik dan arus balik dengan aman, selamat, dan lancar," lanjut dia.
Kesiapan Layanan Transportasi
Sementara itu, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memastikan kesiapan layanan transportasi yang tidak hanya andal, tetapi juga adaptif dan terkelola optimal, khususnya di 15 lintasan pantauan nasional.
Adapun ragam lintasan tersebut merupakan lintas vital dengan mobilitas tinggi, diantaranya Merak – Bakauheni, Ciwandan – Wika Beton, Bojonegara – Muara Pilu, Ketapang – Gilimanuk, Padangbai – Lembar, Jangkar – Lembar, Kayangan – Pototano, Kariangau – Penajam, Bajoe – Kolaka, Hunimua – Waipirit, Bira – Pamatata, Bolok – Rote, Bitung – Ternate, Ajibata – Ambarita, Telaga Punggur – Tanjung Uban, Tanjung Api-Api – Tanjung Kalian, serta Nias – Sibo.
Secara kumulatif sejak H-8 hingga H+8 pukul 06.00 WIB, total penumpang di 15 lintasan pantauan nasional mencapai 4.722.213 orang atau naik 6,6% dibandingkan tahun lalu sebanyak 4.430.006 orang. Sementara total kendaraan tercatat 1.215.273 unit atau meningkat 8% dibandingkan 1.125.178 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Utama ASDP, Heru Widodo, menyampaikan bahwa di tengah peningkatan signifikan tersebut, layanan penyeberangan tetap mampu beroperasi secara optimal. Hal ini tercermin dari kelancaran arus layanan yang terjaga serta distribusi trafik yang semakin merata di berbagai lintasan, termasuk pada periode puncak arus mudik dan balik.
“Capaian kelancaran layanan serta distribusi trafik yang semakin merata, bahkan pada puncak arus, merupakan hasil dari kesiapan operasional yang telah dirancang secara komprehensif jauh sebelum periode Angkutan Lebaran dimulai. Optimalisasi armada yang didukung penguatan digitalisasi layanan menjadi kunci utama dalam menjaga kinerja penyeberangan tetap andal,” ujar Heru.
Dalam pelaksanaannya, lintasan Jawa–Sumatera–Bali tetap menjadi simpul vital pergerakan nasional. Berbagai langkah antisipatif dilakukan secara terukur, mulai dari pengaturan pola operasi kapal berbasis kebutuhan harian, penerapan skema Tiba–Bongkar–Berangkat saat terjadi kepadatan, delaying system melalui titik buffer zone, pemanfaatan digitalisasi Ferizy, hingga kebijakan stimulus berupa diskon tarif dan single tarif guna mendorong distribusi perjalanan yang lebih merata dan inklusif.
Pembatasan Kendaraan Logistik
Lebih lanjut, Heru menjelaskan bahwa dinamika operasional juga terjadi pasca berakhirnya kebijakan pembatasan kendaraan logistik sumbu tiga ke atas yang diatur dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Nomor: KP-DRJD 854 Tahun 2026, Nomor: HK.201/1/21DJPL/2026, Nomor: 20/KPTS/Db/2026, Nomor: Kep/43/II/2026 tanggal 5 Februari 2026 tentang Pengaturan Lalu Lintas Jalan Serta Penyeberangan Selama Masa Arus Mudik dan Arus Balik Angkutan Lebaran Tahun 2026/1447 Hijriah. Pembatasan tersebut berlaku di lintasan Bakauheni–Merak pada 23–29 Maret 2026 serta Ketapang–Gilimanuk pada 13–29 Maret 2026.
“Pasca dibukanya kembali pembatasan tersebut, terjadi lonjakan signifikan kendaraan logistik yang masuk ke pelabuhan, khususnya di lintasan Merak–Bakauheni dan Ketapang–Gilimanuk dengan kondisi antrian 3-10 kilometer . Kondisi ini berdampak pada peningkatan antrean kendaraan, namun tetap dalam kendali melalui penguatan manajemen operasional di lapangan,” jelas Heru.
Untuk merespons kondisi tersebut, ASDP terus melakukan percepatan layanan secara adaptif. “Kami mengoptimalkan pola Tiba–Bongkar–Berangkat (TBB), menambah trip dan armada kapal, serta melakukan pengendalian ritme kendaraan melalui buffer zone. Langkah ini dilakukan untuk memastikan arus kendaraan logistik tetap terlayani dengan baik tanpa mengganggu kelancaran arus penumpang,” tambahnya.