Geopolitik Memanas, Kenapa Harga Emas Sempat Turun?

Ini alasan mengapa emas sempat tertekan saat perang memanas serta peluang rebound ke depan. Simak ulasannya di sini.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 31 Maret 2026, 12:45 WIB
Petugas menunjukkan emas batangan di gerai Butik Emas Antam di Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Pergerakan harga emas belakangan ini terlihat membingungkan. Di saat konflik geopolitik di Timur Tengah memanas, harga emas justru sempat turun sebelum akhirnya kembali menguat secara bertahap.

Pengamat Komoditas, Wahyu Laksono, menjelaskan bahwa kondisi ini terjadi karena pasar tidak hanya melihat faktor perang, tetapi juga mempertimbangkan kebijakan ekonomi global, khususnya dari Amerika Serikat.

“Meskipun tensi geopolitik di Timur Tengah melibatkan Israel, AS, dan Iran sangat panas, emas justru mengalami tekanan jual yang cukup signifikan,” ujarnya kepada Liputan6.com, Selasa (31/3/2026).

Menurutnya, konflik yang terjadi justru mendorong kenaikan harga minyak dunia, terutama akibat kekhawatiran gangguan pasokan seperti isu penutupan Selat Hormuz. Kenaikan harga energi ini kemudian memicu tekanan inflasi global.

Dalam situasi tersebut, pelaku pasar memperkirakan bank sentral, terutama The Fed, akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi suku bunga tinggi ini membuat emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi kurang menarik dibandingkan instrumen lain seperti obligasi.

“Penurunan harga emas ke sekitar USD 4.100 per troy ons belakangan ini bukan disebabkan oleh hilangnya risiko perang, melainkan oleh pergeseran fokus pasar ke kebijakan moneter AS dan tekanan inflasi global,” jelasnya.

 

Penguatan Dolar AS

Petugas menunjukkan koleksi lempengan emas di Pegadaian, Jakarta, Selasa (18/5/2021). Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) pada 17 Mei 2021 berada di posisi lebih tinggi dibanding hari sebelumnya. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Selain itu, penguatan dolar AS juga turut menekan harga emas. Sebab, emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga permintaan cenderung menurun. Di sisi lain, aksi ambil untung oleh investor setelah harga emas sempat mencetak rekor juga mempercepat tekanan penurunan.

Meski demikian, harga emas tidak terus melemah. Wahyu menyebut emas mulai mengalami rebound secara konsolidatif setelah muncul harapan deeskalasi konflik. Pernyataan-pernyataan terkait potensi negosiasi dan gencatan senjata turut mendorong pelemahan dolar AS dan harga minyak, sehingga memberi ruang bagi emas untuk kembali menguat.

Ia menilai pergerakan harga emas saat ini mencerminkan tarik-ulur antara dua kekuatan besar, yakni geopolitik dan kebijakan moneter. Hal ini membuat harga emas bergerak sangat dinamis dalam jangka pendek.

 

Masih akan Volatil

Harga emas Antam hari ini naik Rp 17 ribu dibandingkan dengan harga dalam perdagangan Senin pekan lalu, yakni Rp 1.333.000 per gram. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ke depan, volatilitas harga emas diperkirakan masih akan tinggi, terutama menjelang rilis data inflasi AS seperti PCE. Jika konflik kembali memanas dan mendorong inflasi, ruang kenaikan emas bisa terbatas. Sebaliknya, jika tensi mereda dan ada sinyal pelonggaran suku bunga, emas berpeluang melanjutkan penguatan.

Untuk pasar domestik, pergerakan harga emas juga akan dipengaruhi nilai tukar rupiah. Jika harga emas global naik bersamaan dengan pelemahan rupiah, maka harga emas di dalam negeri berpotensi naik lebih tinggi. Sebaliknya, penguatan rupiah dapat meredam kenaikan harga emas global.

Secara keseluruhan, Wahyu melihat emas masih berpeluang bergerak dalam tren menguat dalam jangka menengah hingga panjang, meski dengan pola naik-turun yang cukup tajam seiring dinamika global yang terus berubah.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya