Ciri-Ciri Gangguan Komunikasi Sosial pada Anak, Kerap Terlihat di Usia Prasekolah

Gangguan komunikasi sosial (social communication disorder atau SCD) adalah gangguan perkembangan yang memengaruhi kemampuan anak dalam berinteraksi sosial.

oleh Nurul Hikmah AzzahraDiterbitkan 28 Maret 2026, 18:00 WIB
Perkembangan bahasa bayi sangat dipengaruhi oleh seberapa sering ia mendengar kata-kata yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. (foto/dok: freepik/pch.vector)

Liputan6.com, Jakarta - Gangguan komunikasi sosial social communication disorder atau SCD adalah gangguan perkembangan yang memengaruhi kemampuan anak dalam menggunakan bahasa untuk berinteraksi secara sosial.

Kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berbicara secara teknis, melainkan pada pemahaman, penafsiran, dan menggunakan bahasa dalam konteks sosial, seperti bergiliran berbicara, memahami isyarat nonverbal, hingga menyesuaikan cara berbicara dengan lawan bicara.

Anak yang mengalami SCD, akan kesulitan saat berbicara dengan teman sebaya. Peneliti senior dari University of Manchester di Inggris, Catherine Adams, menjelaskan bahwa SCD mempengaruhi interaksi sosial.

“Gangguan komunikasi sosial bukan sekadar keterlambatan berbicara, tetapi tentang bagaimana anak memahami tujuan komunikasi dan menggunakannya secara efektif dalam interaksi sosial,” ujarnya dikutip dalam Very Well Mind pada Sabtu, 28 Maret 2026.

Tanda-Tanda Anak Mengalami SCD

Tanda-tanda SCD umumnya mulai terlihat ketika anak memasuki usia prasekolah, atau ketika tuntutan interaksi sosial meningkat.

Anak akan tampak kesulitan memulai atau mempertahankan percakapan, tidak memahami giliran berbicara, serta kesulitan menyesuaikan bahasa dengan situasi yang berbeda.

Selain itu, anak dengan SCD sering kali tidak memahami humor, sindiran, atau makna kiasan. Mereka cenderung menafsirkan bahasa secara harfiah, sehingga bisa menimbulkan kesalahpahaman dalam komunikasi.

“Anak dengan SCD sering memahami kata-kata apa adanya, sehingga mereka kesulitan menangkap maksud kiasan dalam percakapan sehari-hari,” ujarnya.

Gejala lain yang sering muncul meliputi kurangnya kontak mata, kesulitan memahami ekspresi wajah atau bahasa tubuh, serta ketidakmampuan menyesuaikan gaya komunikasi sesuai dengan lawan bicara misalnya berbicara dengan kakek sama seperti berbicara dengan teman sebaya.

Penyebab Gangguan Komunikasi Sosial

(Foto Dok: Freepik/freepik).

Penyebab gangguan komunikasi sosial belum diketahui pasti, tetapi para ilmuwan meyakini bahwa kondisi ini berkaitan dengan perkembangan otak yang memengaruhi kemampuan bahasa pragmatik dan fungsi sosial.

Anak dengan SCD mengalami hambatan pada kemampuan proses mental untuk memahami perspektif, dan emosi orang lain.

Hambatan ini berkaitan dengan fungsi eksekutif di otak, seperti fleksibilitas kognitif dan kemampuan mengontrol respons, yang berperan penting dalam menyesuaikan komunikasi.

Selain itu, keterlibatan gangguan sistem saraf yang mengatur proses bahasa pragmatik, khususnya pada jaringan otak yang berhubungan dengan pemahaman konteks sosial yang berhubungan dengan informasi verbal dan nonverbal.

Faktor genetik juga diyakini bisa menjadi penyebabnya, terutama pada keluarga dengan riwayat gangguan bahasa, atau kesulitan belajar, yang menunjukkan adanya permasalahan biologis tertentu.

Selanjutnya faktor perkembangan awal seperti keterlambatan dalam kemampuan merespon pada masa bayi dan balita.

Keterampilan ini merupakan fondasi penting bagi perkembangan komunikasi sosial yang efektif.

“Gangguan ini sering kali tidak terdeteksi sejak kecil karena anak tampak mampu berbicara dengan baik, padahal kesulitan utamanya terletak pada penggunaan bahasa dalam konteks sosial,” ucapnya.

Penanganan Gangguan Komunikasi Sosial

Penanganan SCD umum berbasis pada perkembangan peningkatan kemampuan komunikasi sosial anak melalui intervensi yang terstruktur.

Terapi wicara dengan pendekatan pragmatik, yaitu ketika anak dilatih untuk memahami aturan percakapan, menginterpretasikan maksud lawan bicara, serta menggunakan bahasa secara fleksibel sesuai situasi.

Pendekatan tersebut bertujuan agar anak bisa belajar melalui contoh nyata dan dukungan bertahap.

Selain itu, penanganan melalui interaksi sosial, seperti pelatihan keterampilan bicara dalam kelompok kecil, terbukti efektif untuk melatih kemampuan berbagi perspektif, memahami emosi, serta meningkatkan respons timbal balik dalam komunikasi.

Cara ini dirancang untuk menyerupai kondisi kehidupan sehari-hari, sehingga anak bisa mengaplikasikan keterampilan secara fungsional.

Peran lingkungan juga sangat diperlukan, orang tua dan guru perlu dilibatkan secara aktif melalui pendekatan kolaboratif, termasuk pelatihan strategi komunikasi responsif secara konsisten.

“Penanganan harus terjadi dalam konteks interaksi sehari-hari, bukan hanya di ruang terapi,” ungkapnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya