Makan Kue Lebaran Mengandung Cokelat dan Keju Bisa Picu GERD Kambuh

Bagi Anda yang punya riwayat GERD, sebaiknya batasi asupan kue Lebaran yang mengandung cokelat dan keju. Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam FKUI ungkap alasannya.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 25 Maret 2026, 16:00 WIB
Kue Lebaran mengandung keju dan cokelat /Gemini AI
Tren Kue Kering dan Hampers Lebaran 2026. (Foto: AI)

Liputan6.com, Jakarta - Kue Lebaran seperti kue kering hingga cake kerap menjadi camilan favorit saat hari raya maupun selepas Idul Fitri. Namun, di balik rasanya yang manis dan gurih, orang dengan riwayat GERD perlu membatasi asupan makanan mengandung cokelat dan keju.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan Profesor Dr dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH mengingatkan bahwa kue Lebaran yang mengandung cokelat dan keju berpotensi memicu kambuhnya gastroesophageal reflux disease (GERD).

Ari mengungkapkan bahwa cokelat dan keju merupakan komponen makanan yang dapat melemahkan klep bawah esofagus atau kerongkongan atau lower esophageal sphincter (LES). Padahal, katup ini berfungsi mencegah isi lambung naik kembali ke atas.

"Kondisi itu memungkinkan makanan itu balik arah atau refluks dan ini bisa menjadi GERD," tutur Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam FKUI itu dalam pesan suara ditulis Rabu, 25 Maret 2026.

Ia pun menyarankan untuk membatasi porsi serta tidak mengonsumsinya secara berlebihan untuk mencegah kekambuhan.

GERD memiliki gejala diantaranya heartburn, nyeri dada, dan mulut terasa pahit. Faktor risiko yang menyebabkan GERD semakin parah antara lain usia biasanya di atas 40 tahun, merokok dan indeks massa tubuh di atas 30 yang dikategorikan sebagai obesitas.

Kunjungan Pasien Gastritis ke RS Meningkat Usai Lebaran

Ari juga mengungkapkan bahwa saat dan usai hari Lebaran, kunjungan pasien ke IGD rumah sakit meningkat. Kebanyakan karena kasus gastrointestinal (GI) (sistem organ pencernaan manusia).

"Di beberapa ruang gawat darurat atau emergensi rumah sakit, ada beberapa kasus-kasus gastrointestinal," tuturnya.

Selain GERD dan asam lambung, masalah pencernaan yang banyak dikeluhkan adalah diare. Ari mengungkapkan selama Ramadan, konsumsi makanan pedas umumnya berkurang sehingga sistem pencernaan menjadi lebih “tenang”.

Namun, perubahan secara mendadak terjadi ketika memasuki Lebaran, sebagian orang langsung kembali mengonsumsi makanan pedas dalam jumlah cukup banyak. Perubahan mendadak ini bisa membuat usus “kaget” dan memicu gangguan pencernaan, termasuk diare.

"Di minggu pertama bulan syawal ini terjadi peningkatan kasus-kasus diare, karena tadi, usus yang selama ini diisirahatka lalu makan yang pedas-pedas itu kaget gitu ya sehingga akhirnya terjadi diare," tutur Ari 

Selain faktor pedas, kondisi ini juga bisa berkaitan dengan sensitivitas usus atau yang dikenal sebagai irritable bowel syndrome (IBS). Pada orang dengan usus yang lebih sensitif, makanan pedas dapat lebih mudah memicu gejala seperti mulas hingga diare.  

Level Pedas Naik Perlahan

Sambal Goreng Kentang Ati (Foto: Gemini AI)

Ari menyarankan agar konsumsi makanan pedas dilakukan secara bertahap setelah Lebaran.

"Karena itu maka memang harus secara perlahan-lahan konsumsi pedas ini ditingkatkan kalau memang hobi makan pedas. Jadi dengan tidak boleh secara tiba-tiba," pesan Ari.

Dengan penyesuaian pola makan yang lebih perlahan, risiko gangguan pencernaan seperti diare dapat diminimalkan.

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya