Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan tekanan di pasar domestik, tercermin dari kurs yang ditawarkan sejumlah bank besar di Indonesia pada Rabu, 25 Maret 2026. Mayoritas bank mencatat level jual dolar sudah berada di kisaran Rp17.000 per dolar AS.
Berdasarkan data yang dihimpun, kurs e-Rate di Bank Central Asia (BCA) menetapkan harga beli di Rp 16.915,00 dan jual Rp 17.105,00. Sementara itu, Bank Rakyat Indonesia (BRI) mematok kurs beli Rp 16.838,00 dan jual Rp 17.139,00.
Advertisement
Di sisi lain, Bank Negara Indonesia (BNI) mencatat kurs beli Rp16.898,00 dan jual Rp 17.103,00. Adapun Bank Mandiri meski menggunakan data per 17 Maret 2026 menunjukkan kurs beli Rp 16.950,00 dan jual Rp 16.980,00, masih sedikit di bawah level Rp 17.000 untuk harga jual.
Perbedaan tipis antarbank mencerminkan kondisi pasar yang relatif seragam, dengan tekanan terhadap rupiah yang belum mereda. Level jual yang konsisten di atas Rp 17.000 mengindikasikan dolar AS masih perkasa di pasar domestik.
Sentimen global menjadi salah satu faktor utama yang membayangi pergerakan rupiah. Indeks dolar AS tercatat kembali menguat mendekati level 99,5 pada Selasa, 24 Maret 2026, setelah sebelumnya sempat melemah.
Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Iran menegaskan tidak ada pembicaraan untuk mengakhiri konflik dan membantah klaim dari mantan Presiden AS Donald Trump. Bahkan, Teheran dilaporkan melancarkan serangan baru terhadap target Amerika Serikat, sementara Israel terus menggencarkan operasi militernya ke wilayah Iran.
Dorong Permintaan Dolar AS
Situasi ini membuat ketidakpastian global tetap tinggi dan mendorong permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS.
Sebelumnya, dolar sempat tertekan setelah Trump menunda rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari, dengan alasan adanya perkembangan diskusi yang dinilai positif. Namun, pasar masih diliputi keraguan terkait hasil negosiasi tersebut, termasuk potensi dibukanya kembali Selat Hormuz yang merupakan jalur penting distribusi energi dunia.
Dengan kombinasi tekanan global dan penguatan dolar AS, pergerakan rupiah dalam jangka pendek diperkirakan masih akan fluktuatif, terutama mengikuti perkembangan geopolitik dan arah kebijakan eksternal.