Sri Lanka Naikkan Harga BBM 25%, Dampak Perang AS-Iran Kian Terasa

Sri Lanka menaikkan harga BBM 25% akibat dampak konflik Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 23 Maret 2026, 10:40 WIB
Para pengendara mengantre untuk mengisi bahan bakar kendaraan mereka di sebuah stasiun pengisian bahan bakar di Wellawatte, pinggiran Kota Kolombo, Sri Lanka, pada Senin (16/3/2026). (Dok. AFP/Ishara S. Kodikara)

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Sri Lanka resmi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) sebesar 25% pada Minggu (22/3/2026). Kenaikan ini menjadi yang kedua dalam dua pekan terakhir, seiring meningkatnya dampak konflik di Timur Tengah terhadap pasokan energi global.

Mengutip Channel News Asia, Senin (23/3/2026), harga bensin reguler kini naik menjadi 398 rupee (sekitar USD 1,30) per liter, dari sebelumnya 317 rupee. Sementara itu, harga solar—yang banyak digunakan untuk transportasi publik—melonjak 79 rupee menjadi 382 rupee per liter.

Pekan lalu, pemerintah juga telah menaikkan harga BBM sebesar 8% serta memberlakukan sistem pembatasan untuk mengendalikan konsumsi.

“Kami berharap dapat mencapai pengurangan konsumsi bahan bakar sebesar 15% hingga 20% dengan kenaikan terbaru ini,” ujar seorang pejabat di Ceylon Petroleum Corporation.

 

Pemerintah Siapkan Langkah Hemat Energi, Waspadai Krisis Berkepanjangan

Tentara berjaga saat pengendara antre untuk membeli bahan bakar di stasiun bahan bakar Lanka IOC di Kolombo, Selasa (24/5/2022). Sri Lanka yang kekurangan uang menaikkan harga bahan bakar secara tajam ke rekor tertinggi pada 24 Mei 2022, menyebabkan penderitaan lebih lanjut bagi 22 juta orang di negara itu dalam krisis terburuk sejak kemerdekaan. (Ishara S. KODIKARA / AFP)

Presiden Anura Kumara Dissanayake disebut telah mengingatkan bahwa negaranya harus bersiap menghadapi konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah menerapkan kebijakan pekan kerja empat hari sejak Rabu lalu serta mendorong perusahaan untuk kembali memberlakukan sistem kerja dari rumah (work from home) jika memungkinkan.

Ketegangan meningkat setelah Selat Hormuz—jalur penting yang dilalui sekitar 20% ekspor minyak dunia saat kondisi normal—secara efektif ditutup oleh Iran sebagai respons atas konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.

Sri Lanka sangat bergantung pada impor energi, termasuk minyak dan batu bara untuk pembangkit listrik. Negara ini mengimpor produk minyak olahan dari Singapura, Malaysia, dan Korea Selatan, serta minyak mentah dari Timur Tengah.

Pemerintah memperingatkan bahwa konflik yang berkepanjangan dapat menghambat upaya pemulihan ekonomi sejak krisis 2022, ketika Sri Lanka gagal membayar utang luar negeri sebesar USD 46 miliar. Sejak itu, negara tersebut mendapatkan bantuan dana talangan sebesar USD 2,9 miliar dari IMF.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya