Imbal Hasil Obligasi Pemerintah di Eropa Meningkat Imbas Perang Iran

Lonjakan harga energi dan kemungkinan kenaikan suku bunga Bank of England akan berdampak terhadap obligasi pemerintah Inggris.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 21 Maret 2026, 18:29 WIB
Obligasi pemerintah Eropa menghadapi “badai sempurna” setelah kekhawatiran inflasi baru yang dipicu oleh konflik Iran memaksa bank sentral kawasan itu memberi sinyal arah baru bagi suku bunga (AP Photo)

Liputan6.com, Jakarta - Obligasi pemerintah Eropa menghadapi “badai sempurna” setelah kekhawatiran inflasi baru yang dipicu oleh konflik Iran memaksa bank sentral kawasan itu memberi sinyal arah baru bagi suku bunga pada Kamis pekan ini. Hal itu menyebabkan imbal hasil melonjak.

Mengutip CNBC, Sabtu (21/3/2026), Bank of England mempertahankan suku bunga di 3,75% pada Kamis pekan ini. Bank sentral Eropa juga mempertahankan biaya pinjaman tetap stabil, karena dampak ekonomi dari melonjaknya biaya energi masih membayangi penentu suku bunga.

Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris berjangka 10 tahun, patokan untuk utang pemerintah Inggris, naik lebih dari 13 basis poin menjadi 4,871%, rekor tertinggi baru dalam 52 minggu pada Kamis pekan ini, sebelum kemudian turun.

Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris jangka waktu 2 tahun, yang biasanya sensitif terhadap keputusan suku bunga, langsung melonjak 39 basis poin dalam kenaikan terbesar sejak anggaran mini Perdana Menteri Liz Truss pada September 2022. Terakhir kali terlihat 27 basis poin lebih tinggi di 4,378%.

Di sisi lain, obligasi Prancis, Jerman dan Italia mengalami tekanan jual tidak terlalu parah, tetapi imbal hasil meningkat di Eropa.

Para ahli strategi pasar mengatakan, langkah Bank of England, keputusan bulat dari sembilan anggota komite kebijakan moneter-nya, secara efektif mengakhiri harapan akan ada penurunan suku bunga lebih lanjut tahun ini dan secara dramatis mengubah prospek kebijakan dari posisi dua pekan lalu.

 

 

Lonjakan Imbal Hasil Obligasi Pemerintah Eropa

Ilustrasi bendera Uni Eropa (AFP Photo)

Head of Rates Aviva Investors, Ed Hutchings menuturkan, peluang kenaikan suku bunga dari Bank of England dalam beberapa bulan mendatang telah meningkat.

“Dengan mempertimbangkan hal ini, dari perspektif alokasi aset, kita dapat mulai melihat investor secara taktis menambah bobot investasi pada obligasi pemerintah Inggris dalam jangka pendek, dengan setidaknya satu kenaikan diperkirakan terjadi akhir tahun ini,” ujar Hutchings.

Sementara itu, Direktur Investasi Aberdeen Investments, Matthew Amis menggambarkan lingkungan yang sedang berkembang sebagai “badai sempurna” bagi pasar obligasi pemerintah Eropa.

“Lonjakan harga energi dan terbukanya kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Bank of England telah menyebabkan obligasi pemerintah Inggris (gilts) melonjak. Obligasi pemerintah Jerman (bunds) relatif tenang dalam badai ini, tetapi masih berada di kisaran 3% karena kekhawatiran inflasi yang serupa,” kata Amis kepada CNBC melalui email.

Deputy Chief Investment Officer of Fixed Incomen Goldman Sachs Asset Management, Simon Danggor menuturkan, langkah selanjutnya yang akan dilakukan European Central Bank (ECB) atau Bank Sentral Eropa menaikkan suku bunga.

“Dewan pengatur jelas peka terhadap risiko inflasi yang meningkat, tetapi kemungkinan akan menilai potensi efek putaran kedua sebelum mengambil langkah,” kata Dangoor.

"Oleh karena itu, kenaikan suku bunga dimungkinkan pada akhir tahun 2026; namun, ECB siap bertindak lebih cepat jika situasinya memburuk.”

 

 

Kenaikan Harga Energi

Ilustrasi Harga Minyak Dunia Hari Ini. Foto: AFP

Harga energi terus meningkat pada Kamis, dengan minyak mentah Brent, patokan internasional, mencapai USD 111,10, naik 3,5%, sementara harga gas alam juga diperdagangkan lebih tinggi.

Eropa telah berupaya untuk mendiversifikasi bauran energinya setelah guncangan harga 2022 yang disebabkan oleh invasi Rusia ke Ukraina. Namun, Eropa tetap menjadi importir bersih minyak dan gas.

“Imbal hasil obligasi pemerintah mulai menyadari krisis ekonomi global yang disebabkan oleh perang di Iran,” ujar Chief Market Analyst IG, Chris Beauchamp kepada CNBC.

Ia menuturkan, investor akan menuntut biaya pinjaman lebih tinggi dari negara-negara di Eropa seiring memburuknya prospek dan ini baru dengan harga minyak Brent di USD 110.

Ke depan, Amis mengatakan, jika ketegangan benar-benar mereda dalam waktu dekat, pasar obligasi pemerintah dapat mulai terlihat menarik. Dalam hal itu, ekspektasi kenaikan suku bunga yang sekarang diperhitungkan untuk sisa tahun 2026 dapat dengan cepat berbalik.

“Namun, untuk saat ini, tanpa akhir yang jelas dan para bankir sentral kembali menggunakan strategi ‘kesalahan yang kita lakukan pada tahun 2022’, pasar obligasi pemerintah Eropa akan tetap menjadi tempat yang bergejolak,” Amis menambahkan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya