Menjaga Konsistensi Ibadah Setelah Bulan Ramadan, Amalan yang Tetap Bisa Dilakukan

Meski bulan Ramadan telah berlalu, aktivitas ibadah yang disyariatkan di dalamnya tidak berakhir di akhir bulan setelahnya.

oleh Devira PrastiwiDiterbitkan 25 Maret 2026, 05:05 WIB
Ilustrasi Khotib yang Menyampaikan Khutbah usai Salat Idul Adha. Foto: Meta AI

Liputan6.com, Jakarta - Di penghujung Ramadan pada zaman Nabi, para sahabat terlihat sangat sedih. Ini karena sabda Nabi Muhammad SAW:

"Tragedi kehilangan bulan Ramadhan, karena pada bulan itu setiap doa terkabul, setiap sedekah diterima, setiap amal kebaikan dilipatgandakan, dan dihapuskan azab Allah."

Bulan Ramadan telah berlalu, terucap 'Marhaban ya Ramadhan Ma’a al-Salamah ila alliqa'. Seperti dikutip dari laman resmi Universitas Islam Indonesia (UII) www.library.uii.ac.id.

Namun, meski bulan Ramadan telah berlalu, aktivitas ibadah yang disyariatkan di dalamnya tidak berakhir di akhir bulan setelahnya. Menjaga istiqamah ibadah bulan Ramadan perlu diteruskan setelahnya.

Istiqamah dan amalan yang terus menerus dapat menjadi tanda diterimanya amal seseorang. Ibnu Rajab berkata: "Jika Allah menerima amal seorang hamba, maka Allah akan memberinya kesempatan untuk beramal setelahnya."

Beberapa ulama lainnya juga mengatakan: "Pahala atas perbuatan baik adalah taufik Allah untuk berbuat baik sesudahnya. Siapapun yang melakukan suatu kebaikan kemudian melakukannya lagi menunjukkan bahwa kebaikan yang sebelumnya telah diterima. Tetapi orang yang berbuat baik, lalu berbuat jahat lagi, itu adalah tanda pengingkaran terhadap kebaikan yang telah dilakukannya."

 

Meneruskan Ibadah Ramadan di Bulan Syawal dan Setelahnya

Ilustrasi Khotib yang Menyampaikan Khutbah usai Salat Idul Adha. Foto: Meta AI

Rasulullah SAW selalu menjaga konsistensi dalam ibadahnya. Ibadah yang diperintahkan olehnya selalu dilakukan dengan tertib. Aisyah menjelaskan bahwa Rasulullah SAW jika melakukan perbuatan baik, maka itu kebiasaan terus dilakukan. Sabda nabi:

"Ibadah yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dilakukan secara rutin meskipun hanya hal kecil."

Rasulullah SAW menjadikan bulan Syawal sebagai waktu yang tepat untuk memulai dan menjaga konsistensi ibadah pasca Ramadhan. Di dalamnya, beliau melakukan puasa enam hari dan menjelaskan nilainya. Sebagaimana sabda nabi:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْر

"Barang siapa yang berpuasa Ramadhan lalu meneruskannya dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, maka pahalanya seperti ia telah berpuasa setahun penuh." [HR. Muslim]

Selain istiqamah rutin menjalankan ibadah seperti dilakukannya selama Ramadan, seorang muslim juga harus menjauhi segala dosa dan keburukan. Karena orang yang telah melakukan berbagai kegiatan ibadah diibaratkan dengan orang yang merajut dan menarik sprei dengan susah payah.

Sedangkan orang yang membangkang dengan meninggalkan perintah Allah atau menjalankan larangan-Nya setelah banyak beribadah adalah seperti orang yang mengurai kain tenunnya. Inilah yang disinggung Allah dalam firman-Nya:

"Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain." [QS. An-Nahl: 92]

 

Amalan-Amalan

Tentang Qadha: Mengganti Puasa yang Terlewat/copyright fimela/adrian putra

Amalan-amalan yang masih terus dapat dilanjutkan pada bulan Syawal dan setelahnya. Berikut adalah beberapa amalan setelah bulan Ramadan yang bisa dilakukan:

Puasa Sunah

Puasa sunah seperti puasa Senin Kamis, puasa Arafah, puasa Syawal dan masih banyak lagi dapat dilakukan setelah ramadhan. Memperpanjang puasa sunnah setelah Ramadhan bisa menjadi amalan yang dianjurkan untuk menjaga keberkahan ibadah.

Nabi SAW bersabda: "Barangsiapa berpuasa selama bulan Ramadhan dan diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka itu seperti puasa sepanjang tahun."

Hal ini menggambarkan pentingnya memulai kembali puasa sunnah setelah Ramadan.

Salat Berjemaah

Jika salat tarawih sebagai sunnah tidak ditinggalkan berjamaah di masjid atau mushalla, maka shalat wajib lima waktu tentunya lebih penting untuk dipertahankan dan ditingkatkan.

Karena amalan itu harus diutamakan dan didahulukan dari amalan sunnah. Salat adalah cahaya dalam kehidupan dunia ini, dalam kubur dan dalam melewati Shirath.

Pada saat dihisap, apabila salat seorang muslim baik maka semua amalan lainnya juga baik. Oleh karena itu, shalat lima waktu secara berjamaah di masjid tetap dilakukan seperti yang dilakukan pada bulan Ramadhan.

Salat Malam

Salat Tarawih adalah salat malam di bulan Ramadan. Saat fajar menyingsing juga ada shalat malam, sehingga umat Islam bisa melaksanakan shalat malam setelah atau sebelum makan. Sayang sekali jika kebiasaan baik ini tidak dilakukan setelah akhir Ramadhan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﻘِﻴَﺎﻡِ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﺩَﺃْﺏُ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤِﻴْﻦَ ﻗَﺒْﻠَﻜُﻢْ، ﻭَﻫُﻮَ ﻗُﺮْﺑَﺔٌ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻜُﻢْ، ﻭَﻣُﻜَﻔِّﺮَﺓٌ ﻟِﻠﺴَّﻴِّﺌَﺎﺕِ، ﻣَﻨْﻬَﺎﺓٌ ﻋَﻦِ ﺍْﻹِﺛْﻢِ

"Lakukanlah salat malam oleh kalian, karena hal itu merupakan kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian. Ia pun dapat mendekatkan kalian kepada Rabb kalian, menghapus segala kesalahan dan mencegah dari perbuatan dosa."

 

Ibadah Lainnya

Ilustrasi Membaca Doa Credit: freepik.com

Tadarus Al-Qur'an

Ramadan adalah bulannya Al-Qur'an, tetapi kita tidak boleh hanya membaca Al-Qur’an selama bulan Ramadan. Karena Al-Qur'an diturunkan untuk dibaca dan menjadi petunjuk di dalam dan di luar bulan Ramadan.

Dalam sehari hendaknya terdapat sejumlah ayat atau surat yang dibaca dan ditadabburi. Hindari sikap kaum yang diadukan Rasulullah SAW kepada Allah Ta’ala dalam Al-Qur'an:

"Berkatalah Rasul: ‘Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan al- Quran ini sesuatu yang ditinggalkan." [QS. Al-Furqan: 30]

Memakmurkan Masjid

Kita dapat mengambil pelajaran-pelajaran berharga seputar puasa Ramadan yang erat kaitannya dengan memakmurkan masjid. Spirit memakmurkan masjid semestinya didapat saat ramadhan dan penerapannya pasca Ramadan.

Kenyataannya, seringkali kita temukan masjid ramai diawal ramadhan, sedangkan di akhir ramadhan bahkan setelah Ramadan kian sepi. Padahal semestinya kita terus memakmurkan masjid meski sudah tidak di bulan ramadhan. Firmah Allah:

"Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. At-Taubah 18).

Banyak Berzikir

Jadilah orang yang banyak berzikir kepada Allah, supaya terlindungi dari segala keburukan dan mendapatkan pahala yang besar. Biasakan membaca zikir pagi dan petang, zikir sebelum tidur, zikir keluar dari rumah, dan sebagainya. Manfaatkan waktu kosong ketika bekerja atau ketika Anda berangkat kerja dengan memperbanyak zikir kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Bersedekah

Sedekah merupakan amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Setelah bulan Ramadan, kita bisa terus amalkan amal dengan lebih banyak memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan, baik berupa uang, makanan, pakaian atau waktu dan tenaga kita sendiri.

Nabi SAW bersabda dalam sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, "Sedekah memadamkan dosa seperti air memadamkan api."

Setelah bulan Ramadan, kita bisa memperbanyak amalan amal kita sebagai bentuk amal yang langgeng.

Selain ibadah-ibadah di atas masih banyak lagi amalan lainnya dapat dilanjutkan setelah bulan Ramadan.

Semoga kita tetap diberi hidayah oleh Allah SWT agar tetap istiqamah menjalankan ibadah sebagaimana kita lakukan selama bulan Ramadan.

infografis Makanan dan Minuman Manis yang Tepat untuk Berbuka Puasa . (Liputan6.com/Abdillah).

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya