Liputan6.com, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunda kunjungan diplomatiknya ke China yang telah direncanakan selama berbulan-bulan, di tengah upayanya mendorong negara-negara besar untuk terlibat dalam pengamanan jalur energi global di Selat Hormuz, termasuk fokusnya pada perang Iran.
Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Irlandia Micheál Martin di Gedung Putih, Trump mengatakan bahwa kunjungannya ke Beijing akan diundur sekitar lima hingga enam minggu dari jadwal semula akhir bulan ini.
Advertisement
Ia menyebut akan “menata ulang” agenda pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping, seraya menegaskan komunikasi antara kedua negara tetap berjalan.
“Kami bekerja sama dengan China — mereka setuju. Saya menantikan pertemuan dengan Presiden Xi,” kata Trump, dikutip dari Japan Today, Rabu (18/3/2026).
Penundaan ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan Washington kepada Beijing dan sejumlah negara lain untuk berkontribusi secara militer dalam menjaga keamanan Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Trump secara terbuka meminta negara-negara yang bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah, termasuk China, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan Prancis, untuk mengerahkan kekuatan militer guna memastikan kelancaran jalur tersebut.
“Kami sangat mendorong negara-negara yang ekonominya lebih bergantung pada selat ini untuk ikut membantu menjaganya,” ujar Trump.
Namun hingga kini, belum ada komitmen konkret dari negara-negara tersebut. Sejumlah pemimpin dunia bahkan dilaporkan menolak pendekatan militer yang diusulkan Washington dan lebih memilih jalur diplomasi.
Kunjungan ke China
Kunjungan Trump ke China sebelumnya dipandang sebagai momentum penting untuk memperkuat gencatan senjata dagang antara dua ekonomi terbesar dunia, setelah periode panjang ketegangan tarif.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent, yang baru-baru ini bertemu Wakil Perdana Menteri China He Lifeng di Paris, menegaskan bahwa perubahan jadwal kunjungan lebih disebabkan faktor logistik, bukan sebagai bentuk tekanan politik terhadap Beijing.
Meski demikian, pernyataan Trump sebelumnya mengaitkan kunjungan tersebut dengan sikap China terhadap keamanan Selat Hormuz, menandakan adanya dimensi geopolitik yang kuat dalam keputusan tersebut.
Di sisi lain, konflik di Timur Tengah, khususnya perang di Iran, turut memengaruhi prioritas kebijakan luar negeri Washington. Lonjakan harga energi akibat ketegangan kawasan menjadi perhatian serius, terutama di tengah dinamika politik domestik AS menjelang pemilu paruh waktu.
Sebagai bagian dari kebijakan energinya, Trump juga mengambil langkah kontroversial dengan mencabut sejumlah sanksi terhadap minyak Rusia, serta memanfaatkan cadangan minyak negara tersebut.
Langkah-langkah ini menandai pergeseran fokus kebijakan AS, dari stabilisasi hubungan dagang dengan China menuju upaya menjaga stabilitas pasokan energi global di tengah eskalasi konflik kawasan.