Kedubes AS Kembali Buka di Caracas Usai Vakum 7 Tahun

Pada 3 Januari lalu, AS menangkap presiden Venezuela saat itu Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores dan dibawa New York.

oleh Tim GlobalDiterbitkan 16 Maret 2026, 08:04 WIB
Percepatan pembebasan tahanan ini terjadi setelah penangkapan mantan Presiden Nicolas Maduro oleh militer Amerika Serikat pada 3 Januari 2026 lalu. Tampak dalam foto, Seorang pendukung oposisi mengibarkan bendera Venezuela dari sebuah kendaraan yang lewat di dekat El Helicoide, markas besar dinas intelijen dan pusat penahanan, setelah beberapa tahanan politik dibebaskan dari tahanan, Caracas, Venezuela, Minggu 8 Februari 2026. (AP Photo/Ariana Cubillos)

Liputan6.com, Caracas - Misi diplomatik Amerika Serikat (AS) di Caracas, Venezuela, kembali beroperasi setelah ditangguhkan selama tujuh tahun, kata Kuasa Usaha Kedubes AS di Venezuela Laura Dogu, Sabtu (14/3/2026).

Pada Maret 2019, Venezuela memutuskan hubungan dengan Amerika setelah Washington mengakui pemimpin oposisi Juan Guaido, yang menyatakan diri sebagai presiden sementara. Pada tahun yang sama, staf diplomatik Amerika meninggalkan negara tersebut, dikutip dari laman Antara News, Senin (16/3).

"Pada Sabtu pagi, 14 Maret 2019, bendera Amerika diturunkan untuk terakhir kalinya di Kedutaan Besar AS di Caracas. Pagi ini, pada 14 Maret 2026, di waktu yang sama, tim dan saya mengibarkan bendera Amerika tepat tujuh tahun setelah diturunkan," kata Dogu seperti disampaikan kedubes tersebut di platform X.

Pada 3 Januari lalu, AS menangkap presiden Venezuela saat itu Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores dan dibawa New York.

Trump kemudian mengumumkan bahwa Maduro dan Flores akan menjalani sidang karena diduga terlibat dalam tindak "narkoterorisme" hingga menimbulkan ancaman, termasuk bagi Amerika.

Sejak penangkapan Maduro, otoritas Amerika dan Venezuela melakukan negosiasi agenda bilateral baru, termasuk kerja sama dalam memerangi perdagangan narkoba, pencairan dana Venezuela, penjualan minyak negara, dan memulai kembali dialog diplomatik.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya