Liputan6.com, Jakarta - Di tengah dominasi film drama, horor, dan romansa di industri perfilman Indonesia, sutradara Upie Guava memilih jalur berbeda lewat Pelangi di Mars.
Ditemui di rumah produksinya, Mahakarya Pictures, di Jakarta, Upie menyebutkan Pelangi di Mars bukan sekadar film fiksi ilmiah, akan tetapi lahir dari keresahan lebih mendalam, tentang anak-anak Indonesia yang menurutnya mulai kehilangan mimpi besar.
Advertisement
Ia bercerita bagaimana generasinya tumbuh dengan banyak cerita mendorong anak untuk menatap masa depan dengan antusias. “Dulu itu pasti ada yang bermimpi ingin menjadi seperti Tintin, bertualang di hutan belantara seperti Indiana Jones,” katanya.
Namun, perasaan itu menurutnya tidak banyak lagi anak-anak memiliki mimpi sekuat dulu. “Bagi mereka saat ini tuh kok seakan-akan menjadi dewasa itu tidak menyenangkan,” ucap Upie.
Ia melihat banyak anak sekarang justru tidak lagi memandang masa depan dengan semangat sama. “Menjadi orang dewasa terlihat melelahkan dan penuh tekanan. Akibatnya dorongan untuk punya cita-cita besar ikut melemah.”
Berangkat dari pandangan tersebut, dia mulai memikirkan pentingnya literasi untuk bisa menyalakan lagi imajinasi anak-anak. Baginya, bangsa besar tidak lahir begitu saja, tetapi dibentuk dari mimpi besar generasi muda.
“Karena itu, saya merasa Indonesia perlu kembali punya cerita yang bisa membuat anak-anak berani bermimpi masa depan. Bukan hanya yang bersifat realistis, tetapi juga masa depan penuh kemungkinan, termasuk lewat kisah sci-fi, fantasi, dan kepahlawanan.”
Di situlah Pelangi di Mars mulai menemukan bentukknya. Upie mengatakan, filim ini dibuat dari keinginan agar Indonesia punya tokoh sentral sendiri dalam cerita futuristik, bukan terus menjadi penonton dalam narasi besar didominasi negara lain.
“Kenapa pahlawannya harus Amerika gitu, kenapa tidak dari Indonesia? Kita Kita tuh nggak punya role model semacam itu loh,” jelasnya. Ia ingin anak-anak Indonesia punya tokoh yang bisa dilihat, dibayangkan, dan dibanggakan dari negari sendiri.
“Jangan melulu karakter luar negeri yang mendominasi layar dan budaya populer saja jadi role model, di dalam negeri juga ada kok. Kita punya komik, tokoh, dan gagasan masa depan yang cukup hidup,” kata Upie.
Menariknya, alasan itu tidak berhenti pada cerita film. Upie juga membuat Pelangi di Mars dengan pendekatan produksi berbeda. Ia banyak memakai tools digital, game engine, virtual production, dan ekosistem Apple untuk membuat ruang kreatif lebih luas.
Kolaborasi dan Sinkronisasi Antar Tim dari iPhone atau iPad
Lebih lanjut, ia merasa fitur kolaborasi, sinkronisasi cloud, dan kemudahan membuka deck dari iPhone atau iPad membuat proses kerja terasa lebih cair dan seamless. Semua materi bisa pindah-pindah antarperangkat tanpa mengganggu riteme berpikir.
Salah satu fitur menarik yang kerap Upie pakai di Keynote adalah remove background. Ia menjelaskan, fitur ini sangat membantu saat menyusun referensi visual, wardrobe, hingga mood board.
“Saya senang banget sama fitur remove background ini. Saya tuh sering banget drag gambar baju, langsung remove backgroud, jadi deh,” paparnya.
Ketika ingin brainstorming, Freeform menjadi ruang kerja paling fleksibel. Upie menyebut aplikasi ini seperti kanvas kosong memberi ruang bagi ide untuk tumbuh lebih liar, spontan, dan mudah dibagikan ke tim.
Sementara itu, GarageBand dan Logic Pro dipakai untuk menangkap sketsa musik kapan saja. Menurutnya, ide tidak selalu datang saat duduk di depan workstation. Kadang muncul di mobil, saat menunggu klien, atau ketika sedang berpindah tepat.
“Saya tuh bikin konsep atau rekam suara di mobil, kadang juga di tempat-tempat umum berbekal iPad dan iPhone saja, tetapi selalu works,” katanya.
Fitur Andalan di Final Cut Pro
Ada satu fitur lain yang juga menarik perhatian Upie, yaitu pencarian berbasis AI di Final Cut Pro. Fitur ini bisa membantu menemukan shot dari potongan dialog atau nama karakter. Dalam produksi film kompleks, kemampuan seperti itu sangat membantu saat mencari materi secara cepat di tengah banyaknya footage.
Dari workflow Upie dalam memproduksi Pelangi di Mars, terlihat bagaimana proses pekerjaan pembuatan film sci-fi lebih cepat tidak selalu datang dari software paling besar atau rumit.
Akan tetapi muncul dari kombinasi fitur masking yang presisi, deck kolaboratif, papan ide fleksibel, sinkronisasi cloud, dan aplikasi audio ringan memberi dampak paling terasa dalam proses produksi.
Di tangan banyak kreator seperti Upie, semua tools punya peran sama penting. Mereka dapat membantu menjaga momentum kreatif tetap hidup, agar ide tidak terhalang dan berhenti karena alat kerja lemot atau berat.