Liputan6.com, Jakarta - Sutradara Pelangi di Mars, Upie Guava mengungkap banyak fitur sederhana untuk mempercepat worflow pembuatan film sci-fi buatan rumah produksinya, Mahakarya Pictures.
Ditemui di Jakarta baru-baru ini, pria yang bernama asli Luthie Abdullahini membongkar rahasia di balik produksi film sci-fi Indonesia tersebut berkat tools mudah dipakai dan langsung terasa manfaatnya di ruang kreatif.
Advertisement
Bagi Upie, alat kerja yang baik harus membantu ide bergerak cepat. Secara terbuka, pria berumur 49 tahun ini mengatakan tidak tertarik pada software terlalu rumit jika pada akhirnya membuat kreator sibuk mengurus teknis dan kehilangan ruang eksplorasi.
“Saya tuh percaya tools harus mudah dipakai,” ujarnya. Pandangan itu menjelaskan kenapa Final Cut Pro menjadi salah satu aplikasi besutan Apple paling sering dipakai.
Alasannya juga sederhana, karena Upie merasa kemampuan software milik perusahaan asal Cupertino ini seimbang dengan kemudahan penggunaan yang ia butuhkan dalam proses kerja sehari-hari.
“Saya pilih Final Cut Pro karena kelihatannya gampang,” jelasnya. Dari sekian banyak fitur di aplikasi, Magnetic Mask menjadi paling ia puji. Menurutnya, fitur ini mampu memberi dampak nyata dalam workflow editing karena bisa memangkas proses selama ini identik dengan pekerjaan berat dan memakan waktu.
“Magnetic Mask tuh fitur Apple paling useful, paling inovatif, paling canggih di Final Cut Pro,” ujarnya. Dengan fitur ini, ia dapat memisahkan subjek dari latar dengan cepat, membuat blur, melakukan isolasi color grading, hingga memanipulasi area tertentu tanpa perlu green screen dan tanpa proses rotoscoping rumit.
“Dia tuh sesimpel klik dan analyze. Cepet banget, udah, dia roto. No more green screen,” katanya. Selain Final Cut Pro, Keynote juga memegang peran besar dalam pembuatan Pelangi di Mars.
Bagi Upie, aplikasi ini bukan sekadar alat presentaso. Keybote juga dipakai untuk menyusun konsep, membangun dunia visual, dan menjaga komunikasi lintas divisi tetap rapi. “Everything Keynote,” ucapnya.
Kolaborasi dan Sinkronisasi Antar Tim dari iPhone atau iPad
Lebih lanjut, ia merasa fitur kolaborasi, sinkronisasi cloud, dan kemudahan membuka deck dari iPhone atau iPad membuat proses kerja terasa lebih cair dan seamless. Semua materi bisa pindah-pindah antarperangkat tanpa mengganggu riteme berpikir.
Salah satu fitur menarik yang kerap Upie pakai di Keynote adalah remove background. Ia menjelaskan, fitur ini sangat membantu saat menyusun referensi visual, wardrobe, hingga mood board.
“Saya senang banget sama fitur remove background ini. Saya tuh sering banget drag gambar baju, langsung remove backgroud, jadi deh,” paparnya.
Ketika ingin brainstorming, Freeform menjadi ruang kerja paling fleksibel. Upie menyebut aplikasi ini seperti kanvas kosong memberi ruang bagi ide untuk tumbuh lebih liar, spontan, dan mudah dibagikan ke tim.
Sementara itu, GarageBand dan Logic Pro dipakai untuk menangkap sketsa musik kapan saja. Menurutnya, ide tidak selalu datang saat duduk di depan workstation. Kadang muncul di mobil, saat menunggu klien, atau ketika sedang berpindah tepat.
“Saya tuh bikin konsep atau rekam suara di mobil, kadang juga di tempat-tempat umum berbekal iPad dan iPhone saja, tetapi selalu works,” katanya.
Fitur Rahasia Final Cut Pro Andalan Upie Guava, Apa Itu?
Ada satu fitur lain yang juga menarik perhatian Upie, yaitu pencarian berbasis AI di Final Cut Pro. Fitur ini bisa membantu menemukan shot dari potongan dialog atau nama karakter. Dalam produksi film kompleks, kemampuan seperti itu sangat membantu saat mencari materi secara cepat di tengah banyaknya footage.
Dari workflow Upie dalam memproduksi Pelangi di Mars, terlihat bagaimana proses pekerjaan pembuatan film sci-fi lebih cepat tidak selalu datang dari software paling besar atau rumit.
Akan tetapi muncul dari kombinasi fitur masking yang presisi, deck kolaboratif, papan ide fleksibel, sinkronisasi cloud, dan aplikasi audio ringan memberi dampak paling terasa dalam proses produksi.
Di tangan banyak kreator seperti Upie, semua tools punya peran sama penting. Mereka dapat membantu menjaga momentum kreatif tetap hidup, agar ide tidak terhalang dan berhenti karena alat kerja lemot atau berat.