Liputan6.com, Beijing - Puluhan Muslim dari berbagai negara rutin berbuka puasa bersama di Masjid Haidian, sekitar 10 kilometer barat laut pusat Kota Beijing, China.
Masjid yang berada dekat kampus seperti Universitas Tsinghua, Universitas Peking, dan Universitas Renmin itu menjadi pusat ibadah bagi mahasiswa dan warga asing dari Indonesia, Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika.
Advertisement
“Di Zanzibar, Ramadan adalah waktu bersama keluarga. Biasanya kami mengundang kerabat, teman, atau rekan kerja untuk berbuka dengan makanan yang disiapkan,” kata Mohamed Omar Masoud, mahasiswa magister asal Zanzibar, Tanzania, Selasa (10/3/2026).
“Di Masjid Haidian, saya berbuka setiap hari karena atmosfernya mengingatkan saya pada suasana kebersamaan saat berbuka di Zanzibar,” tambah Masoud, dikutip dari Antara News, Sabtu (14/3/2026).
Masjid Haidian menyediakan buka puasa setiap hari dengan hidangan di meja bundar di halaman depan, dapat dinikmati bersama jemaah dari berbagai negara, termasuk perempuan dan warga lokal.
Meski merindukan keluarga dan masakan rumah, Masoud mengatakan puasa di Beijing berjalan lancar, walau Ramadan di perantauan terasa berbeda.
“Saya rindu makanan khas Zanzibar seperti singkong rebus dimasak dengan air kelapa dan disajikan dengan ikan bercita rasa asam,” ujarnya.
Namun, kerinduan itu tergantikan oleh komunitas Muslim di Masjid Haidian, yang baginya menjadi keluarga baru.
“Kami berbeda negara dan bahasa, tapi sebagai Muslim kami bersaudara. Itu sebabnya saya datang tiap hari, duduk dan makan bersama orang-orang yang membuat saya merasa seperti di rumah,” kata Masoud.
Selama berbuka, ia berteman dengan jemaah dari Nigeria, Zambia, Sierra Leone, Pakistan, Uzbekistan, dan Muslim lokal China.
Meski ada kendala bahasa, Mohamed menyebut interaksi dengan Muslim China lebih mudah karena cukup menyapa dengan “assalamu’alaikum” untuk memulai percakapan.
Ikatan persaudaraan membuatnya merasa aman dan diterima, ditambah interaksi hangat meski berbeda latar belakang.
Masjid Haidian yang dibangun pada akhir Dinasti Ming abad ke-17 ini menyediakan buka puasa gratis bagi 40 jemaah setiap hari selama Ramadan.
Di sekitar masjid juga terdapat toko makanan halal yang menjual hidangan sapi Yaofengcheng, daging kambing olahan, dan bakpao.