Liputan6.com, Jakarta - Transplantasi ginjal menjadi salah satu usaha bagi pasien gagal ginjal stadium akhir. Prosedur ini memungkinkan pasien mendapatkan ginjal sehat dari pendonor sehingga kualitas hidup dapat meningkat dibandingkan dengan terapi dialisis jangka panjang.
Namun, pelaksanaan transplantasi ginjal di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan pendonor, proses medis yang panjang, hingga kesiapan fasilitas kesehatan.
Advertisement
Ketua Umum Yayasan Komunitas Cangkok Ginjal Indonesia, Supriyanto, menjelaskan transplantasi ginjal bukan prosedur yang sederhana. Ada sejumlah tahapan yang harus dilalui pasien dan calon pendonor sebelum tindakan operasi bisa dilakukan.
“Proses tersebut melibatkan pemeriksaan medis, penilaian kecocokan pendonor dan penerima, hingga evaluasi kondisi kesehatan secara menyeluruh untuk memastikan transplantasi bisa dilakukan dengan aman,” ujarnya dalam acara Kidney Health for All, Caring for Protecting the Planet pada Rabu, 11 Maret 2026.
Tantangan Transplantasi Ginjal
Di Indonesia, terdapat 3 faktor utama yang menjadi tantangan dalam pelaksanaan transplantasi ginjal. Faktor pertama adalah keterbatasan jumlah donor ginjal di Indonesia.
“Sedikitnya masyarakat yang berani untuk mendonorkan ginjal tidak sebanding dengan kebutuhan pasien,” ujarnya.
Selanjutnya, kurang kesiapan fasilitas dan tenaga medis. Tidak semua rumah sakit memiliki kemampuan melakukan transplantasi ginjal karena operasi ini memerlukan tim dokter khusus serta fasilitas medis yang lengkap. Hal ini menyebabkan layanan transplantasi masih terkonsentrasi di rumah sakit tertentu.
Terakhir adalah pembiayaan dan akses layanan kesehatan. Perawatan pasien gagal ginjal, termasuk dialisis dan transplantasi, memerlukan biaya yang tidak sedikit. Pembiayaan untuk terapi pengganti ginjal seperti hemodialisis terus meningkat setiap tahunnya.
Tahapan Transplantasi Ginjal
Transplantasi ginjal memiliki tahapan yaitu dimulai dengan proses skrining dan evaluasi medis. Pasien yang mengalami gagal ginjal akan menjalani berbagai pemeriksaan, seperti tes darah, pemeriksaan fungsi organ, serta evaluasi kondisi jantung dan pembuluh darah.
Pemeriksaan ini penting untuk memastikan bahwa pasien cukup kuat menjalani operasi transplantasi. Selain itu, calon pendonor juga harus melalui pemeriksaan kesehatan yang ketat untuk memastikan organ yang didonorkan dalam kondisi baik.
Kemudian adalah proses pencocokan pendonor dan penerima. Dalam transplantasi ginjal, kesesuaian jaringan dan golongan darah menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan operasi.
“Jika kecocokan tidak terpenuhi, risiko penolakan organ oleh tubuh penerima bisa terjadi dan menimbulkan penyakit baru,” tambahnya.
Oleh karena itu, proses ini membutuhkan waktu yang lama hingga ditemukan ginjal yang sesuai.
Terakhir adalah tindakan operasi transplantasi serta pemantauan pascaoperasi. Setelah ginjal pendonor ditransplantasikan, pasien masih harus menjalani perawatan intensif serta mengonsumsi obat imunosupresan untuk mencegah penolakan organ. Selain itu, pemantauan kesehatan dilakukan secara berkala agar fungsi ginjal baru bisa berfungsi dengan baik.
Deteksi Dini dan Edukasi
Maka itu perlu dilakukan berbagai upaya lewat edukasi bahkan deteksi dini untuk mencegah terjadinya gagal ginjal.
“Kalau kita bisa mencegah dan melakukan deteksi dini, gagal ginjal bisa dihindari atau setidaknya ditunda,” pungkasnya.
Dengan peningkatan edukasi kesehatan, perluasan fasilitas layanan, serta kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan ginjal, diharapkan transplantasi ginjal di Indonesia tidak terus bertambah.