Malam Ramadan di Jeddah Hidup dengan Permainan Tradisional dan Kuliner Jalanan

Pada malam Ramadan di Jeddah, terasa belum lengkap tanpa permainan tradisional yang dulu menjadi bagian penting kehidupan sosial.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 08 Maret 2026, 20:00 WIB
Ilustrasi bendera Arab Saudi (AFP Photo)

Liputan6.com, Riyadh - Saat malam tiba di bulan Ramadan, suasana di berbagai lingkungan di Kota Jeddah berubah menjadi pusat keramaian. Tawa, percakapan hangat, serta aroma makanan jalanan memenuhi sudut-sudut kota setelah warga menyelesaikan berbuka puasa dan salat Tarawih.

Di balik nuansa spiritual bulan suci, tradisi sosial yang telah berlangsung lama tetap hidup. Berbagai permainan klasik hingga warung makan sederhana menjadi sarana berkumpul bagi keluarga, tetangga, dan teman-teman, dikutip dari laman Arab News, Minggu (8/3/2026).

Bagi banyak warga, malam Ramadan terasa belum lengkap tanpa permainan tradisional yang dulu menjadi bagian penting kehidupan sosial. Meskipun hiburan digital kini semakin dominan, sejumlah permainan klasik tetap bertahan di rumah-rumah maupun tempat berkumpul masyarakat.

Salah satu permainan yang masih populer adalah karom, permainan meja yang berasal dari anak benua India. Permainan ini menggunakan papan kayu persegi dengan empat lubang di setiap sudut. Para pemain harus menjentikkan cakram kecil ke dalam lubang menggunakan jari dengan ketepatan dan strategi. Karom dapat dimainkan oleh dua hingga empat orang, dan pemenang ditentukan berdasarkan jumlah skor tertinggi.

Selain itu, permainan kartu baloot juga masih menjadi favorit di Arab Saudi dan kawasan Teluk. Permainan ini dimainkan oleh dua tim yang masing-masing terdiri dari dua orang dengan menggunakan 32 kartu. Baloot menuntut kerja sama tim dan kecepatan berpikir, dengan tim pertama yang mencapai 152 poin dinyatakan sebagai pemenang.

Yasser Al-Soufi, yang kerap mengadakan permainan baloot larut malam di kawasan bersejarah Al-Balad, mengatakan bahwa permainan tersebut menjadi sarana mempererat hubungan sosial selama Ramadan.

“Setiap malam dari pukul 10 hingga tengah malam, orang-orang berkumpul untuk bermain baloot dan bersosialisasi. Ini cara yang menyenangkan bagi teman dan tetangga untuk terhubung dan berbagi semangat Ramadan,” ujarnya.

 

Permainan Klasik

Ilustrasi bendera Arab Saudi. (Usnplash)

Selain permainan klasik, sejumlah keluarga juga mulai memainkan permainan edukatif bertema Ramadan yang dirancang untuk anak-anak. Toko permainan seperti Akwan menawarkan berbagai permainan interaktif yang memperkenalkan budaya Arab, nilai-nilai sosial, serta tradisi Ramadan kepada generasi muda.

Pendiri Akwan, Lujain Abulfaraj, mengatakan permainan tersebut dirancang untuk membantu anak-anak terhubung dengan budaya dan nilai Ramadan melalui pengalaman yang menyenangkan.

Di sisi lain, toko buku seperti Jarir Bookstore juga menawarkan kartu trivia Islami yang memuat kisah kehidupan Nabi Muhammad, para sahabat, serta sejarah Islam.

Sementara itu, di luar rumah, suasana Ramadan semakin terasa dengan kehadiran deretan warung makanan jalanan. Di kawasan Makronah, seorang pedagang bernama Abu Saad terlihat sibuk menyiapkan hati goreng di atas wajan panas, salah satu hidangan favorit warga saat Ramadan.

Meski harga bahan baku seperti minyak dan sayuran meningkat, para pedagang berusaha menjaga harga tetap terjangkau demi melayani masyarakat yang datang menikmati kebersamaan di malam Ramadan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya