Liputan6.com, Jakarta - Ahli Kecantikan Kristyn Smith bukanlah sosok asing di dunia skincare para selebritas. Ia dikenal pernah menangani sejumlah nama besar, termasuk Bella Hadid dan Jacquelyn Jablonski.
Menurut pendiri Practise NYC tersebut, mengutip New York Post, 7 Maret 2026, ada satu kesalahan dalam penggunaan skincare yang masih sering dilakukan banyak orang, baik oleh model profesional maupun masyarakat umum.
Advertisement
Ia menyebut, kebiasaan tersebut dapat memicu peradangan, yang pada akhirnya justru memperburuk kondisi kulit. Masalah utamanya adalah koreksi berlebihan dalam perawatan kulit.
Ia memperingatkan bahwa banyak orang cenderung menggunakan terlalu banyak produk, alat, dan berbagai jenis perawatan dalam waktu yang singkat. Menurutnya, tidak sedikit orang keliru menafsirkan iritasi pada kulit sebagai tanda bahwa perawatan yang dilakukan sedang "bekerja."
Kulit pada dasarnya tidak merespons dengan baik terhadap rangsangan yang terus-menerus seperti penggunaan berbagai produk atau perawatan secara berlebihan. "Kulit membutuhkan ritme dan waktu untuk pemulihan," jelasnya.
"Ketika kulit ditekan terlalu keras, sering kali muncul peradangan kronis tingkat rendah yang dapat merusak hasil perawatan dalam jangka panjang," ia menambahkan.
Karena itu, meski banyak orang tergoda untuk segera mencoba tren perawatan wajah terbaru, ia menegaskan bahwa pendekatan yang lebih terukur dan bertahap selalu lebih baik dibandingkan rutinitas perawatan yang reaktif dan hanya mengikuti tren.
Anak muda sering kali lebih mudah tergoda mengikuti tren perawatan kulit secara berlebihan, dan kebiasaan ini bisa menimbulkan masalah kulit jangka panjang.
Mengikuti Tren Skincare Berlebihan
Para ahli bahkan memperingatkan, anak-anak dan remaja berisiko mengembangkan alergi kontak seumur hidup, misalnya terhadap wewangian dalam produk perawatan, yang nantinya membatasi pilihan produk yang aman untuk mereka gunakan.
Salah satu penyebabnya adalah penggunaan terlalu banyak bahan aktif sekaligus. Eksfolian seperti AHA atau retinol, bila dipakai berlebihan, bisa merusak lapisan pelindung alami kulit. Akibatnya, kulit remaja menjadi lebih sensitif, mudah iritasi, dan lebih rentan mengalami masalah kulit lain di masa depan.
Smith menjelaskan bahwa produk perawatan kulit dari drugstore sering sama efektifnya dengan produk mahal. Harga tinggi tidak menjamin hasil lebih baik, asalkan kandungannya sesuai kebutuhan kulit.
"Harga bukan yang utama, melainkan kualitas formulasi dan cara penggunaan produk," tegasnya.
Harga Mahal Bukan Jaminan
Efektivitas perawatan kulit lebih bergantung pada strategi penggunaan, bukan biaya. Kulit merespons lebih baik jika produk dipilih tepat dan digunakan berlapis dengan tujuan jelas.
Ia menambahkan, penting juga menyertakan setidaknya satu produk yang merangsang aktivitas sel kulit. Produk ini menjaga kulit tetap aktif dan bekerja optimal, bukan sekadar perawatan dasar.
Selain itu, Smith menekankan bahwa ada kelompok tertentu yang sebaiknya lebih berhati-hati, atau bahkan menghindari beberapa jenis perawatan wajah. "Sebagai aturan umum, hindari perawatan wajah tradisional ketika kulit sedang meradang, misalnya saat mengalami rosacea, eksim, atau gangguan lapisan pelindung kulit," ujarnya.
Tidak Semua Kondisi Kulit Cocok untuk Perawatan Wajah
Perawatan wajah biasa biasanya dibuat untuk kulit yang stabil. Jika dilakukan pada kulit yang sensitif atau meradang, perawatan ini justru bisa memperparah iritasi. Menurut Smith, menangani kulit yang meradang butuh pendekatan hati-hati dan klinis.
"Perawatan kulit meradang tidak bisa diterapkan sama untuk semua kondisi," ujarnya.
Meski begitu, profesional berpengalaman atau tenaga medis bisa menangani kulit bermasalah. Namun, metode yang digunakan berbeda dari perawatan tradisional: lebih minimalis, fokus menenangkan, menstabilkan, dan mendukung kondisi kulit, bukan menstimulasi.