Liputan6.com, Beijing - Kawasan Muslim Niujie di Distrik Xicheng, Beijing, sekitar lima kilometer dari pusat kota, bertambah ramai dan semarak selama bulan Ramadan dengan hadirnya bazar makanan halal dan aktivitas ibadah di masjid tertua di ibu kota China tersebut.
Niujie telah dikenal sebagai permukiman Muslim Beijing selama lebih dari seribu tahun dengan populasi sekitar 10.000 umat Islam dari etnis minoritas Hui yang mempertahankan tradisi budaya China dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Advertisement
“Banyak makanan halal di sepanjang jalan Niujie dan suasananya mirip bazar Ramadan di Indonesia, tetapi dengan hidangan halal khas China. Kami juga ingin merasakan suasana berbuka puasa dan salat magrib di masjid pertama di Beijing,” kata mahasiswa S2 Universitas Tsinghua, Akbar Rayzen, asal Bandung, yang ditemui ANTARA di kawasan Niujie pekan lalu.
Akbar datang bersama dua temannya dari Solo dan Riau. Ia mengaku tertarik merasakan keramaian mencari takjil dan suasana kebersamaan saat berbuka puasa dengan komunitas Muslim setempat yang jarang ditemui di Beijing, dikutip dari Antara News, Minggu (8/3/2026).
Sepanjang sekitar satu kilometer jalan di kawasan itu dipenuhi toko dan rumah makan halal yang menjual berbagai hidangan khas etnis Hui seperti mi daging sapi, bakpao daging kambing, sate ginjal kambing, serta kue bulan berisi lima jenis kacang. Harga makanan mulai dari enam yuan atau sekitar Rp14 ribu.
Aroma kue manis yang bercampur dengan wangi masakan daging tercium dari jendela-jendela toko, menghadirkan suasana yang mengingatkan pada bazar takjil di berbagai kota di Indonesia.
Pedagang laki-laki terlihat mengenakan peci putih atau hitam yang dikenal sebagai Huíhuí mào, mirip songkok di Indonesia, sementara pedagang perempuan mengenakan kerudung khas Hui atau gàitóu bermotif bunga kecil dengan tepian renda.
Antrean panjang pembeli yang didominasi warga lokal China menambah kemeriahan suasana menjelang waktu berbuka puasa.
Suasana kebersamaan juga terasa di Masjid Niujie, masjid tertua dan terbesar di Beijing yang menjadi pusat kegiatan ibadah umat Islam di kawasan tersebut.
Masjid Niujie Dibangun pada Tahun 996
Masjid Niujie dibangun pada tahun 996 dengan arsitektur kayu tradisional China yang didominasi warna merah, hijau, biru, dan kuning dengan sentuhan gaya Arab. Kompleks seluas sekitar 6.000 meter persegi itu mampu menampung hingga 1.000 jamaah.
Di ruang salat, kaligrafi Arab bergaya China menghiasi dinding dan balok kayu penyangga atap, berdampingan dengan lukisan tradisional seperti motif bunga, kuas kaligrafi, guci, gulungan kertas, dan keramik porselen dari era Dinasti Ming.
Selama Ramadan, pengurus masjid menyediakan hidangan berbuka puasa gratis berupa kurma, jeruk, mentimun, kue, potongan ayam goreng, serta teh melati tawar yang disajikan di meja-meja di halaman utama masjid.
Menjelang waktu berbuka, jamaah berkumpul di meja yang tersedia. Sirene kemudian dibunyikan sebagai penanda waktu magrib sebelum jamaah menyantap hidangan yang telah disediakan.
Meskipun sebagian besar jamaah hanya berbicara dalam bahasa Mandarin, suasana kehangatan tetap terasa melalui senyum dan keramahan mereka, termasuk membantu mengambilkan makanan bagi jamaah asing.
Berbeda dengan praktik di Indonesia, azan magrib di Masjid Niujie baru dikumandangkan setelah jamaah selesai berbuka puasa, kemudian disusul ikamah sekitar satu menit kemudian.
Setelah salat magrib, sejumlah jamaah terlihat berbincang. Seorang Muslim asal Xinjiang bahkan menghampiri ANTARA dan beberapa warga Indonesia yang salat di masjid tersebut sambil menawarkan mi daging sapi gratis.
Ia mengaku mengenali jamaah Indonesia dari media sosial yang sering menampilkan aktivitas Muslim Indonesia.
Gestur sederhana namun penuh keakraban itu menunjukkan bahwa kehangatan Ramadan melampaui batas budaya serta mencerminkan kedekatan emosional antara komunitas Muslim di berbagai belahan dunia.