Liputan6.com, Abu Dhabi - Aktivitas konsumsi masyarakat di Uni Emirat Arab meningkat signifikan selama bulan Ramadan. Meski identik dengan menahan diri, periode ini justru menjadi salah satu musim belanja paling sibuk bagi sektor ritel dan industri makanan di negara tersebut.
Menjelang waktu berbuka puasa, rumah-rumah di berbagai kota dipenuhi persiapan hidangan. Kurma, sup hangat, nasi dengan kacang dan kismis, hingga daging panggang menjadi menu yang umum disajikan saat iftar.
Advertisement
Riset yang dilakukan Redseer memperkirakan total belanja ritel masyarakat UEA selama Ramadan mencapai sekitar US$10 miliar, meningkat sekitar 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan terbesar terjadi pada kategori bahan makanan dan produk kecantikan yang masing-masing mencatat kenaikan pengeluaran lebih dari 20 persen.
Pertumbuhan konsumsi ini juga didukung kondisi ekonomi yang relatif kuat. International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi UEA pada 2026 mencapai sekitar 5 persen, yang turut meningkatkan kepercayaan konsumen, dikutip dari laman Khaleejtimes, Sabtu (7/3/2026).
Menurut riset industri oleh HLB International, pengeluaran rumah tangga untuk makanan selama Ramadan dapat meningkat antara 50 hingga 100 persen. Bahkan, bulan ini diperkirakan menyumbang sekitar 15 persen dari total belanja makanan tahunan rumah tangga di UEA.
Beberapa bahan pokok mengalami peningkatan konsumsi signifikan. Konsumsi roti meningkat sekitar 63 persen, ayam naik 66,5 persen, dan buah kering bertambah sekitar 25 persen dibandingkan bulan biasa.
Meski restoran tetap ramai menjelang berbuka, sebagian besar masyarakat lebih memilih makan di rumah. Survei Ipsos menunjukkan 47 persen responden justru lebih jarang memesan makanan melalui layanan pesan antar selama Ramadan.
Di sisi lain, sektor restoran mengalami pola permintaan yang terkonsentrasi pada malam hari. Manajer produk di Syrve, Gadzhibala Pirmagomedov, menyebut volume pesanan secara keseluruhan turun hingga 39 persen, namun melonjak tajam pada periode 17.00–23.00.
Kepala pengembangan bisnis FORTIS Digital Solutions, Robert Kochiniyan, menilai Ramadan menciptakan pola konsumsi unik. Menurut dia, permintaan cenderung terkonsentrasi dalam waktu singkat dengan nilai belanja yang lebih besar serta didominasi transaksi digital.