[Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: Ramadan Saat yang Tepat untuk Berhenti Merokok

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara dalam kolom pakar kali ini mengingatkan bahwa bulan suci Ramadan jadi momen tepat untuk berhenti merokok.

oleh Prof Tjandra Yoga AditamaDiterbitkan 04 Maret 2026, 10:00 WIB
Prof Tjandra Yoga Aditama berbicara tentang keberhasilan China dalam penanganan Tuberkulosis.

Liputan6.com, Jakarta - Para perokok yang berpuasa akan berhenti merokok sejak sahur sampai berbuka puasa di bulan Ramadan. Saya menganjurkan kepada masyarakat luas agar memanfaatkan momentum bulan suci Ramadan tahun ini untuk berhenti merokok sepenuhnya.

Setidaknya ada tujuh hal penting tentang berhenti merokok di bulan Ramadan. Pertama, asap rokok mengandung ribuan jenis senyawa kimia, ratusan jenis diantaranya merupakan zat beracun dan berhubungan dengan kejadian puluhan penyakit, dari kepala sampai ke kaki.

Kedua, asap rokok menimbulkan gangguan pada orang lain. Tentu pada saat beribadah puasa maka seseorang tidak sepatutnya menimbulkan gangguan pada orang lain

Ketiga, selama bulan suci Ramadhan Anda sudah berhenti merokok dari mulai sahur sampai berbuka, lanjutkan untuk tidak merokok sampai pada sahur berikutnya.

Keempat, tanamkan niat yang kuat di Bulan Suci ini untuk berhenti merokok dan juga menolak godaan untuk mulai merokok. Kita ketahui bahwa adalah salah anggapan bahwa perokok tidak bisa beraktivitas tanpa merokok. Selama bulan puasa, para perokok terbukti bisa terus aktif dari pagi sampai sore hari tanpa rokok. Artinya, memang tidak benar pendapat bahwa harus merokok dulu baru bisa bekerja, pengalaman nyata di bulan puasa ini membuktikan sebaliknya.

 

Jangan Buka Puasa Merokok

Kelima, jangan buka puasa dengan merokok. Berbuka puasa dianjurkan dengan makanan manis dan bergizi, bukan rokok. Kalau masih ada yang begitu beduk berbuka maka lansung merokok maka ini tentu bukan hal yang baik, dan harus dihindari.

Merokok saat berbuka puasa akan memperparah kondisi tubuh yang relatif lemah setelah seharian tidak makan dan minum.

Keenam, perilaku berhenti merokok agar dilanjutkan pada hari-hari selanjutnya setelah bulan Ramadhan. Kan sudah terbukti bahwa para perokok tetap dapat beraktifitas dengan baik dari pagi sampai sore, jadi ketagihan rokok sebenarnya sudah bisa dikendalikan ketika berpuasa.

Ketujuh, berhenti merokok di bulan Ramadhan akan memberi manfaat bagi kesehatan dan kehidupan serta lingkungan.

 

** Penulis adalah Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University, Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara / Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kabalitbangkes

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya