Liputan6.com, Jakarta - Mabes Polri turun tangan mengawal kasus meninggalnya Nizam, bocah di Sukabumi, Jawa Barat (Jabar). Asistensi dilakukan sejak awal supaya penanganan berjalan profesional.
Direktur Tindak Pidana Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pidana Perdagangan Orang Bareskrim Polri Brigjen Pol Nurul Azizah memastikan Bareskrim ikut mengawasi proses penyidikan.
Advertisement
"Dari awal kami dari Mabes sudah kawal kasus ini, melakukan asistensi, untuk ditangani secara profesional," ujar Nurul kepada wartawan, Selasa (3/3/2026).
Terkait dugaan pembiaran kekerasan oleh ayah korban, Nurul menegaskan hal itu bisa dipidana baik berdasarkan KUHP maupun Undang-Undang Perlindungan Anak.
"Betul, baik berdasarkan KUHP maupun UU Perlindungan Anak," ucap dia.
Namun, indikasi pembiaran tersebut masih harus diselidiki lebih lanjut.
"Sedang saya cek, apakah ada indikasi ke sana atau tidak," terang Nurul.
Pendalaman dilakukan melalui Ditres PPA Polda Jawa Barat. Temuan dugaan pembiaran sebelumnya mencuat dalam RDPU, termasuk dari isi percakapan ayah dan ibu korban.
"Ya, kami sedang dalami melalui Ditres PPA Polda Jabar," tandas Nurul.
Fakta Baru Kematian Bocah di Sukabumi: Tak Hanya Ibu Tiri, Ayah Kandung Juga Ikut Siksa Korban
Sebelumnya, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Diyah Puspitarini, mengungkap dugaan mengejutkan terkait kasus kematian NS (12) di Sukabumi, Jawa Barat. Dia menyebut, ayah kandung korban berinisial AS diduga turut melakukan penganiayaan terhadap anaknya.
Pernyataan itu disampaikan Diyah dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin 2 Maret 2026.
Diyah menjelaskan, saat mendatangi lokasi pemakaman korban yang berada di dekat rumah paman atau bibinya, pihaknya sempat bertemu dengan keluarga besar dan warga sekitar. Dari pertemuan tersebut, KPAI memperoleh sejumlah informasi penting.
"Ananda NS ini sangat dekat dengan keluarga Uwak, bahkan dimakamkan di dekat rumah mereka," ujar Diyah.
Setelah berbincang dengan keluarga dan tetangga, muncul fakta bahwa kekerasan terhadap NS tidak hanya dilakukan oleh ibu tirinya, tetapi juga oleh sang ayah. Dugaan itu disebut terjadi secara berulang, terutama dalam empat tahun terakhir.
Pernyataan tersebut kemudian ditanggapi Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, yang menanyakan sumber informasi itu.
"Itu dari tetangga?," tanyanya.
Diyah menjawab, informasi berasal dari tetangga dan keluarga besar. Dia menambahkan, kekerasan diduga mulai dialami NS sejak usia sembilan tahun.
"Ketika kami tanyakan mengapa tidak ada yang menghentikan, keluarga besar mengaku sudah mengingatkan. Namun jawaban ayah selalu sama, 'Itu anak saya, itu urusan saya,'" ungkap Diyah.
Bentuk Kekerasan dan Kondisi Mengenaskan Bocah NS
Wakil Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) itu kembali menggali keterangan terkait bentuk kekerasan yang dialami NS. Dia memastikan agar tidak ada fakta yang terlewat dalam pengungkapan kasus ini.
"Biar tidak kelewat, bentuk kekerasannya sempat disampaikan?," tanya Habiburokhman.
Diyah pun menjawab singkat, "Ada, pemukulan."
Habiburokhman kembali menegaskan, "Dipukul, ya?"
"Dipukul, ditampar. Setelah itu, ibu tiri juga beberapa kali melakukan kekerasan. Keluarga besar sudah mengingatkan, tetapi alasannya selalu sama, ‘Itu anak saya, itu urusan saya,’" jawab Diyah.
Kematian NS menyisakan duka sekaligus tanda tanya besar. Hampir seluruh tubuh bocah itu dipenuhi luka melepuh, mulai dari dada hingga kaki. Kondisi tersebut memunculkan dugaan kuat adanya kekerasan yang dialaminya sebelum meninggal dunia di RSUD Jampang Kulon.
Dalam kondisi kritis di Instalasi Gawat Darurat (IGD), NS masih sempat menyampaikan pengakuan yang memilukan kepada ayah dan kakek angkatnya, Haji Isep. Dengan suara lirih, dia mengungkapkan bahwa dirinya disiksa oleh ibu tirinya dengan cara dipaksa meminum air panas.
Kesaksian tersebut diperkuat oleh Haji Isep, yang menyebut korban secara jelas menunjuk ibu tirinya sebagai pelaku.
"Dia bilang itu sama mama (ibu tiri). Ada bukti videonya, itu ucapan almarhum sendiri," ungkapnya.