Liputan6.com, Jakarta - PT Astra International Tbk (ASII) mencatat kinerja keuangan turun tipis sepanjang 2025. Perseroan membukukan pendapatan susut dua persen dan laba bersih terpangkas tiga persen.
PT Astra International Tbk meraup pendapatan Rp 323,39 triliun pada 2025. Pendapatan perseroan turun dua persen dibandingkan 2024 sebesar Rp 328,48 triliun.
Advertisement
Seiring pendapatan yang turun itu, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk susut tiga persen menjadi Rp 32,76 trilun dari 2024 sebesar Rp 33,90 triliun.
“Pada 2025, laba grup mengalami penurunan terutama disebabkan harga batu bara yang lebih rendah dan lemahnya pasar mobil baru. Namun, kinerja bisnis grup tetap resilien didukung oleh kontribusi yang baik dari bisnis-bisnis lainnya,” ujar Presiden Direktur PT Astra International Tbk, Djony Bunarto Tjondro dikutip dari keterangan resmi, Jumat (27/2/2026).
Adapun penurunan kontribusi dari bisnis jasa penambangan dan pertambangan batu bara serta bisnis mobil baru itu diimbangi oleh kinerja lebih baik dari bisnis pertambangan emas, jasa keuangan dan bisnis sepeda motor.
Ia menuturkan, ke depan, meskipun kondisi operasional pada beberapa bisnis perseroan masih tetap menantang, pihaknya memperkirakan sentimen konsumen secara keseluruhan akan membaik.
“Astra akan tetap berfokus pada keunggulan operasional dan alokasi modal yang disiplin, dengan memanfaatkan posisi neraca Astra yang kuat untuk mendukung penciptaan nilai yang berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan,” kata dia.
Selain itu, perseroan mencatat laba bruto turun 2,21 persen menjadi Rp 71,44 triliun dari 2024 sebesar Rp 73,05 triliun. Laba sebelum pajak penghasilan susut 7 persen menjadi Rp 49,28 triliun pada 2025 dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 53 triliun. Demikian mengutip laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI).
Seiring hal itu, laba per saham perseroan turun tiga persen menjadi Rp 810 per saham dari periode 2024 sebesar Rp 837 per saham.
Aset Astra
Ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 7 persen menjadi Rp 228,90 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 213,67 triliun. Liabilitas perseroan naik 8,57 persen menjadi Rp 216,55 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 199,44 triliun. Aset perseroan bertambah 7,6 persen menjadi Rp 507,36 triliun pada 2025 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 471,44 triliun.
Nilai aset bersih per saham naik 8 persen menjadi Rp 5.692 triliun dari 2024 sebesar Rp 5.278 triliun.
Kas bersih, tidak termasuk anak perusahaan Jasa Keuangan Grup, mencapai Rp7,2 triliun pada 31 Desember 2025, menurun dibandingkan Rp8,0 triliun pada 31 Desember 2024. Utang bersih anak perusahaan Jasa Keuangan Grup mencapai Rp 64,9 triliun pada 31 Desember 2025, meningkat dibandingkan Rp60,2 triliun pada 31 Desember 2024.
Kontribusi Divisi Bisnis
Otomotif dan mobilitas
Dari divisi otomotif dan mobilitas mencatat laba bersih sebesar Rp 11,36 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp 11,40 triliun.
Jasa Keuangan
Dari divisi jasa keuangan, laba bersih naik 9 persen menjadi Rp 8,95 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp 8,20 triliun
Alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi
Dari divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi tercatat laba bersih susut 24 persen menjadi Rp 9,09 triliun pada 2025 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 11,99 triliun
Agribisnis
Dari divisi agribisnis membukukan laba bersih tumbuh 28 persen menjadi Rp 1,17 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 914 miliar
Infrastruktur
Dari divisi infrastruktur mencatat laba bersih melonjak 24 persen menjadi Rp 1,25 triliun pada 2025 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1,01 triliun
Teknologi Informasi
Dari divisi teknologi informasi mencatat laba bersih naik 33 persen menjadi Rp 208 miliar pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 156 miliar
Properti
Divisi properti mencetak laba bersih naik 224% menjadi Rp 719 miliar dari periode sama tahun sebelumnya Rp 222 miliar.
Dividen Final
Perseroan akan mengusulkan dividen final Rp 292 per saham (2024: Rp 308 per saham) dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan perseroan pada April 2026.
Dividen final yang akan diusulkan tersebut, ditambah dengan dividen interim sebesar Rp98 per saham (2024: Rp98 per saham) yang telah dibagikan pada Oktober 2025, akan menjadikan total dividen yang diusulkan untuk tahun 2025 sebesar Rp390 per saham (2024: Rp406 per saham), dengan rasio pembayaran dividen sebesar 48%.