Liputan6.com, Jakarta - Bayi monyet Punch seketika jadi sensasi dunia maya usai kisahnya yang memilukan menyentuh hati jutaan pengguna media sosial di seluruh dunia. Dia ditolak induknya dan diberi boneka orang utan untuk menemaninya saat menyesuaikan diri dengan kawanan monyet lain di Kebun Binatang Ichikawa, Kota Nomi, Jepang.
Usahanya berteman tak langsung mendapat hasil memuaskan. Dalam video berbeda terekam bayi primata berusia tujuh bulan itu ditindas monyet yang lebih tua. Hal itu semakin menyayat hati para warganet di seluruh dunia, tak peduli latar belakangnya. Di balik viralnya kisah Punch, psikolog punya analisis sendiri terkait fenomena tersebut, terutama terkait epidemi kesepian.
Advertisement
Mengutip Hello Magazine, Kamis, 26 Februari 2026, psikolog perilaku sekaligus konselor hubungan, Jo Hemmings, mengatakan kepada, "Ada sesuatu yang sangat mendasar tentang menyaksikan bayi hewan ditolak. Itu melewati akal dan langsung menuju naluri."
"Kita secara naluriah merespons kerentanan, terutama kerentanan bayi, karena, secara evolusioner, kelangsungan hidup bergantung padanya. Ketika kita melihat bayi monyet terisolasi dan tertekan, neuron cermin kita aktif; kita merasakan penolakan itu seolah-olah itu adalah penolakan kita sendiri. Ini bukan kelemahan sentimental - ini adalah psikologi keterikatan yang sedang bekerja."
Ia melanjutkan, "Yang memperparah kesedihan itu adalah layar itu sendiri. Kita menyaksikan sesuatu yang intim dari kejauhan, tidak mampu untuk campur tangan. Ketidakberdayaan itu memperbesar emosi."
Karena berada jauh dari lokasi sementara kita bisa mengamati penderitaan Punch secara langsung, hal itu kemudian dikompensasikan dengan kemarahan, komentar, dan empati kolektif.
Mengusik Naluri Alamiah Manusia
Sementara, psikolog senior pendidikan dan anak terdaftar HCPC, Sasha Hall, yang berpengalaman lebih dari 15 tahun, menganalisisnya lewat perspektif naluri alamiah manusia untuk melindungi bayi. Ketika melihat bayi yang ditolak atau mengalami kesusahan, hal itu segera mengaktifkan naluri untuk merawat dan menghibur.
"Bayi yang dipisahkan dari ibunya adalah salah satu pemicu emosional terkuat yang kita miliki karena koneksi sangat mendasar untuk bertahan hidup."
Hal lain yang memicu keterikatan emosi adalah cara Punch mencari kenyamanan dari mainan ketika ia ditolak kawanannya. "Perilaku itu terasa langsung dapat dikenali. Anak-anak sering beralih ke benda-benda penghibur ketika mereka merasa gelisah atau sendirian. Melihat seekor monyet kecil memeluk mainan untuk mendapatkan kepastian mengingatkan kita betapa sederhananya kebutuhan akan kenyamanan, dan itulah mengapa orang merasakannya begitu dalam."
"Kisah-kisah seperti ini beresonansi karena emosi di baliknya bersifat universal." "Penolakan, kesepian, dan pencarian kenyamanan adalah pengalaman yang dipahami semua orang," jelas Hall.
Makna dari Share dan Like Konten soal Punch
Para ahli juga menganalisis makna dari reaksi global pada Punch yang lebih daripada sekumpulan 'like' atau 'share'. Mereka berpendapat bahwa curahan simpati, cinta, dan dukungan kita untuk Punch menunjukkan betapa kita menghargai sesama manusia, baik kita menyadarinya atau tidak.
"Kita sangat peka terhadap tema-tema pengabaian dan isolasi karena tema-tema tersebut beresonansi. Banyak orang membawa tingkat keterputusan yang rendah dalam kehidupan mereka sendiri. Ketika seekor monyet kecil tampak ditolak oleh induknya, ia menjadi simbol - layar proyeksi untuk ketakutan kita sendiri akan tidak dipilih, tidak dipeluk, tidak cukup baik," katanya.
"Ketika jutaan orang merespons secara emosional terhadap cerita seperti ini, hal itu menunjukkan bahwa rasa memiliki, kepedulian, dan perlindungan adalah hal-hal yang secara naluriah kita kenali dan tanggapi," tambah Dr. Sasha.
Ia melanjutkan, "Pada saat yang sama, banyak kesempatan sehari-hari untuk terhubung telah berkurang secara diam-diam. Kehidupan menjadi lebih cepat, lebih digital, dan lebih nyaman. Kita mengirim pesan alih-alih menelepon, memesan belanjaan ke rumah kita, dan menghabiskan lebih banyak waktu berinteraksi melalui layar. Perubahan-perubahan itu bermanfaat dalam banyak hal, tetapi juga berarti lebih sedikit momen kecil interaksi sosial yang nyata."
Epidemi Kesepian Kaum Dewasa Muda
Sebagai generasi digital, Inggris Raya ternyata saat ini sedang berjuang melawan epidemi kesepian yang paling tinggi di kalangan dewasa muda. Pada 2025, riset Kantor Statistik Nasional menemukan bahwa sekitar satu dari empat orang dewasa di Inggris Raya melaporkan merasa kesepian "sering, selalu, atau kadang-kadang".
Dr. Sasha percaya ini berkaitan dengan apa yang sekarang kita golongkan sebagai jenis koneksi. "Pesan instan dan media sosial memungkinkan kita untuk tetap berhubungan terus-menerus, namun seringkali kurang memiliki kedalaman yang datang dengan interaksi tatap muka."
"Anda dapat melihat pergeseran ini secara budaya juga. Panggilan telepon dulunya normal. Sekarang jika seseorang menelepon secara tiba-tiba, banyak orang berasumsi pasti ada sesuatu yang salah. Itu memberi tahu kita banyak tentang bagaimana komunikasi telah berubah."
Jo menyoroti, "Momen monyet viral itu bukanlah hal sepele. Itu diagnostik. Itu mengungkapkan betapa hausnya kita akan koneksi, betapa reaktifnya kita terhadap penolakan, dan betapa cepatnya kita berkumpul di sekitar kisah emosional yang sama. Dalam hal itu, patah hati sebenarnya bukan tentang monyet sama sekali. Itu tentang kita."
Apa Obat untuk Kesepian?
Dr. Sasha menyimpulkan bahwa kesepian kemungkinan besar tidak akan teratasi dengan lebih banyak koneksi digital. Yang paling membantu adalah interaksi yang bermakna dan konsisten dengan orang lain dalam kehidupan nyata"
"Seringkali itu dimulai dengan perubahan kecil. Menelepon seseorang alih-alih mengirim pesan. Bertemu teman untuk berjalan-jalan. Bergabung dengan kegiatan atau ruang komunitas tempat Anda bertemu orang yang sama secara teratur. Rasa memiliki cenderung tumbuh melalui pengalaman bersama yang berulang," katanya.
"Saya pikir masih ada harapan. Manusia secara alami adalah makhluk sosial, dan kesadaran tentang betapa pentingnya komunitas dan koneksi sebenarnya semakin meningkat."
Senada dengan Dr. Sasha, Jo menyatakan bahwa kesepian pada dasarnya dapat diatasi, tetapi membutuhkan niat. Utamanya menyeimbangkan kembali hubungan kita dengan lebih sedikit koneksi yang bersifat formalitas dan lebih banyak koneksi yang bermakna.
"Itu berarti membina komunitas secara offline, merangkul interaksi dunia nyata yang canggung, dan menolerir ketidaknyamanan keintiman yang tulus," kata Jo.