Liputan6.com, Jakarta - Kondisi ruas Jalan Kampung Kramat, Cipayung, Jakarta Timur, memprahatinkan. Rentak dan kondisi. Warga yang kerap melintas mengeluhkan kondisi itu.
Salah satu warga, Suprianto (42) mengatakan, kerusakan tidak terjadi secara tiba-tiba. Bermula dari retakan kecil lalu terus melebar hingga kondisi jalan menjadi retak dan amblas.
Advertisement
"Ini sudah satu mingguan ke sini. Awalnya memang retak-retak di sini, jadi perlahan retak-retak sehingga terjadi seperti ini keadaan jalannya," katanya di Jakarta, Kamis (26/2/2026)
Jalan tersebut salah satu jalur alternatif utama yang menghubungkan wilayah Jakarta Timur dengan Bekasi, Jawa Barat. Oleh karena itu, intensitas kendaraan yang melintas tergolong tinggi, terutama pada jam berangkat dan pulang kerja.
"Jadi aktivitas untuk pekerja itu merasa terhambat karena jalan ini posisinya jalan alternatif utama untuk menuju Bekasi dan Jakarta Timur," ujar Suprianto menjelaskan.
Dia mengaku kurang mengetahui secara pasti apakah sudah ada petugas yang turun langsung ke lokasi. Namun, dia memperkirakan pihak kecamatan kemungkinan sudah melakukan kontrol.
"Kalau petugas datang atau tidak kurang tahu, tapi jajaran kecamatan mungkin sudah ada yang mengontrol," ucap Suprianto.
Keluhan yang sama juga dirasakan Ezza (29). Ezza menyebut, kondisi jalan yang retak dan tidak merata membuat arus lalu lintas melambat. Pada sore hari, wilayah tersebut macet para karena kendaraan harus mengurangi kecepatan saat melintasi titik kerusakan.
"Kalau sore jam pulang kerja atau pagi-pagi itu ramai banget, jadi macet lalu lintas," ucapnya.
Jalan Rusak Penerangan Terbatas
Meski belum ada laporan korban jiwa, dia mengakui kerusakan jalan cukup berisiko bagi pengendara, terutama pada malam hari ketika pencahayaan terbatas.
"Korban jatuh alhamdulillah setau saya belum ada. Kalau kendaraan biasanya yang kena bagian bawah kendaraan kalau tidak hati-hati, apalagi malam. Semakin sore semakin macet," jelas Ezza.
Dia berharap menjelang periode mudik perbaikan dapat segera dilakukan agar tidak mengganggu mobilitas masyarakat dan mencegah risiko kecelakaan.
"Harapan kita sebagai masyarakat umum ya secepatnya diperbaiki karena ini kan bagian umum, mau Lebaran juga, terus ini jalan alternatif jadi tidak mengganggu aktivitas warga sekitarnya," ucap Ezza.
Penyebab Retakan karena Usia Badan Jalan
Pihak Kelurahan Setu menyebut badan jalan retak dan mulai amblas diduga faktor usia bangunan dan gerusan air di bagian bawah struktur jembatan.
"Diduga memang jembatan ini sudah berusia dan ada rongga di bawah yang sudah tergerus air, sehingga menyebabkan retaknya di atas jembatan ini," kata Lurah Setu Dwi Widiastuti.
Retakan awal mulai terlihat sekitar dua minggu lalu. Seiring waktu, kondisi jembatan kian memburuk hingga terjadi penurunan pada badan jalan.
"Penyebab jalan jembatan ini yang terjadi kerusakan retak itu sekitar dua minggu yang lalu," ujarnya.
Menurut Dwi, rongga di bagian bawah jembatan membuat struktur tanah tidak lagi stabil. Hal itu mengurangi daya dukung konstruksi sehingga memicu amblasnya permukaan jalan.
Jembatan tersebut diketahui merupakan penghubung wilayah Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat, tepatnya Bekasi.
Selain menjadi akses antarprovinsi, jalur ini juga dikenal sebagai rute tercepat bagi warga, sehingga cukup padat dilalui kendaraan setiap harinya.
Rute Alternatif Warga
Meski tersedia jalur alternatif seperti melalui Tol PLN dan Jalan Kapuk–Sumir, banyak pengendara tetap memilih jalur ini karena lebih efisien waktu tempuhnya.
"Iya ini jembatan penghubung antarprovinsi. Ada beberapa rute, rute lain ya mungkin dari yang melintas tol, ada Tol PLN, Jalan Kapuk Sumir, tapi memang ini yang lebih cepat, jadi lebih padat," jelas Dwi.
Dwi mengimbau warga untuk berhati-hati saat melintas dan mematuhi pembatasan yang telah ditetapkan demi keselamatan bersama. Demikian dikutip dari Antara.