Liputan6.com, Jakarta - Dokter spesialis gizi klinik Raissa Edwina Djuanda tidak menyarankan minum kopi dan teh saat sahur. Pasalnya, kopi dan teh mengandung kafein yang bersifat diuretik ringan, menyebabkan seseorang lebih sering buang air kecil.
Pada sebagian orang bahkan kafein dapat memicu maag, jantung berdebar, hingga sulit tidur.
Advertisement
“Hindari mengonsumsi kopi maupun teh saat sahur untuk menghindari risiko dehidrasi dan naiknya asam lambung,” kata dokter yang melayani pasien di RS Pondok Indah – Puri Indah kepada Health Liputan6.com melalui pesan tertulis, Rabu (25/2/2026).
Meski begitu, konsumsi kopi dan teh tidak harus dihentikan total selama Ramadan. Raissa menyarankan untuk memilih kopi rendah kafein atau teh yang tidak terlalu pekat jika toleransi terhadap kafein cukup sensitif.
“Sebenarnya tidak harus dihentikan, tetapi perlu dibatasi,” ujarnya.
Konsumsi teh dan kopi selama Ramadan perlu dibatasi satu hingga dua cangkir setelah berbuka puasa. “Jadi kopi maupun teh tetap boleh dikonsumsi, tetapi sebaiknya dibatasi 1–2 cangkir setelah berbuka,” sarannya.
Konsumsi Jamu Harus Dibatasi
Selain teh dan kopi, konsumsi jamu juga perlu diperhatikan. Menurut Raissa, tidak semua jamu harus dihindari tetapi konsumsi yang berlebihan tetap berisiko.
“Risiko dari mengonsumsi jamu yang berlebihan adalah iritasi lambung, terutama yang pahit atau berempah kuat, meningkatkan asam lambung, dan sebagian jamu juga dapat berinteraksi dengan obat medis,” jelasnya.
Dalam jumlah wajar, jamu cenderung aman untuk dikonsumsi. Dan pastikan tidak diminum saat perut kosong.
“Jamu aman jika dikonsumsi dalam jumlah wajar, tidak diminum saat perut kosong (terutama saat sahur), dan sebaiknya konsultasi terlebih dahulu dengan dokter jika memiliki riwayat maag atau penyakit kronis,” saran Raissa.
Dehidrasi Saat Ramadan
Dehidrasi saat Ramadan menjadi hal yang sangat mungkin terjadi pada orang-orang yang menjalankan ibadah puasa. Supaya terhindar dari hal itu, dokter spesialis kedokteran olahraga Risky Dwi Rahayu membagikan tips memenuhi asupan cairan di Bulan Suci.
“Kebutuhan cairan kita umumnya sekitar dua liter per hari yang kalau kita bagi pada waktu Ramadan itu mungkin kita bagi minumnya itu antara pada waktu buka puasa, setelah tarawih dan saat sahur,” kata dokter yang melayani pasien di RS Pondok Indah (RSPI) - Bintaro Jaya dalam diskusi daring, Rabu (18/2/2026).
Magister gizi komunitas ini juga merinci pembagian waktu dan jumlah cairan yang dapat dikonsumsi selama Ramadan.
“Pada waktu buka puasa kita minum tiga gelas, setelah tarawih tambah lagi tiga gelas, dan pada saat sahur dua gelas. Jadi kita harus tetap memenuhi jumlah asupan tersebut,” jelas dokter yang akrab disapa Kiky
Dehidrasi Kerap Muncul Tanpa Terasa
Jika jumlah asupan cairan tak terpenuhi, maka dampaknya adalah dehidrasi. Kondisi ini biasanya tidak terasa karena tubuh manusia umumnya memiliki cara untuk bertahan dalam kondisi yang kurang optimal.
“Umumnya, dehidrasi ini dirasakan sebagai gejala lemas pada waktu akhir jelang buka puasa atau kurang bisa berkonsentrasi. Pada saat jelang buka puasa ini juga gula darah sedang turun ya, jadi dua faktor ini saling berkaitan.”
“Biasanya, pada waktu siang kita secara kognitif berkurang, kemampuan berpikirnya jadi turun,” tambahnya.