Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah kota berkomitmen menjadikan Banda Aceh sebagai Kota Parfum berbasis potensi nilam lokal. Melalui penguatan hilirisasi, inovasi, dan kerja sama internasional, pemerintah kota menargetkan pengembangan ekonomi kreatif berdaya saing global untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal menegaskan, Komitmen tersebut lahir dari optimisme terhadap kualitas nilam Aceh yang selama ini dikenal sebagai salah satu yang terbaik di dunia.
Advertisement
“Nilam adalah bahan kunci dalam industri parfum sebagai fiksatif, yang membuat aroma lebih tahan lama dan aman di kulit. Sejak zaman kolonial, nilam Aceh sudah menjadi primadona ekspor,” ujarnya saat ditemui di kantornya di Banda Aceh, Rabu (25/2/2026).
Ia menegaskan, Banda Aceh tidak ingin hanya dikenal sebagai pemasok bahan mentah. Pemerintah kota menargetkan pengembangan hilirisasi melalui pusat inovasi, formulasi, produksi, hingga branding parfum berbasis nilai tambah lokal.
“Kita tidak mau petani hanya menikmati fluktuasi harga bahan baku. Nilai tambah terbesar sering terjadi di luar daerah, bahkan di luar negeri. Ke depan, kita ingin pusat inovasi dan produksi parfum ada di Banda Aceh,” katanya.
Festival Parfum Indonesia
Sebagai langkah awal, Pemerintah Kota Banda Aceh telah mengikuti Festival Parfum Indonesia di Bandung. Kegiatan tersebut bahkan menarik perhatian organisasi internasional World Craft Council. Banda Aceh pun didorong untuk menjadi bagian dari jejaring tersebut, menyusul deklarasi sebagai kota parfum yang dinilai unik.
Selain itu, pemerintah juga merancang kerja sama internasional, termasuk partisipasi dalam festival parfum di Prancis serta penjajakan kerja sama sister city dengan kota parfum dunia seperti Grasse.
“Ini bukan sekadar wacana. Kita sudah menyusun roadmap 2025–2030. Targetnya jelas, yaitu memperkuat identitas kota berbasis ekonomi kreatif parfum,” tegasnya.
Dengan luas wilayah sekitar 61 kilometer persegi, Banda Aceh tidak memiliki basis perkebunan besar. Oleh karena itu, strategi pembangunan diarahkan pada sektor ekonomi kreatif yang mengedepankan kreativitas dan inovasi.
“Kita membangun identitas kota melalui branding parfum. Ini akan menciptakan usaha baru, lapangan kerja, bahkan wisata tematik berbasis aroma,” ujarnya.
Memperkuat Narasi
Ia berharap dukungan media nasional dan lokal dapat memperkuat narasi Banda Aceh sebagai kota kecil dengan visi besar untuk mengangkat kembali keharuman Aceh sebagai gerbang Indonesia melalui industri parfum.
“Ini mimpi yang kita wujudkan bersama. Dari nilam, kita bangun kesejahteraan,” tutupnya.