Liputan6.com, Jakarta - Khoirul Anam merupakan salah satu wajah pertama yang ditemui nasabah saat berkunjung ke BRI Kantor Cabang Jakarta Tanjung Priok. Ia merupakan satpam yang sudah bertugas sejak di kantor cabang bank pelat merah tersebut sejak 2022 lalu. Sebagai satpam, rutinitasnya tampak biasa. Setiap hari berseragam kuning dengan celana cokelat yang tampak klimis, sikapnya tegap, dan selalu tersenyum menyambut siapa pun yang datang.
Menariknya, Anam bukan satpam biasa. Pada Januari 2026 lalu, ia baru saja menerima Rekor MURI sebagai Anggota Satuan Pengamanan dengan Karya Ilmiah Terbanyak. Hingga kini, ia berhasil menerbitkan belasan jurnal ilmiah nasional dan internasional, serta beberapa buah buku.
Advertisement
“Awalnya saya ingin mempersembahkan yang unik saat ulang tahun satpam bulan desember kemarin (HUT ke-45 Satpam tanggal 30 Desember 2025, red). Terus scroll media sosial kok muncul ada yang dapat rekor MURI. Saya tertarik terus mikir apa ya yang bisa saya daftarkan jadi rekor MURI. Desember tahun lalu (2025, red) daftar, Januari kemarin (2026, red) dapat rekor MURI,” terang pria asal Lampung itu, dikutip dari program SALDO di YouTube Bank BRI, Sabtu (21/2/2026).
Sisihkan Gaji untuk Kuliah dan Publikasi Jurnal
Anam menceritakan bagaimana menjalani hari-harinya sebagai satpam sekaligus merawat mimpi-mimpinya menulis jurnal ilmiah dan buku. Hal-hal yang dilaluinya tidak lepas dari dukungan keluarga dan lingkungan kerjanya, termasuk Kepala BRI Cabang Tanjung Priok.
“Salah satu penelitian saya tentang frontliner di kantor BRI Cabang Tanjung Priok. Saya kan izin ke kepala cabang, terus beliau pernah saya sapa pas dateng pagi-pagi, beliau tanya gimana penelitiannya udah selesai belum. Jadi memang bos, teman-teman di kantor itu mendukung, keluarga juga suportif,” imbuh anggota satuan pengamanan PT Prima Karya Sarana Sejahtera (PKSS) itu.
Hingga tulisan ini ditayangkan, Anam telah menerbitkan 13 jurnal ilmiah nasional dan internasional, serta tujuh buku yang juga sudah terdaftar di Perpusnas. Dua di antara judul bukunya yakni Selang Sakti dari Malaikat dan Antologi Hati (kumpulan cerpen). Tak puas sampai di situ, saat ini Anam mengaku tengah proses menulis tiga buku lagi.
Pria yang bercita-cita menjadi abdi negara ini mengaku kerap mengikuti event-event penerbitan jurnal untuk mencari tahu peluang publikasi karya ilmiahnya.
“Menerbitkan jurnal internasional kan mahal ya, ada sih yang gratis cuma setahu saya nanti publikasi jurnal yang gratis itu tidak bisa diakses penuh juga secara gratis jadi dikunci, nah saya tidak mau yang seperti itu. Akhirnya dapet jurnal internasional dengan biaya publikasi miring, walaupun belum Scopus, tapi alhamdulillah bisa di Copernicus. Saya menyisihkan dari gaji satpam untuk biaya publikasi, juga untuk kuliah S1 dan S2,” jelas Anam.
Pria dengan gaya rambut cepak dan postur badan tegap itu mengaku sebenarnya gaji yang ia peroleh sebagai satpam tidak terlalu banyak, namun ia bertekad keras harus bisa mewujudkan mimpinya menyelesaikan jenjang pascasarjana dan menerbitkan karya-karya ilmiah.
Visi Besar Sang Satpam
Setiap hari, Anam bekerja secara reguler sebagai satpam, yang ada kalanya masuk pagi, ada kalanya mendapatkan giliran jaga malam. Di tengah kesibukannya, ia tak pernah melewatkan satu hari pun tanpa menulis.
“Nulis saat istirahat, pokoknya satu hari harus ada yang bisa saya lakukan, pokoknya nyicil. Saat pulang kerja saya sempatkan menulis, minimal 1 lembar atau pokoknya harus ada yang ditulis lah setiap harinya, lalu setiap bangun tidur saya cek lagi hasil tulisannya,” jelas pria yang gemar pada olahraga lari itu.
Lebih lanjut, Anam mengaku selalu semangat menulis karena ingin menyebarkan ilmu yang dimilikinya kepada rekan-rekan dan orang di sekitarnya, syukur-syukur bisa menjangkau khalayak umum agar termotivasi kuliah.
“Teman-teman satpam sudah mulai banyak yang kuliah, terus kalau ada kesulitan apa gitu tanya-tanya saya,” imbuh Anam.
Ke depan, Anam tidak menutup kemungkinan akan mengambil peluang apabila ada prospek karier yang lebih bagus dan sesuai dengan visi hidupnya.
“Saya sebenernya pengen jadi dosen atau guru gitu ke depan, kalau ada peluang,” tandasnya.