Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertahan di zona merah pada sesi kedua perdagangan saham Kamis, (19/2/2026). Koreksi IHSG hari ini ini di tengah pengumuman Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan 4,75%.
Mengutip data RTI, pada Kamis sore pukul 15.10 WIB, IHSG melemah 0,43% di posisi 8.274. Indeks saham LQ45 terpangkas 0,29% ke posisi 835. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan.
Advertisement
Pada perdagangan saham Kamis pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 8.376,19 dan level terendah 8.251,81. Sebanyak 392 saham melemah sehingga bebani IHSG. 292 saham menguat dan 136 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan 2.942.566 kali dengan volume perdagangan saham 47,2 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 22 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.689.
Sebagian besar sektor saham melemah. Sektor saham industri turun 0,43%, sektor saham kesehatan terpangkas 0,32%, sektor saham keuangan tergelincir 1,31% dan catat koreksi terbesar. Kemudian sektor saham properti melemah 1,1%, sektor saham teknologi terpangkas 1,71% dan sektor saham infrastruktur merosto 0,47%.
Selain itu, sektor saham energi menguat 0,55%, sektor saham basic menanjak 3,04%, sektor saham consumer siklikal mendaki 0,44% dan sektor saham transportasi melompat 1,18%.
Pada perdagangan saham Kamis pekan ini, saham DEWA naik 0,79% ke posisi Rp 635 per saham. Harga saham DEWA dibuka menguat lima poin ke posisi Rp 635 per saham. Saham DEWA berada di level tertinggi Rp 655 dan level terendah Rp 630 per saham. Total frekuensi perdagangan 33.728 kali dengan volume perdagangan saham 5.364.614 saham. Nilai transaksi Rp 346 miliar.
Gerak Saham
Harga saham NSSS meroket 17,22% ke posisi Rp 1.225 per saham. Harga saham NSSS dibuka bertambah 10 poin ke posisi Rp 1.055 per saham. Saham NSSS berada di level tertinggi Rp 1.300 dan terendah Rp 1.020 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 18.589 k ali dengan volume perdagangan saham 1.139.795 saham. Nilai transaksi Rp 115,9 miliar.
Harga saham HRTA menguat 4,23% ke posisi Rp 2.710 per saham. Harga saham HRTA dibuka naik 50 poin ke posisi Rp 2.650 per saham. Saham HRTA berada di level tertinggi Rp 2.740 dan level terendah Rp 2.620 per saham. Total frekuensi perdagangan 9.206 kali dengan volume perdagangan saham 417.716 saham. Nilai transaksi Rp 112,9 miliar.
Harga saham MLPL turun 0,81% ke posisi Rp 122 per saham. Harga saham MLPL dibuka naik dua poin ke posisi Rp 125 per saham. Saham MLPL berada di level tertinggi Rp 125 dan level terendah Rp 120 per saham. Total frekuensi perdagangan 2.035 kali dengan volume perdagangan saham 441.662 saham. Nilai transaksi Rp 5,4 miliar.
BI Tahan Suku Bunga Acuan
Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk tetap menahan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75 persen pada Februari 2026. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, keputusan ini diambil usai melihat berbagai perkembangan dan prospek ekonomi di tingkat nasional maupun global.
"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18 dan 19 Februari 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75 persen, suku bunga deposit facility sebesar 3,75 persen, dan suku bunga lending facility sebesar 5,50 persen," ujarnya, Kamis (19/2/2026).
Perry menyatakan, keputusan tersebut konsisten dengan fokus kebijakan bank sentral saat ini. Khususnya pada upaya penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah, di tengah tetap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global guna mendukung capaian sasaran inflasi 2026 dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Ke depan, Bank Indonesia berkomitmen akan terus memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan kebijakan makroprudensial yang telah ditempuh selama ini, dengan tetap mencermati ruang penurunan BI Rate lebih lanjut.
"Sejalan dengan prakiraan inflasi 2026/2027 yang terkendali rendah dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen, dan upaya untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi," imbuh Perry.
Menurut dia, kebijakan makroprudensial Bank Indonesia juga tetap diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi (pro growth), melalui peningkatan kredit pembiayaan ke sektor riil, khususnya sektor-sektor prioritas pemerintah.
"Serta mempercepat penurunan suku bunga kredit perbankan melalui implementasi kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM), dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian dan prudensial di perbankan," kata Perry.