Liputan6.com, Jakarta - Keberadaan Tujuh Sumur menjadi salah satu daya tarik utama Vihara Gayatri yang terletak di Jalan Cilangkap, Tapos, Kota Depok, Jawa Barat. Ritual mandi menggunakan air dari tujuh sumur ini terbuka bagi masyarakat umum tanpa memandang latar belakang agama.
Tradisi tersebut tak hanya diikuti etnis Tionghoa, tetapi juga pengunjung lintas iman, termasuk umat muslim yang datang dengan niat dan keyakinan masing-masing.
Advertisement
"Biasa, main-main saja, kadang cuman buat cuci muka, kadang ikut mandi juga di sumur tujuh itu,” ujar Hartini (44), pengunjung non-Tionghoa yang rutin mendatangi kawasan Tujuh Sumur.
Seluruh aktivitas di vihara dapat diakses oleh umat beragama lain selama pengunjung memahami dan mematuhi peraturan yang berlaku. Di ruang ini, praktik spiritual berjalan berdampingan dengan sikap saling menghormati antarumat beragama.
Meski terbuka untuk umum, terdapat aturan tak tertulis yang harus dipatuhi oleh pengunjung Tujuh Sumur. Pantangan utama berlaku bagi perempuan yang sedang datang bulan (haid), yang dilarang keras untuk mandi di sumur tersebut. Aturan ini dijaga sebagai bentuk penghormatan terhadap kesucian area ritual.
Bagi Hartini, ritual mandi di Tujuh Sumur lebih dimaknai sebagai pengalaman personal.
“Semaunya saja, kadang setiap Minggu ke sini, soalnya dekat dari rumah,” katanya.
“Sudah pernah ngerasain mandi di sini, airnya segar, dingin, soalnya itu mata air alami, jadi enak aja kaya air pegunungan,” lanjut Hartini.
Meski mengikuti ritual, Hartini menegaskan keyakinannya tetap disesuaikan dengan kepercayaannya sendiri.
“Kalau saya sugesti sehat aja, kalau selebihnya yang gitu-gitu kan kepercayaan orang cina ya,” ujarnya.
Saat ditanya mengenai harapannya di momen Imlek tahun ini, perempuan berusia 44 tahun itu berharap kehidupan ke depan dapat berjalan lebih baik, dengan kesehatan yang tetap terjaga serta kelancaran rezeki.
“Semoga lancar saja rezekinya, disehatkan terus badannya, tambah bagus deh semuanya,” pungkas Hartini.
Ritual mandi umumnya dilakukan di luar rangkaian perayaan Imlek. Sebab, perayaan Imlek lebih difokuskan pada sembahyang kepada dewa-dewi serta penghormatan terhadap leluhur.
Tata Cara Ritual Mandi Tujuh Sumur
Tradisi mandi di Tujuh Sumur dipercaya sebagai sarana pembersihan diri sekaligus memohon berkah melalui masing-masing sumur yang memiliki doa khusus.
Pada waktu tertentu, ritual mandi dilakukan pada momen khusus, yakni Senin malam menuju Selasa Kliwon, yang diyakini memiliki makna spiritual tersendiri bagi sebagian pengunjung.
Dalam satu rangkaian ritual, pengunjung akan diguyur air dari sumur secara berurutan, mulai dari sumur pertama hingga sumur ketujuh. Setiap sumur diguyur sebanyak tujuh gayung.
Setelah itu, pengunjung beralih ke kolam besar untuk menyelam sebanyak delapan kali. Selanjutnya, pengunjung diarahkan mengambil air dari sumur yang berada di tengah kolam sekitar delapan gayung.
Gayung kedelapan tersebut dibawa ke kamar ganti untuk digunakan membilas tubuh saat pengunjung melepas pakaiannya.
Berdasarkan pantauan Liputan6.com di lokasi, ketujuh sumur berada di area paling ujung lahan Vihara Gayatri yang luasnya sekitar dua hektare jika masuk melalui gerbang utama. Sumur-sumur tersebut disusun berderet, dilapisi dinding batu hitam, ubin keramik hijau, dan berdiameter sekitar 90-100 sentimeter.
Di setiap sumur terpasang nomor, nama sumur, serta panjatan doa yang dipercaya dapat terkabul saat mandi menggunakan airnya. Keberadaan sumur juga berhimpitan dengan kolam besar yang menjadi titik pembersihan diri terakhir karena terdapat satu sumur tambahan di tengah kolam.
Masing-masing sumur memiliki nama dan makna tersendiri. Sumur 1 Sri Ningsih dipercaya untuk menerangkan lahir batin, Sumur 2 Sri Waras untuk sehat dan sentosa, Sumur 3 Sri Lungguh untuk kedudukan derajat, dan Sumur 4 Sri Kunaratih Kumadjaya untuk mencari jodoh.
Selanjutnya, terdapat Sumur 5 Sri Rejeki guna usaha mencari rezeki, Sumur 6 Dewi Sri Mulyasari untuk pengobatan, serta Sumur 7 Sri Pontjo Warno guna menolak segala bentuk malapetaka.
Selain mandi, pengunjung juga melakukan ritual melempar koin logam sebanyak 1–5 buah ke setiap sumur.
Berdasarkan kepercayaan, melempar tiga atau lima koin memiliki makna simbolis. Tiga koin mewakili “Sri, Lungguh, Dunya” sebagai doa agar kekuatan spiritual lebih kuat di dunia. Sementara lima koin melambangkan “5 pancar”, yakni ketuban, darah, plasenta, tali pusar, dan diri manusia.
Asal-Usul Tujuh Sumur
Pengurus Vihara Gayatri, Mastus, yang telah menjadi bagian dari vihara tersebut selama 30 tahun, menjelaskan bahwa keberadaan Tujuh Sumur bermula dari petunjuk spiritual yang diterima oleh pemilik vihara.
“Jadi pemilik Vihara ini kan orang pintar ya, ziarah ke Goa Ciremai di Cirebon, dari situ dapet petunjuk mimpi, bahwa ada mata air bagus disini, jadi ibaratnya itu pohon cangkokan dari Cirebon,” ujarnya, saat berbincang dengan Liputan6.com di Vihara Gayatri, Cilangkap, Tapos, Kota Depok, Selasa (17/02/2026) siang.
Mastus menambahkan, penamaan sumur berasal dari tokoh spiritual lain. “Kalau untuk nama-nama sumur 7 itu dari Suhu Syahoki dari Borobudur,” katanya.
Terkait persiapan ritual mandi, Mastus menyebutkan pengunjung perlu membawa pakaian ganti karena area mandi bersifat terbuka.
“Kalau persiapan, yang pasti bawa pakaian ganti ya karena kan ruangan untuk mandi nya terbuka, terus untuk menajamkan nya lagi melemparkan uang logam kedalam sumurnya, bagusnya setiap sumur itu 5 koin,” jelasnya.
“Mau ratusan, mau perakan, mau seribuan, yang penting koin kalau untuk lempar ke dalam,” lanjutnya.
Ia juga menegaskan bahwa niat menjadi bagian penting dalam ritual. “Tata cara mandinya, setiap sumur itu 7 gayung, tujuannya ya tergantung kepercayaan kita masing-masing ya, misalnya buat nyari jodoh tergantung niat nya kita, mau jodoh usaha, jodoh keluarga, jodoh rejeki gitu,” ujarnya.
Menurut Mastus, puncak keramaian pengunjung terjadi setiap malam Selasa Kliwon.
“Kalau ramainya itu setiap malam Selasa Kliwon buat nyaratin nya, cuman buat mandi sehari-hari itu juga bisa, kalau hari-hari biasa jam 7 malam tutup,” katanya.
“Kebetulan kemarin malam itu acara mandi Selasa Kliwon, ramai banget sampai gak bisa tidur saya,” sambungnya.
Ia juga menegaskan bahwa sumber air Tujuh Sumur berasal dari mata air alami.“Sumber airnya gak abis-abis karena dari sumber mata air langsung, enggak di pompa apapun,” ujar Mastus.
Menjaga Kesucian Area Sumur
Pengelola Vihara Gayatri juga memasang papan peraturan di area Tujuh Sumur untuk menjaga kesucian tempat.
“Dengan penuh hormat, Kami mengajak seluruh umat untuk turut menjaga Kesucian Sumur 7 Vihara Gayatri dengan tidak melakukan aktivitas seperti peramalan, pengobatan energi, praktik prana, maupun kegiatan serupa lainnya, kecuali bila dilakukan secara langsung oleh pihak pemilik tempat,” demikian bunyi peraturan tersebut.
“Semoga kita senantiasa dapat merawat kemurnian dan ketenangan ruang suci ini, agar menjadi wadah penyucian lahir dan batin yang khusyuk bagi semua yang hadir,” tertulis di papan peraturan.