Momen AHY hingga Mentrans Ikut Tradisi Lo Hei Khas Tahun Baru Imlek

AHY bersama Menteri Transmigrasi Iftitah mengikuti tradisi Lo Hei saat perayaan Imlek di Batam, Kepulauan Riau.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 17 Februari 2026, 05:30 WIB
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK), Agus Harimurti Yudhoyono ikut tradisi khas Tahun Baru Imlek, Lo Hei, di Swiss-belhotel Harbour Bay, Batam, Senin (16/2/2026) malam.

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), tampak mengikuti tradisi khas Tahun Baru Imlek, Lo Hei. Ia tidak sendiri. Menteri Transmigrasi, Muhammad Iftitah Sulaiman, juga turut ambil bagian dalam tradisi tersebut.

AHY mengaku terkesan saat mengikuti rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek di Batam, Kepulauan Riau.

"Kami tentunya terus bersuka cita karena ini merupakan sebuah ekspresi yang begitu hangat. Imlek kini dirayakan di mana-mana, di seluruh Indonesia, karena kita adalah satu kesatuan," ujar AHY di Swiss-Belhotel Harbour Bay, Batam, Senin (16/2/2026) malam.

 

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK), Agus Harimurti Yudhoyono ikut tradisi khas Tahun Baru Imlek, Lo Hei, di Swiss-belhotel Harbour Bay, Batam, Senin (16/2/2026) malam.

Usai memberikan sambutan, AHY kemudian mengikuti prosesi tradisi Lo Hei. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam perayaan Imlek setiap tahunnya, khususnya di Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Prosesi mencampurkan berbagai hidangan ini melambangkan harapan akan kejayaan dan kemakmuran.

AHY bersama Mentrans Iftitah dan para pejabat lainnya berdiri melingkar mengelilingi sebuah meja bundar di atas panggung. Di atas meja tersebut telah disiapkan hidangan bernama yusheng, berupa salad yang terdiri dari berbagai bahan makanan.

 

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK), Agus Harimurti Yudhoyono ikut tradisi khas Tahun Baru Imlek, Lo Hei, di Swiss-belhotel Harbour Bay, Batam, Senin (16/2/2026) malam.

Salah satu bahan khas dalam yusheng adalah irisan ikan salmon mentah. AHY, Mentrans Iftitah, dan tamu undangan lainnya turut mengaduk seluruh bahan tersebut. Prosesi ini menjadi puncak tradisi Lo Hei sebelum dilanjutkan dengan santap malam bersama.

Pada kesempatan itu, AHY juga menikmati rangkaian lima hidangan, termasuk menu pembuka dan penutup. Sebagai menu utama, Ketua Umum Partai Demokrat tersebut menyantap hidangan ayam bersama komunitas Tionghoa di Batam.

 

Pecinan Glodok Ramai Jelang Imlek

Pernak Pernik Sambut Imlek di Pasar Glodok (Dok: Antara)

Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2026, suasana kawasan pecinan Glodok, Jakarta Barat, tampak semakin ramai. Sejak pagi hingga malam hari, lorong-lorong pasar dipadati warga, terutama masyarakat keturunan Tionghoa, yang berburu kebutuhan untuk merayakan Imlek bersama keluarga.

Glodok kembali menjadi magnet bagi masyarakat. Warna merah dan emas mendominasi lapak-lapak pedagang musiman yang menjajakan pernak-pernik Imlek Tahun Kuda Api. Lampion bergelantungan, angpao tersusun rapi, serta hiasan shio kuda menghiasi hampir setiap sudut.

Bagi para pedagang, momen Imlek selalu membawa harapan. Rahman, salah satu pedagang musiman, mengaku bisa meraup penghasilan hingga ratusan ribu rupiah per hari. Ia menjual berbagai hiasan, mulai dari lampion, angpao, hiasan meja berbentuk kucing melambai, hingga tempelan dinding bergambar shio kuda.

"Kalau ramai, lumayan. Sehari bisa ratusan ribu," ujar Rahman sambil melayani pembeli, Minggu (15/2/2026).

 

Harga Aksesori Imlek

Suasana Wihara Dharma Bakti, Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat saat Imlek 2023, Minggu (22/1/22023). (Liputan6.com/ Muhammad Radityo Priyasmoro)

Harga aksesori Imlek di kawasan Glodok pun cukup beragam. Angpao dijual dalam kemasan isi enam lembar dengan harga mulai dari Rp10.000 hingga Rp45.000, tergantung desain dan bahan.

Lampion kertas tanpa baterai dibanderol Rp20.000 hingga Rp35.000, menyesuaikan ukuran dan kualitas. Sementara itu, hiasan kucing mini dengan tangan yang bisa bergerak dijual seharga Rp45.000 per buah.

Untuk lampion gantung ukuran sedang yang sudah dilengkapi lampu dan baterai, harga dipatok sekitar Rp50.000. Adapun lampion akrilik dengan kabel panjang yang dapat dililitkan dijual lebih mahal, yakni berkisar Rp150.000 hingga Rp250.000.

Pedagang lain, Samuel, juga merasakan peningkatan penjualan. Ia mengaku pasar nonpermanen yang dibuka sejak awal Januari hingga 16 Februari sangat membantu perekonomian keluarganya. Menjelang Imlek, penghasilannya bahkan hampir menyentuh Rp1 juta per hari.

"Iya, hampir," katanya singkat.

 

Hiasan Khas Imlek

Berbagai toko menawarkan aneka pernak-pernik khas Imlek seperti lampion, gantungan, kaus, hingga patung kucing keberuntungan. (Magang/Liputan6.com/Muhammad Rizal)

Samuel menjual berbagai hiasan khas Imlek, mulai dari angpao, lampion, hingga dekorasi pintu. Angpao standar dengan tulisan Mandarin berwarna merah dan emas dijual seharga Rp15.000 per pak isi enam.

Namun, untuk edisi khusus shio kuda, ia mematok harga lebih tinggi, yakni Rp10.000 per lembar.

Sementara itu, hiasan pintu dengan tali merah dijual mulai Rp15.000 untuk desain sederhana. Untuk model dengan tambahan aksesori keramik, harganya bisa mencapai Rp65.000.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya