Liputan6.com, Jakarta - ChatGPT, chatbot besutan OpenAI kedapatan menjadi jembatan bagi pengguna untuk memantau dan terlibat langsung dalam perawatan kesehatan meskipun harus terpisah ribuan kilometer.
Hal ini yang dialami oleh Ayrin Santoso, ketika dirinya menerima kabar mengejutkan tepat di hari ulang tahun sang ibu, Fifi.
Advertisement
Tinggal menetap di San Francisco, Amerika Serikat (AS), Ayrin mendapati informasi sang ibu tiba-tiba kelihangan penglihatan di salah satu mata.
Keluarga di Surabaya pun langsung mencari pertolongan medis sambil terus berkoordinasi dengannya. Sebagai anak berada jauh dari rumah, Ayrin tidak bisa hadir secara fisik.
Namun, ia memilih untuk tetap terlibat penuh dengan mengumpulkan setiap detail informasi. Mulai dari gejala awal, kronologi kejadian, hingga penjelasan dokter saat pemeriksaan pertama dilakukan.
Sempat mendapatkan pengobatan obat tetes mata setelah pemeriksaan awal, kondisi penglihatannya ternyata tidak mengalami peningkatan.
Alhasil, kondisi ini membuat keluarga terus memantau perkembangan dan menjaga komunikasi intens lintas negara. Di titik itulah, Ayrin memanfaatkan ChatGPT untuk membantu merapikan informasi medis yang ia kumpulkan dan terima.
Dengan menuliskan kondisi terkini ibunya, termasuk riwayat tekanan darah tinggi sudah lama diderita, ChatGPT mampu membantu Ayrin memahami istilah medis dengan bahasa lebih sederhana.
Tak hanya itu, ia juga menggunakan chatbot buatan OpenAI ini untuk menyusun daftar pertanyaan lebih terarah sebelum berkonsultasi dengan dokter.
Dari hasil pemeriksaan lanjutan, ternyata tekanan darah ibunya berada di atas 200 mmHg. Angka tergolong sangat tinggi dan berisiko. Dokter pun memastikan kondisi tersebut membutuhkan penanganan ketat.
Berdasarkan pemeriksaan, Fifi pun menjalani perawatan lebih dari satu minggu hingga tekanan darahnya berhasil distabilkan. Setelahnya, ia pulan dan melanjutkan pemulihan dengan pengawasan medis hingga kondisinya kini mulai membaik.
“Di situasi seperti ini, saya sangat terbantu dengan adanya teknologi seperti ChatGPT untuk membantu memahami istilah medis dengan bahasa sederhana,” kata Ayrin.
Ia menambahkan, “dengan ChatGPT, saya bisa menyusun pertanyaan untuk didiskusikan bersama dokter dan tenaga kesehatan, serta memastikan keluarga memiliki pemahaman sama mengenai langkah-langkah perawatan yang dijalani.”
Ayrin juga menekankan batas jelas dalam penggunaan AI untuk urusan kesehatan. “Namun kami sekeluarga sepakat, diagnosis dan penanganan tetap harus dan hanya boleh dikalikan oleh dokter.”
OpenAI Merilis ChatGPT Health
OpenAI resmi memperkenalkan ChatGPT Health, fitur baru berfungsi sebagai ruang khusus bagi pengguna untuk melakukan percakapan ataupun berkonsultasi dengan ChatGPT seputar kesehatan dan kebugaran.
Peluncuran fitur baru ChatGPT ini diambil setelah OpenAI mencatat lebih dari 230 juta pengguna setiap pekan mengajukan pertanyaan terkait kesehatan. Melalui fitur ini, OpenAI ingin menghadirkan pengalaman percakapan lebih aman, terorganisir, dan relevan bagi pengguna.
Mengutip Tech Crunch, Kamis (8/1/2026), fitur ChatGPT Health dirancang sebagai ruang terpisah dari percakapan umum pengguna. Dengan langkah ini, topik kesehatan yang dibahas tidak muncul dan mempengaruhi interaksi dengan ChatGPT.
Contohnya, saat pengguna pernah membahas rencana latihan maraton, sistem dapat memahami latar belakang tersebut ketika pengguna berdiskusi soal target kebugaran di ruang Health.
Raksasa kecerdasan buatan (AI) ini menegaskan, ChatGPT Health tidak dimaksudkan untuk diagnosis atau pengobatan. Sebaliknya, fitur ini membantu pengguna menavigasi pertanyaan sehari-hari dan memahami pola dari waktu ke waktu bukan hanya saat sakit sehingga pengguna dapat merasa lebih terinformasi dan siap untuk percakapan medis penting.
Fitur ChatGPT Health
Ke depan, ChatGPT Health juga akan terhubung dengan data dari aplikasi kebugaran populer. Beberapa di antaranya Apple Health, Function, dan MyFitnessPal. Tak hanya itu, perusahaan juga memastikan seluruh percakapan di fitur Health tidak dipakai untuk melatih model AI mereka.
CEO of Application OpenAI, Fidji Simo, dalam unggahan blog perusahaan menyatakan, "saya melihat ChatGPT Health sebagai respons terhadap masalah di bidang perawatan kesehatan, seperti biaya dan hambatan akses, dokter yang terlalu padat, dan kurangnya kesinambungan dalam perawatan."
Meskipun sistem perawatan kesehatan memiliki kekurangannya, penggunaan chatbot AI untuk nasihat medis menciptakan serangkaian tantangan baru. Model bahasa besar (LLM) seperti ChatGPT dengan memprediksi respons paling mungkin terhadap perntah, bukan jawaban paling tepat, karena LLM tidak memiliki konsep tentang apa benar atau salah. model AI juga rentan terhadap halusinasi.
Dalam persyaratan layanannya, OpenAI menyatakan software ini tidak dimaksudkan untuk digunakan dalam diagnosis atau pengobatan kondisi apa pun. Perusahaan turut menyatakan, ChatGPT Health akan mulai digulirkan kepada pengguna dalam beberapa pekan ke depan.