Kabar Dari Real Madrid: Arda Guler Diklaim Jadi Korban Perundungan

Arda Guler disebut jadi korban perundungan di Real Madrid meski tampil impresif. Ada apa sebenarnya di ruang ganti Los Blancos?

oleh Dimas Ardi PrasetyaDiterbitkan 15 Februari 2026, 00:00 WIB
Selebrasi gol Arda Guler pada laga Real Madrid vs Pachuca di Piala Dunia Antarklub 2025 (AP Photo/Nell Redmond)

Liputan6.com, Jakarta - Arda Guler datang ke Real Madrid dengan ekspektasi besar sebagai salah satu talenta muda paling menjanjikan di Eropa. Namun memasuki musim ketiganya di Santiago Bernabeu, ia masih belum mendapat jaminan sebagai starter tetap.

Padahal secara statistik, kontribusinya tak bisa dipandang sebelah mata. Gelandang berusia 20 tahun itu justru menjadi salah satu pemain paling kreatif Los Blancos musim ini.

Guler telah mencetak tiga gol dan mengemas 12 assist dari 35 penampilan di semua kompetisi. Ia bahkan tercatat sebagai pemberi assist terbanyak di skuad Real Madrid dan di La Liga musim ini.

Meski demikian, statusnya di tim utama masih belum benar-benar aman. Situasi itulah yang kini memunculkan klaim mengejutkan bahwa sang pemain mengalami perundungan di internal klub.


Klaim Serhat Pekmezci: Guler Dirundung Rekan Setim

Arda Guler dari Real Madrid (kanan) merayakan bersama Franco Mastantuono dan Trent Alexander-Arnold setelah mencetak gol yang kemudian dianulir dalam laga La Liga antara Real Madrid dan Mallorca di Madrid, Sabtu, 30 Agustus 2025. (AP Photo/Manu Fernandez)

Isu ini mencuat setelah pernyataan mantan pelatih tim muda sekaligus mentor Guler, Serhat Pekmezci. Dalam wawancara yang dimuat Marca, ia mengungkap adanya masalah di balik layar yang dialami sang pemain.

Menurut Pekmezci, tak semua pihak di ruang ganti menerima kehadiran Guler dengan baik. Ia bahkan menyebut adanya tindakan intimidasi yang datang dari rekan-rekannya sendiri.

“Meskipun Real Madrid adalah klub besar, Arda Guler menderita perundungan (pelecehan di tempat kerja). Bukannya ia mengeluh kepada saya, tetapi ia tahu ini akan terjadi. Saya menyuruhnya untuk bersabar.”

“Perundungan itu berasal dari para pemain. Ada sekelompok pemain di sana yang belum bisa menerima Arda; sayangnya, mereka adalah pemain dengan ego yang sangat besar.”


Teriakan Frustrasi Arda Guler

Pelatih Real Madrid, Xabi Alonso (kanan), memberikan instruksi pada Arda Guler di laga kontra Celta Vigo di pekan ke-15 La Liga 2025/2026 di Santiago Bernabeu, Senin (08/12/2025) dini hari WIB.

Nama Guler juga sempat menjadi sorotan akhir bulan lalu saat Real Madrid menghadapi Benfica. Dalam laga krusial tersebut, ia justru ditarik keluar pada 15 menit terakhir pertandingan.

Keputusan itu memicu reaksi emosional dari sang pemain. Ia terlihat berteriak ke arah bangku cadangan dengan kalimat berbahasa Inggris, “mengapa selalu saya?”

Padahal dalam pertandingan itu, Guler termasuk salah satu pemain terbaik di lapangan sebelum digantikan oleh Brahim Diaz. Situasi tersebut semakin memperkuat spekulasi adanya ketidakpuasan dari dalam diri sang gelandang muda.

“Arda sangat sabar dan sadar, tetapi bahkan ia pun mulai memberontak, berpikir, ‘Mengapa selalu saya?’,” kata Pekmezci tentang momen tersebut.


Ego Pemain Disebut Jadi Biang Masalah, Alonso Ikut Terseret

Secara hasil, Real Madrid tampil lebih dominan, namun Olympiacos kerap menyulitkan ketika bermain di markas sendiri. Situasi itu membuat pertandingan ini berpotensi berjalan ketat meskipun perbedaan kualitas skuad cukup mencolok. Tampak dalam foto, gelandang Real Madrid asal Turki, Arda Guler; pelatih Real Madrid asal Spanyol Xabi Alonso; penyerang Real Madrid asal Prancis, Kylian Mbappe; gelandang Real Madrid asal Prancis, Aurelien Tchouameni; dan rekan satu timnya menghadiri sesi latihan jelang matchday 5 league phase Liga Champions 2025/2026 melawan Olympiakos FC di Real Madrid Sports City, Valdebebas, pada Selasa 25 November 2025. (Javier SORIANO/AFP)

Tak berhenti di situ, Pekmezci juga menyinggung persoalan ego pemain di ruang ganti Real Madrid. Ia mengklaim situasi tersebut turut berdampak pada dinamika kepelatihan di klub.

Guler sendiri diketahui kesulitan mendapat peran reguler di bawah Alvaro Arbeloa, Xabi Alonso, maupun Carlo Ancelotti. Padahal ia dinilai tampil optimal ketika diberi kebebasan bergerak di sepertiga akhir lapangan.

Menurut Pekmezci, besarnya ego sejumlah pemain membuat situasi internal menjadi rumit. Ia bahkan mengaitkannya dengan kepergian Alonso dari klub.

“[Jurgen]Klopp sudah mengatakan bahwa beberapa pemain perlu pergi agar ia bisa datang. Itulah mengapa Xabi Alonso juga pergi," pungkasnya.

 

(Marca)


Klasemen Liga Spanyol

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya