Popularitas di Balik Lompatan Barongsai Selatan

Tidak heran jika barongsai selatan lebih populer. Barongsai ini lebih sering ditampilkan saat Imlek di Indonesia.

oleh Rio Ferdinand Muhammad Eka PutraDiterbitkan 16 Februari 2026, 08:04 WIB
Para penari barongsai tampil di hadapan warga pada hari perayaan Tahun Baru Imlek di Kawasan Pecinan Surabaya, Jawa Timur pada Rabu 29 Januari 2025. (JUNI KRISWANTO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Setiap perayaan Imlek, kehadiran Barongsai dipercaya sebagai simbol doa dan harapan akan keberuntungan di tahun yang baru. Setiap gerakan kepala singa, lompatan di atas tonggak, hingga dentuman tambur yang mengiringi, dimaknai sebagai penolak bala. Sekaligus pembawa berkah bagi tempat yang disinggahi.

Warna merah dan kuning yang mendominasi tubuh barongsai juga bukan sekadar masalah estetika. Di balik kombinasi warna yang mencolok itu, tersimpan simbol dan doa yang diwariskan turun-temurun.

Warna merah mempunyai makna kebahagiaan dan keberanian, keberuntungan dan kegembiraan, warna merah juga dipercaya mampu menolak bala dan roh jahat. Sementara warna kuning melambangkan kekayaan, kesuksesan dan kekayaan.

Perpaduan kedua warna tersebut menjadi representasi harapan masyarakat saat menyambut tahun baru, hidup yang lebih makmur, penuh sukacita, dan dijauhkan dari hal-hal buruk. 

Secara historis, barongsai berasal dari China dengan dua aliran utama, yakni aliran Utara (Beijing–shi) dan Selatan (Nan-shi). Barongsai utara atau Pekingsai dikenal dengan tubuh lebih pendek, berbulu lebat, dan kerap memainkan akrobat di atas bola atau susunan meja. Warna dominannya kuning kemerahan (oranye), dengan pita merah untuk singa jantan dan pita hijau untuk betina.

Tapi di Indonesia, barongsai selatan lebih populer. Barongsai ini menghadirkan warna lebih variatif, bertanduk, bermata besar, dan sarat simbol pengusir roh jahat serta pembawa keberuntungan. Di kepalanya dipasang cermin kecil untuk memantulkan energi negatif, dan tanduknya diikat kain merah.

“Makna antara Barongsai Utara dan Selatan adalah sama, cuma wujud nya saja yang berbeda,” jelas Ketua Sasana Liong n Barongsai Kung Chiao dan Wushu Genta Suci, Herry Siswanto saat berbincang dengan liputan6.com di Depok, akhir pekan lalu. 

Tidak heran jika barongsai selatan lebih populer. Barongsai ini lebih sering ditampilkan saat Imlek di Indonesia.

“Lebih sering ditampilkan Barongsai Selatan karena memang lebih dulu berkembang di Indonesia, dan untuk jenisnya pada saat ini berimbang antara jenis fo-shan dan he-shan," ucapnya.

pemain barongsai. (Liputan6.com/Rio Ferdinand)

Menghapus Stigma, Merajut Toleransi

Jika dahulu barongsai kerap dilekatkan pada identitas etnis tertentu, kini batas itu semakin kabur. Lihat saja orang-orang yang ada di balik tubuh barongsai.  Para pemain Barongsai hari ini tak lagi didominasi kalangan warga keturunan, tapi sudah lebih akrab dengan etnis dan agama lain.

Kenyataan ini menjadi bukti. Barongsai telah berhasil merajut semangat kebersamaan. Di dalam satu kostum barongsai, dua pemain harus bergerak selaras. Di luar panggung, para anggota datang dari beragam latar belakang etnis dan agama. Mereka bersama berlatih dan tampil dalam satu semangat yang sama. 

“Peran barongsai dalam mempererat toleransi dan keberagaman amatlah baik dan berkembang, di mana akhirnya kita bisa saling mendukung satu sama lainnya,” katanya.

Barongsai bukan lagi sekadar warisan budaya. Kehadirannya menguatkan energi positif untuk saling menghargai, memperkuat harmoni, dan merawat persatuan dalam keberagaman.

Warga memadati halaman parkir untuk melihat pertunjukan pentas barongsai dan liong di dekat gedung Sri Ratu, Semarang, (8/2). Agenda rutin tahunan yang diselenggarakan oleh pihak Sri Ratu Semarang untuk menyemarakkan Imlek di Kota Semarang. (Gholib)

Makna Baru Panggung Barongsai

Atraksi barongsai tak cuma dipandang sebagai sekadar pertunjukan di ruang-ruang bernuansa tradisi Tionghoa. Panggung barongsai telah menjelma menjadi ruang perjumpaan lintas etnis, lintas agama, dan lintas generasi.

Dulu, pertunjukan barongsai identik dengan perayaan di lingkungan komunitas Tionghoa. Kini pemandangan yang terlihat jauh berbeda. Penonton yang paling antusias justru datang dari kalangan non-Tionghoa.  

"Untuk di beberapa mall tempat pertunjukan dimana kami tampil, justru para penonton yang sangat antusias dari kalangan non-Tionghoa," ujarnya. 

Menurut Herry, di beberapa pusat perbelanjaan tempat mereka tampil, justru penonton paling antusias berasal dari kalangan non-Tionghoa. Ini menjadi bukti, barongsai semakin diterima luas oleh berbagai lapisan masyarakat.

"Animo masyarakat terhadap pertunjukan barongsai selalu antusias di tiap tahunnya, bahkan cenderung bertambah, dilihat dari ada nya beberapa anak kecil yang ikut membawa barongsai kecil atau memakai celana barongsai pada saat menyaksikan pertunjukan barongsai,” jelasnya. 

Di sanalah barongsai menemukan makna barunya yang tak lagi bersekat, tidak lagi dipandang sebagai milik satu etnis atau perayaan satu komunitas, melainkan hadir sebagai pertunjukan budaya yang dirayakan bersama. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya