Pembangunan Bandara Baru di Dekat Machu Picchu Picu Dilema Antara Kebutuhan Ekonomi dan Konservasi

Rencana pembangunan bandara baru di dekat Machu Picchu sudah puluhan tahun tertunda akibat defisit pendanaan dan skandal korupsi.

oleh Dinny MutiahDiterbitkan 11 Februari 2026, 07:00 WIB
Machu Picchu, Peru, Amerika Selatan. Dok. Victor He, Unsplash

Liputan6.com, Jakarta - Machu Picchu di Peru akan memiliki bandara baru. Rencana pembangunan fasilitas yang akan memangkas waktu perjalanan ke Machu Picchu itu telah tertunda selama puluhan tahun akibat defisit pendanaan dan skandal korupsi.

Mengutip Euro News, Rabu (11/2/2026), Bandara Internasional Chinchero itu akan terletak di pingiran Chinchero, sebuah kota bersejarah di Andes yang memungkinkan wisatawan menghindari pemberhentian di Lima dan Cusco. Hal itu akan menghemat waktu perjalanan berjam-jam.

Bandara baru itu dirancang untuk menampung hingga delapan juta wisatawan setiap tahun dan dapat membawa 200 persen lebih banyak pengunjung ke daerah tersebut, menurut BBC. Lokasi konstruksi sejauh ini menunjukkan sedikit aktivitas, tetapi pihak berwenang kini telah mengumumkan bahwa bandara akan selesai pada akhir 2027.

Para pendukung memuji pengembangan peningkatan ekonomi yang akan dibawa oleh proyek ini ke wilayah yang kurang berkembang, mulai dari lapangan kerja konstruksi hingga akomodasi dan layanan wisata. Namun, masyarakat adat, arkeolog, dan konservasionis telah menyuarakan kekhawatiran sejak awal tentang risiko budaya dan lingkungan.

Machu Picchu selama ini menerapkan batasan kapasitas harian yang dikelola sistem pemesanan yang ketat karena kepadatan pengunjung. Para arkeolog mengingatkan bahwa lebih banyak pengunjung akan memberikan tekanan besar pada reruntuhan yang rapuh, demikian peringatan para arkeolog.

Para kritikus mengatakan pesawat akan terbang rendah di atas Ollantaytambo dan taman arkeologinya, yang berpotensi menyebabkan kerusakan permanen pada peninggalan Inca. Para penentang bandara juga menggarisbawahi bahaya yang ditimbulkan terhadap Lembah Suci di sekitarnya.

 

 

Ancam Warisan Pertanian Peninggalan Suku Inca

Pemandangan umum reruntuhan Inca kuno Machu Picchu untuk pertama kalinya setelah ditutup untuk umum, di atas lembah Urubamba, Peru, Rabu (15/2/2023). Rombongan turis pertama terlihat memasuki taman arkeologi pagi-pagi sekali, memanfaatkan hari cerah yang tidak biasa saat mereka mengunjungi berbagai situs dan kuil suci yang membentuk "llaqta" ("benteng" di Quechua). (Carolina Paucar / AFP)

Lanskap yang dulunya merupakan jantung kekaisaran terbesar di dunia pada abad ke-15 ini dipenuhi dengan jalan-jalan Inca, struktur, jaringan irigasi, dan tambang garam, banyak di antaranya masih digunakan. Lahan yang perlu dibersihkan untuk pembangunan secara langsung mengancam warisan ini.

"Ini adalah lanskap buatan; ada teras dan jalur yang dirancang oleh Inca," kata Natalia Majluf, seorang sejarawan seni Peru di Universitas Cambridge, kepada Guardian pada 2019. "Membangun bandara di sini akan menghancurkannya."

Tradisi pertanian dan lanskap alam juga terdampak, kata para konservasionis. Sejak bandara baru diumumkan, menurut BBC, keluarga petani jagung di sekitar Chinchero telah menjual lahan pertanian mereka. Lalu lintas penerbangan dan kendaraan ke bandara akan secara drastis mengubah karakter daerah tersebut, sementara hotel dan penginapan akan menggantikan warisan pertanian di sekitarnya.

Objek Wisata Terbesar di Peru

pemandangan dramatis dan misterius./copyright. pexels/

Kekhawatiran lain terkait pembangunan bandara itu adalah memperburuk kekurangan air dengan menguras daerah aliran sungai Danau Piuray, yang diandalkan kota Cusco untuk hampir setengah pasokan airnya. Sistem pengelolaan limbah juga sudah terbebani dan infrastruktur daur ulang tidak ada.

Machu Picchu adalah objek wisata terbesar di Peru; tempat ini menerima lebih dari 1,5 juta pengunjung pada 2024. Jumlah tersebut diperkirakan akan melonjak mulai tahun depan ketika bandara baru akan membuat akses ke benteng Inca kuno tersebut jauh lebih mudah.

Saat ini, para pelancong yang ingin melihat reruntuhan Machu Picchu abad ke-15 harus menempuh perjalanan yang panjang. Sebagian besar terbang ke bandara Lima, di ibu kota Peru, dan kemudian mengambil penerbangan domestik ke Cusco. Kemudian diperlukan kereta api atau bus ke Aguas Calientes (Kota Machu Picchu), diikuti dengan perjalanan bus selama 25 menit atau pendakian ke benteng tersebut.

Akses Darat ke Machu Picchu Berisiko Terhambat

Operator tur dan warga berdemonstrasi pada 25 Januari 2024 di rel kereta dekat Machu Picchu Pueblo menentang pembukaan penjualan tiket online ke reruntuhan benteng Inca. (Dok: AFP)

Sebagai alternatif, ada perjalanan pendakian selama empat hari melalui Andes. Perjalanan yang panjang merupakan bagian dari pengalaman bagi sebagian wisatawan, mengingat benteng tersebut sengaja dibangun tersembunyi di ketinggian di hutan awan Amazon.

Di sisi lain, perjalanan panjang itu juga dibayangi situasi lapangan yang tak menentu. Dalam beberapa kasus, wisatawan bisa terlunta-lunta karena aksi protes warga. 

Contohnya pada Januari 2024. Mengutip Travel and Tour World, Selasa, 30 Januari 2024, akses kereta api ke Machu Picchu diblokir karena warga setempat memprotes penerapan sistem tiket baru. Dua operator tur, pada hari Senin, mengonfirmasi bahwa jalur perjalanan tetap ditutup, sehingga tidak dapat mengunjungi situs bersejarah tersebut.

Dalam kasus berbeda, akses ke Machu Picchu bisa terganggu karena kecelakaan fatal, seperti yang terjadi pada 30 Desember 2025. Dua kereta yang menuju kawasan wisata Machu Picchu, Peru, bertabrakan pada Selasa siang waktu setempat dan menewaskan satu masinis dan melukai sedikitnya 40 penumpang, termasuk wisatawan lokal dan mancanegara.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya