Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan transportasi online Grab dan pembayaran digital OVO ikut melaksanakan program makan bergizi gratis (MBG) swasta. Kedua perusahaan meninjau pelaksanaan program berbasis tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) tersebut di SKH Assalam 1 dan 2, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan, Selasa (10/2/2026).
Grab dan OVO bekerja sama dengan Yayasan Inklusi Pelita Bangsa (YIPB), untuk penyediaan MBG bagi para siswa sekolah berkebutuhan khusus di wilayah Tangerang raya.
Advertisement
Di SKH Assalam 01, ada puluhan siswa berstatus tuna rungu. MBG disediakan pada saat jam istirahat tiba, di mana satu persatu siswa mendapatkan hak makannya yang terdiri dari lauk telur kukus, ayam tumis sayur, nasi, buah jeruk dan susu kemasan.
"Memang khusus sekolah inklusi ini sangat ketat penyajiannya, selain memang harus memperhatikan nilai gizi dan kalori untuk anak, mereka juga tidak boleh adanya gluten, sedikit sekali penggunaan MSG ataupun makanan olahan yang dibekukan," kata Chief of Public Affairs Grab Indonesia Tirza Munusamy kepada wartawan di lokasi.
Untuk itu, Grab dan Ovo bekerja sama dengan pelaku UMKM yang sudah diseleksi sebelumnya, dalam hal penyediaan MBG tiap harinya untuk para siswa berkebutuhan khusus ini.
"Kami sejak tahun lalu sudah bergerak menyediakan MBG, total itu ada di 40-an sekolah, total ada sekitar 4.500 an siswa, itu di Tangerang raya saja, jadi meliputi Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang,"ujar Tirza.
Untuk tahun 2026 ini, Grab dan OVO berencana akan terus melanjutkan program tersebut, untuk tetap bisa memberikan makanan bergizi dan enak, yang bisa dinikmati siswa-siswa inklusi.
MBG Dimasak Setiap Pagi
Saat mengunjungi salah satu dapur UMKM Omah Kulina yang menyediakan menu MBG hasil Kerja sama dengan Grab dan OVO, sang pemilik, Sherly mengaku seluruh proses memasaknya dilakukan di pagi hari.
"Sekitar jam 5.30 WIB pagi kita mulai masak, selesai sekitar jam 7.30 WIB, di kemas, jam 8 pagi sudah siap diantar dengan driver Grab yang memang dikhususkan mengantar menu MBG. Sehingga, kalau disantap sekitar jam 10 pagi, masih fresh," tuturnya.
Meski tidak dalam jumlah ribuan porsi, Sherly mengaku setiap paginya secara marathon, dia harus menyiapkan sekitar 140 hingga 150 porsi MBG khusus untuk siswa inklusi. Sehingga, diperhatikan benar apa saja kandungannya, takaran gizi dan kalori dan wajib tidak mengandung gluten.
"Kami pun diawasi dan dibimbing, ada petugas Dinkes setempat juga yang control setiap minggu," pungkasnya.