Liputan6.com, Jakarta - Menkes Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa bukan cuma pasien cuci darah atau pasien gagal ginjal yang terdampak dari penonaktifan Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan. Dari 11 juta peserta PBI yang dinonaktifkan, 120.472 diantaranya menderita penyakit katastropik atau penyakit kronis dengan risiko komplikasi tinggi yang mengancam nyawa.
Budi mengatakan pasien-pasien dengan penyakit katastropik itu bila pengobatan berhenti maka bisa fatal akibatnya. Dari data yang ia miliki ada 12.262 pasien gagal ginjal yang dinonaktifkan dari peserta PBI BPJS Kesehatan.
Advertisement
"Pasien cuci darah ini seminggu 2-3 kali harus cuci darah di rumah sakit. Kalau dia missed, bisa fatal," tutur Budi dalam rapat bersama DPR pada Senin, 9 Februari 2026.
Begitu juga dengan pasien penyakit kanker yang ada 16.804 peserta PBI yang dinonaktifkan. Pasien kanker itu salah satu terapi adalah kemoterapi yang bisa dilakukan 2-3 kali seminggu.
"Kalau (pengobatan) berhenti bisa wafat," tutur Budi.
Begitu juga dengan pasien dengan penyakit jantung yang perlu mengonsumsi obat setiap hari. "Kalau diberhentikan bisa wafat," tutur Budi.
Sehingga, bukan hanya pasien cuci darah yang bisa berdampak bila tidak mendapatkan penanganan. Penyakit katastropik lain pun bisa mengancam nyawa bila tidak mendapatkan penanganan.
"Kalau berhenti, ini bisa menyebabkan kematian," kata Budi.
Usulkan Reaktivasi 3 Bulan
Dalam rapat tersebut Budi mengusulkan agar Kementerian Sosial mengeluarkan SK Mensos terkait reaktivasi otomatis bagi pasien penyakit katastropik. Ia berharap dalam 1 hingga 3 bulan ke depan diterbitkan SK Mensos terkait reaktivasi otomatis bagi pasien penyakit katastropik
Dengan mekanisme ini, menurutnya, pasien tidak perlu datang ke fasilitas kesehatan atau mengurus administrasi. Status PBI mereka akan diaktifkan kembali secara otomatis oleh pemerintah, sehingga tidak ada keraguan dari rumah sakit maupun pasien untuk melanjutkan pengobatan.
"Reaktivasi otomatis, jadi tidak perlu datang ke faskes tapi oleh pemerintah. Sehingga RS tidak ada keraguan dan masyarakat juga tidak ragu," kata Budi.